Resep Hati Sang Dokter Logika

Brigitta Diara
Chapter #10

BAB 10 Kebahagiaan atau Efisiensi?

Lantai dingin menggerogoti sisa kehangatan Anindita. Air mata sudah kering di pipi, menyisakan jejak asin yang perih. Dia masih berjongkok, memeluk lutut di sudut kamar yang dikunci dari dalam. Dunia luar berteriak kebahagiaan palsu, tapi di sini, yang ada cuma suara ombak yang menghantam karang, persis seperti hatinya yang dihantam kenyataan. Piter, suaminya, pasti sudah kembali ke laptopnya, ke dunia data yang tak pernah peduli pada tetesan air mata.

Sebuah ketukan pelan di pintu.

"Anindita? Kau baik-baik saja?" Suara Piter. Datar, kaku. Seperti membaca diagnosis. Bukan pertanyaan yang tulus.

Anindita tak menjawab. Dia tak punya tenaga. Dia tahu, pertanyaan itu bukan karena peduli, tapi karena Piter tak suka anomali dalam jadwalnya. Istrinya menangis? Itu pasti mengganggu efisiensi bulan madu yang sudah diprogram.

Hening lagi. Anindita mendengar langkah Piter menjauh. Lalu, suara ketukan keyboard kembali terdengar samar dari ruang tengah. Tentu saja. Dia memejamkan mata, membiarkan sakitnya merayap. Dia tak tahu harus bertahan sampai kapan.

Pagi datang lagi, membawa serta cahaya yang kejam. Anindita terbangun di lantai, punggungnya pegal. Dia melirik jam digital di nakas. Pukul 08.00. Sesuai itinerary Piter, hari ini ada "Snorkeling terprogram di area konservasi terumbu karang (untuk memaksimalkan eksplorasi biota laut)". Anindita mendengus. Maksimalisasi eksplorasi. Ya, ampun.

Dia bangkit, meregangkan tubuh yang kaku. Piter sudah pasti siap. Mungkin dia sudah menghitung berapa banyak spesies ikan yang akan dia temukan. Piter adalah pria yang, bahkan saat menyelam di bawah laut, akan mencari data, bukan keindahan.

Namun, di tengah semua kepahitan, ada sepercik harapan yang enggan padam. Mungkin, hanya mungkin, di dalam air, Piter akan berbeda? Tanpa ponsel, tanpa laptop, mungkin dia akan menjadi manusia seutuhnya? Air selalu punya cara untuk melarutkan segalanya, kan?

Anindita mengambil pakaian renang lamanya. Yang berwarna oranye cerah, kontras dengan jiwa Piter yang monokrom. Dia mengenakan kacamata renang, mengecek tabir surya. Sedikit sentuhan gincu bibir berwarna merah, ia ingin Piter terkejut hari ini. Dia akan mencoba lagi. Sekali lagi. Demi sepercik kehangatan yang, dia tahu, mungkin tak pernah ada.

Dia keluar dari kamar, menuju area makan di teras. Piter sudah duduk, memindai koran digital di tabletnya sambil menyesap kopi. Sebuah piring buah-buahan tropis sudah tersedia. Aroma kopi berpadu dengan wangi laut. Pagi itu terasa... nyaris sempurna. Jika saja ada tawa, ada obrolan.

"Kau sudah siap?" Piter bertanya tanpa mendongak, matanya masih fokus pada layar. Suaranya datar.

Anindita duduk di seberangnya. "Ya."

"Bagus. Perahu akan datang pukul 09.30. Pastikan kita tidak terlambat. Aku sudah menyewa pemandu lokal yang sangat menguasai geografi bawah laut di area konservasi," ucap Piter. "Dia punya data valid tentang populasi biota laut di sana."

Anindita hanya mengangguk. Data. Selalu data. Harapan kecil itu kembali menciut.

*

Perahu motor kecil membawa mereka ke tengah laut, di mana airnya sejernih kristal. Dari atas, Anindita bisa melihat gugusan terumbu karang berwarna-warni di dasar laut. Beberapa ikan kecil berenang di antara karang, seolah menyambut. Sebuah pemandangan yang memukau.

Piter duduk tegak di sampingnya, memindai peta navigasi digital di jam tangan pintarnya. Tidak ada tatapan kagum pada keindahan di sekeliling. Hanya fokus pada koordinat dan titik-titik lokasi.

"Ini adalah area zona lima," jelas Piter pada Anindita, nadanya seperti seorang profesor yang memberi kuliah. "Kepadatan terumbu karang di sini mencapai 78% dari kondisi optimal. Jika kita menuju ke barat daya, kita bisa menemukan area zona tiga, tempat populasi clownfish meningkat signifikan karena inisiatif konservasi dua tahun lalu."

Anindita hanya menatap Piter. Wanita ini hanya ingin melihat Piter yang bukan seorang dokter saat ini, wanita ini hanya ingin melihat Piter yang menjadi manusia seutuhnya. Apakah dia pernah melihat sesuatu hanya karena indah, bukan karena data atau efisiensi?

"Piter, lihat ke sana," Anindita menunjuk ke arah sekumpulan burung laut yang terbang rendah di atas air. "Indah sekali, kan?"

Piter melirik sekilas, lalu kembali ke jam tangannya. "Secara biologis, mereka sedang mencari makan. Efisiensi energi untuk reproduksi."

Lihat selengkapnya