Resep Hati Sang Dokter Logika

Brigitta Diara
Chapter #12

BAB 12 Refleksi di Tengah Badai (Mental)

Piter masih berdiri terpaku di ruang tengah, kakinya terasa seperti berakar ke lantai marmer yang dingin. Keheningan vila menekan, lebih berat dari beban harapan yang Anindita bawa di hari pernikahan mereka. Wanita itu telah menghilang, membawa serta serpihan hatinya yang retak, meninggalkan Piter dalam kebingungan yang tak bisa diukur oleh alat medis mana pun. Anomali. Kegagalan sistem. Kata-kata itu berputar-putar di benaknya, bukan lagi sebagai diagnosis, melainkan sebagai sebuah kutukan.

Suara gemuruh datang dari kejauhan, pelan pada awalnya, lalu semakin membesar. Hujan mulai turun. Rintik-rintik tebal menghantam atap dan jendela, menciptakan melodi muram yang sempurna untuk suasana hatinya yang hancur. Alam seolah bersekongkol, ikut meratapi apa yang baru saja terjadi. Piter berbalik, melangkah gontai menuju teras, tempat yang sebelumnya penuh dengan tawa Anindita yang singkat, kini hanya dihuni oleh kesunyian yang menusuk.

Dia duduk di kursi rotan, membiarkan angin dingin dan tetesan air membasahi kulitnya. Pikirannya kosong. Terlalu banyak data yang bertabrakan. Terlalu banyak variabel yang tidak bisa dia masukkan ke dalam algoritmanya. "Apa yang salah?" Pertanyaan itu menggema, berulang kali, tanpa jawaban.

Piter menarik napas panjang, mengeluarkan itinerary bulan madu yang dia susun dengan presisi militer. Dia menatap daftar itu di bawah cahaya remang-remang dari lampu teras.

08.00-09.00: Sarapan nutrisi tinggi.

09.00-11.00: Sesi brainstorming WMC (Piter) / Waktu luang (Anindita).

11.00-12.00: Snorkeling terprogram di area konservasi terumbu karang.

12.00-13.00: Makan siang efisien di beach club.

13.00-17.00: Waktu kerja Piter / Kelas melukis lokal (Anindita).

17.00-18.00: Spa treatment (opsional).

18.00-19.00: Makan malam formal di restoran fine dining.

19.00-selesai: Peninjauan ulang data WMC (Piter) / Waktu luang (Anindita).

Dia membaca setiap poin, mencari celah. Sarapan? Aku sudah memesankan untuknya. Waktu luang? Aku sudah memberikannya. Snorkeling? Dia bilang "indah". Makan siang romantis? Aku memesan, meskipun tidak bisa hadir karena panggilan darurat. Makan malam? Aku menunggunya.

Bukankah snorkeling tadi menyenangkan? Kau bilang sendiri itu 'indah'. Kalimat itu kembali terngiang, menusuknya seperti belati. Anindita menatapnya dengan pandangan kosong saat itu, ada kelelahan yang nyata di matanya. Piter selalu menganggap itu sebagai "adaptasi" atau "kepatuhan", tapi sekarang, dia tahu itu adalah tanda dari sebuah kehancuran yang tak terucapkan.

Dia menutup itinerary itu, meletakkannya di samping, tak berguna. Piter mengingat kata-kata Anindita di ruang tengah, setiap kata menusuk telinganya.

"Semua yang kau lakukan, Piter... itu semua hanya akting, kan? Demi citra WMC! Demi efisiensi! Demi bonus saham dari ayahmu!"

Lihat selengkapnya