Resep Hati Sang Dokter Logika

Brigitta Diara
Chapter #11

BAB 11 Titik Puncak Amarah Senyap

Piter terdiam di kursinya. Dia menatap pintu kamar Anindita yang tertutup. Kenapa dia begitu marah? Bukankah ia sudah melakukan semua hal yang 'benar'? Bukankah snorkeling tadi menyenangkan? Pikirannya berputar, mencoba menganalisis variabel yang baru saja membuatnya kehilangan kendali. Namun, seperti biasa, tidak ada data yang bisa menjelaskan anomali emosional Anindita. Dia merasa bingung. Sangat bingung.

Dia menghela napas, sebuah suara berat yang jarang keluar dari paru-parunya. Jemarinya secara otomatis bergerak ke laptop, mencoba mencari artikel ilmiah tentang "psikologi konflik interpersonal dalam pernikahan." Logikanya berteriak, bahwa pasti ada protokol yang bisa dia ikuti untuk mengatasi situasi ini. Ada diagram alur untuk setiap masalah. Kenapa ini berbeda?

Piter menatap lagi pintu kamar Anindita. Keheningan itu terasa lebih berat daripada ruang operasi sebelum insisi pertama. Dia merasa ada yang salah, ada perhitungan yang meleset, tetapi dia tidak tahu di mana error-nya. Anindita menolak argumen tentang efisiensi, menolak data biologis, bahkan menolak kenyataan bahwa snorkeling itu "menyenangkan". Dia bilang dia butuh Piter melihatnya sebagai istri. Apa itu istri dalam konteks yang Anindita maksud? Bukan istri secara legal, bukan istri sebagai partner bisnis, bukan istri sebagai "aset keluarga". Piter tidak punya definisi untuk itu.

Rasa lapar mulai melanda, mengingatkan bahwa jadwal makan malam yang seharusnya romantis di tepi pantai sudah mendekat. Piter melihat jam tangannya. Pukul 18.00. Sesuai itinerary : makan malam formal di restoran fine dining. Dia sudah memesan meja terbaik, dekat dengan air, dengan pemandangan matahari terbenam yang diklaim sebagai salah satu yang terindah di dunia. Sebuah detail yang dia tambahkan untuk menyenangkan Anindita, setelah dia menganalisis bahwa wanita itu menyukai hal-hal estetik.

Dia berdiri, merapikan kausnya yang sedikit kusut. Piter memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Anindita lagi. Dia harus mengelola situasi ini. Konflik yang tidak terselesaikan adalah inefisiensi.

Ketukan pelan. "Anindita? Sudah waktunya makan malam."

Tidak ada jawaban. Piter mengetuk lagi, sedikit lebih keras. "Anindita, jangan lupa jadwal makan malam. Kita tidak boleh terlambat. Meja sudah dipesan."

Hening. Piter mengernyit. Perilaku apa ini? Apakah dia sedang melakukan sabotase emosional terhadap jadwalnya?

Piter mencoba memutar kenop pintu. Terkunci. Dia mengunci diri? Untuk apa? Piter tidak punya waktu untuk drama. Dia menghela napas, lalu berjalan ke area sofa, meraih blazer yang sudah dia siapkan. Dia duduk di sofa, menunggu. Sepuluh menit. Lima belas menit.

Pukul 18.30. Piter berdiri lagi. Dia tidak bisa menunggu lebih lama. Dia punya jadwal. Dia punya restoran yang menanti. Dia punya efisiensi.

"Anindita," panggil Piter, suaranya lebih keras, ada sedikit nada frustrasi yang terselip. "Jika kau tidak keluar, aku akan makan malam sendirian."

Masih tidak ada jawaban. Piter menghela napas. Baik. Jika itu yang dia inginkan. Piter Wijaya tidak pernah membiarkan orang lain mengganggu jadwalnya. Bukan dulu, bukan sekarang.

Dia berjalan keluar dari vila, meninggalkan kamar yang terkunci dan keheningan yang menyengat di belakangnya. Dia berjalan menuju jalan setapak berpasir, lalu naik ke buggy golf yang sudah menunggunya.

***

Restoran fine dining itu memang indah. Lampu-lampu temaram, suara ombak yang lembut, dan meja-meja yang tertata apik di tepi pantai. Matahari sudah terbenam sempurna, menyisakan jejak ungu dan oranye di horizon. Langit bertabur bintang, jauh lebih banyak daripada yang terlihat dari Jakarta.

Piter duduk di meja untuk dua orang. Hanya dia sendiri. Pelayan segera datang, membungkuk hormat. "Dokter Piter, Nyonya Wijaya tidak jadi datang?"

"Ada sedikit... penyesuaian jadwal," jawab Piter datar. Penyesuaian jadwal adalah kode untuk "istri saya sedang melakukan anomali perilaku yang tidak saya pahami."

Pelayan itu mengangguk, lalu menyajikan menu. Piter membaca daftar hidangan. Dia memesan steak medium-rare, sayuran kukus, dan air mineral. Pilihan yang paling efisien untuk asupan protein dan vitamin.

Dia makan dalam keheningan yang janggal. Di sekelilingnya, pasangan-pasangan lain tertawa, bersulang, saling menyuapi. Piter melihat mereka, otaknya secara otomatis menganalisis: Ekspresi kebahagiaan 80%, interaksi sosial yang hangat 90%, kadar dopamin meningkat 70%. Data yang tidak ia miliki.

Piter mencoba mengabaikan itu semua. Dia fokus pada makanannya. Setiap kunyahan terhitung, setiap tegukan air direncanakan. Dia makan untuk bertahan hidup, bukan untuk menikmati.

Di tengah makan malam, ponselnya bergetar. Rendy. Piter tidak mengangkatnya. Biarkan Rendy menghadapi dulu. Dia sudah mendelegasikan, tapi tangannya terasa gatal. Ada urgensi yang menggerogoti.

Dia menyelesaikan makan malamnya dengan cepat. Lalu meminta tagihan. Tidak ada kopi, tidak ada dessert. Tidak ada waktu untuk hal-hal yang tidak esensial. Dia harus segera kembali ke vila, dia harus segera mengecek email dari Rendy.

Lihat selengkapnya