"Piter yang mana yang harus kupercayai?" Pertanyaan itu menggema, memuntahkan kebingungan di setiap sudut batin Anindita.
Dia menunggu, membiarkan kakinya terasa beku di lantai dingin. Haruskah dia mengejar? Haruskah dia bertanya? Apa gunanya? Piter sudah kembali ke dunianya, ke laptopnya, ke angka-angka dan data yang lebih penting dari perasaannya. Namun, ada sesuatu yang menahannya. Kilat di mata Piter saat menangani pasien, ketegasan suaranya yang memecah kepanikan. Itu bukan akting. Itu adalah Piter yang sesungguhnya. Dan itu... mengagumkan.
Beberapa menit berlalu. Anindita perlahan melangkah, mengikuti jejak Piter, tetapi tetap menjaga jarak. Dia masuk ke dalam vila. Suasana kembali hening, kecuali suara rintik air dari dedaunan di luar dan samar-samar, suara ketukan keyboard dari meja kerja Piter. Pria itu sudah di sana, kembali ke singgasananya, dikelilingi layar dan kabel, menyendiri.
Anindita tidak langsung masuk ke kamar. Dia duduk di sofa rotan di ruang tengah, pura-pura membaca majalah lifestyle yang tergeletak di meja. Namun, matanya tak fokus. Setiap helaan napas Piter, setiap ketukan jemarinya, terasa seperti data yang sedang dia kumpulkan tentang pria itu.
Piter terduduk di tepi kolam renang yang dingin, keringat masih bercucuran di pelipis dan dadanya yang telanjang. Kemeja linennya yang basah tadi sudah ia tanggalkan, menyisakan celana pendek yang kusut. Wajahnya tegang, alisnya bertaut dalam garis lurus yang tajam. Dia terus-menerus memeriksa ponselnya, seperti seorang prajurit yang menunggu laporan dari medan perang.
Dari balik tirai tipis yang memisahkan ruang tengah dengan teras, Anindita mengamati. Piter tidak lagi tegap, tidak lagi penuh otoritas seperti tadi di kolam. Dia tampak... lelah. Bahunya sedikit melengkung, dan ada beban tak kasat mata yang menimpanya. Sebuah sisi Piter yang belum pernah Anindita lihat. Sisi manusia, bukan robot.
Ponsel Piter berdering. Nama Rendy muncul di layar. Piter segera mengangkatnya, suaranya pelan dan serius.
"Rendy, bagaimana kondisi pasien?" Piter bertanya, nadanya mendesak. "Apa sudah sampai di rumah sakit lokal? Hasil scan-nya bagaimana? Ada pergeseran midline? Pupilnya bagaimana sekarang?"
Anindita menahan napas. Piter bicara dengan kecepatan luar biasa, setiap kata adalah istilah medis rumit yang tak Anindita pahami, tapi ada sesuatu di balik nada dingin itu. Kekhawatiran. Bukan hanya soal data pasien, bukan hanya soal prosedur. Ini adalah... beban.
"Sudah sampai, Dok. Kondisinya masih kritis. Tim lokal sedang stabilisasi. CT-scan menunjukkan hematoma subdural lumayan besar, dengan sedikit mass effect," jawab Rendy dari seberang telepon, suaranya terdengar cemas. "Mereka khawatir kalau tidak segera dioperasi, prognosisnya buruk, Dok."
Piter terdiam sejenak. Anindita melihat rahang Piter mengeras, matanya menatap kosong ke lautan gelap di depannya. Tidak ada grafik di layar. Tidak ada angka yang bisa dia analisis. Hanya berita tentang hidup seseorang yang terancam.
"Kirimkan semua hasil scan dan data vitalnya ke server WMC sekarang juga," perintah Piter, suaranya sedikit bergetar, hampir tidak terasa. "Aku akan meninjaunya dari sini. Siapkan tim evakuasi jika memungkinkan. Koordinasikan dengan pihak resor dan kedutaan. Kita butuh transportasi udara medis sesegera mungkin."