Mata Anindita terbuka perlahan. Sisa-sisa kegelapan malam, yang seolah menelan bayangannya sendiri, masih terasa menusuk. Semalam, dia tertidur dengan sisa air mata di pipi, memeluk harapan yang hancur. Pagi ini, yang menyambutnya bukan lagi sepercik asa, melainkan keheningan vila yang terlalu megah, dipecah oleh satu-satunya suara yang kini menjadi soundtrack hidupnya: ketukan jemari Piter di atas keyboard.
Piter sudah bangun. Sudah duduk di meja kerja sudut vila, tempat yang seharusnya menjadi surga, kini berubah jadi kantor. Layar laptopnya menyala, memantulkan cahaya biru di wajah kaku Piter. Obrolan zoom call terdengar samar, suara-suara serius dan logis yang jauh dari kehangatan. Anindita menatap sosok itu. Tubuhnya yang atletis, pikirannya yang brilian, tapi jiwanya... terbuat dari apa, sih, pria ini?
Dia menghela napas, berat. Itinerary bulan madu yang Piter susun masih terlipat di bawah bantal. Setiap poin terasa seperti tikaman baru di hati Anindita. Sarapan nutrisi tinggi. Sesi brainstorming WMC. Snorkeling terprogram. Waktu kerja Piter. Tidak ada ruang untuk bersama, untuk kita. Hanya ada garis-garis pembatas yang tegas, memisahkan dunia Piter dari dunianya.
Anindita bangkit dari tempat tidur, melangkah pelan agar tidak mengganggu Piter. Dia melihat jam digital di nakas. Pukul 08.15. Sarapan nutrisi tinggi telah lewat lima belas menit dari jadwal Piter. Apakah pria itu peduli? Tentu saja tidak. Prioritasnya adalah rapat virtual, bukan mengisi perut istri yang ia anggap 'variabel pendukung'.
Dia membuka koper, mengambil baju renang berwarna biru laut yang belum tersentuh. Sepatu jepit, topi pantai. Perlengkapan untuk pergi ke surga, sendiri. Baiklah, pikirnya, keputusasaan bercampur tekad. Kalau Piter mau berbulan madu dengan pekerjaannya, aku akan berbulan madu dengan diriku sendiri.
Anindita keluar dari vila, menyusuri jalan setapak berpasir putih. Sinar matahari pagi terasa hangat di kulitnya, seolah memeluk. Aroma laut, keheningan ombak yang berirama, dan semilir angin yang memainkan rambutnya. Ini adalah paradise. Ini adalah surga yang dia impikan. Hanya saja, dia mengarunginya sendirian.
Dia menemukan kursi panjang kosong di tepi pantai yang paling sepi. Meletakkan handuk, membuka topi, lalu membiarkan kakinya menyentuh air laut yang jernih. Dingin, lalu hangat. Seperti perasaannya pada Piter. Awalnya dingin dan beku, lalu kemarin malam, ada sepercik kehangatan yang menjanjikan, sebelum hancur kembali.
"Apa gunanya semua keindahan ini kalau tidak ada yang bisa kubagi?"
Anindita menatap pasangan-pasangan lain di kejauhan. Mereka tertawa, berpegangan tangan, mengambil foto selfie dengan latar belakang lautan. Di sana, kebahagiaan terasa nyata, organik, tidak terprogram. Dia membayangkan dirinya dan Piter seperti itu. Mustahil. Piter mungkin akan menghitung sudut terbaik untuk foto, memastikan exposure wajahnya sempurna, lalu kembali ke laporan WMC di ponselnya.
Dia mengeluarkan buku sketsanya, mulai menggambar pemandangan di depannya. Sebuah perahu nelayan kecil, pohon kelapa yang melambai, dan seorang wanita yang duduk sendirian di tepi pantai. Wanita itu adalah dirinya, dengan punggung yang terlihat rapuh. Dia memberi sedikit warna biru pada air mata di mata wanita itu. Sebuah detail kecil yang hanya dia sendiri yang tahu maknanya.
*
Pukul 12.00. Sesuai itinerary Piter: makan siang efisien di beach club.
Anindita kembali ke vila, mengganti pakaiannya. Dia melihat Piter masih di meja kerjanya, kini berbicara di telepon dengan serius. Wajahnya tegang, alisnya bertaut. Bahkan dari kejauhan, Anindita bisa merasakan aura urgensi yang menguar dari pria itu.
Dia duduk di meja makan yang sudah disiapkan di teras vila. Staf resor meletakkan hidangan di hadapannya. Sebuah piring seafood panggang yang ditata artistik, dua gelas jus jeruk segar, dan sebotol anggur putih. Makan siang romantis, untuk dua orang. Hanya saja, satu kursi kosong.
Anindita menatap kursi kosong di hadapannya. Sedikit nyeri menusuk. Piter telah memesan ini. Melalui asistennya, mungkin. Tapi dia tetap memesannya. Apakah ada sedikit niat untuk menemaninya? Atau hanya untuk mencentang kotak "Makan Siang Romantis" dari daftarnya?
"Maaf, Nyonya Wijaya," suara pelayan membuyarkan lamunannya. "Dokter Piter menelepon. Ada panggilan darurat dari rumah sakit. Beliau meminta Anda untuk menikmati makan siang duluan. Beliau akan menyusul jika ada waktu."
Kata-kata itu terasa seperti palu yang menghantam hatinya. "Jika ada waktu." Kapan Piter Wijaya pernah punya waktu untuk hal lain selain pekerjaannya?
Anindita mengangguk, mencoba tersenyum pada pelayan. "Tidak apa-apa. Saya mengerti. Terima kasih."
Dia mulai makan, tetapi setiap suapan terasa hambar. Udang yang seharusnya manis, ikan yang seharusnya gurih, semuanya kehilangan rasa. Dia melihat pasangan lain yang sedang makan di sekitar beach club. Seorang pria menyuapi istrinya dengan potongan buah. Seorang wanita tertawa riang saat suaminya mengusap sisa saus di sudut bibirnya.
Anindita merasakan air matanya menggenang lagi. Bulan madu seharusnya menjadi momen terindah. Tapi baginya, ini adalah ujian kesendirian. Piter memang di sini, di vila yang sama, di pulau yang sama, tapi dia sejauh bintang yang tidak bisa diukur.
Dia mencicipi anggur putihnya. Dingin, tapi tidak bisa memadamkan api kekecewaan yang membakar di dadanya. Dia membiarkan tatapannya mengembara, mencari apa saja yang bisa mengalihkan perhatiannya dari kursi kosong itu. Kolam renang pribadi yang berkilauan. Pohon kelapa yang melambai. Laut yang luas. Semuanya indah, tapi terasa hampa.