Tiba-tiba, di kejauhan, sebuah suara memekakkan telinga memecah badai malam. Sirine ambulans. Melolong panjang, makin lama makin mendekat. Suara khas darurat yang selalu mengirimkan adrenalin ke setiap sel tubuh Piter. Piter membuka mata. Seketika, kebingungan dan frustrasi yang tadi mencengkeramnya tergantikan oleh insting. Respon. Cepat. Analisis. Sirine itu bukan lagi suara alam, melainkan panggilan tugas.
Anindita di kamarnya juga mendengar. Kepalanya terangkat dari bantal. Air mata masih membasahi pipi, tapi suara itu... suara itu seperti alarm yang membangunkannya dari mimpi buruk. "Apa yang terjadi? Tidak ada alasan untuk peduli," pikirnya. Piter tidak peduli padanya, tapi suara itu, entah mengapa, membangkitkan rasa ingin tahu yang lebih kuat dari rasa sakit hatinya.
Piter beranjak dari kursi rotan di teras. Gerakannya berubah, dari gontai menjadi sigap. Dia menyentuh earpiece di telinganya, yang selalu ia kenakan meskipun sedang berlibur, menjaga koneksi ke WMC atau situasi darurat lain. "Ada apa?" tanyanya, suaranya kembali datar dan penuh otoritas.
"Dokter Piter! Ada insiden di area kolam utama! Seorang turis jatuh, cedera kepala parah, dan sepertinya ada pendarahan internal! Ambulans resor sudah di lokasi tapi mereka butuh bantuan medis darurat!" suara dari earpiece itu terdengar panik.
"Di mana dari posisiku?" Piter bertanya, matanya menyapu sekeliling vila, otaknya memetakan rute tercepat. "Jarak ke kolam utama?"
"Sekitar dua ratus meter dari vila Anda, Dokter! Cepat!"
Piter segera berlari. Tidak ada lagi jejak suami yang bingung, yang tak berdaya. Yang ada hanyalah Dokter Piter Wijaya, ahli bedah saraf, CEO yang terlatih untuk krisis. Jasnya yang basah kuyup karena hujan dan berantakan karena pertengkaran tadi, tidak ia hiraukan. Sepatunya yang kotor karena pasir tidak menjadi masalah. Fokusnya kini hanya satu: menyelamatkan nyawa.
Anindita, mendengar kegaduhan dan melihat Piter berlari, juga bangkit. Rasa lelahnya, rasa sakit hatinya, sejenak terlupakan. Dia berjalan ke pintu kamar, membukanya. Hujan sudah reda, menyisakan udara lembap dan bau tanah basah. Dia melihat punggung Piter yang menjauh, berlari dengan kecepatan seorang atlet. Dia serius.
Kerumunan orang sudah terbentuk di sekitar kolam utama. Suara panik, tangisan, dan raungan sirine ambulans memenuhi udara. Anindita melangkah lebih cepat, rasa penasaran menyeretnya. Dia tiba di tepian kerumunan, menembus celah-celah tubuh-tubuh yang tegang.
Di sana, di tengah keramaian, seorang turis terbaring di samping kolam, darah menggenang di sekitar kepalanya. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal. Para staf medis resor tampak kewalahan, mencoba menghentikan pendarahan. Kepanikan terlihat jelas di mata mereka.
Lalu Piter tiba.