Pagi menjelang, membawa serta sinar matahari yang tipis menembus celah gorden di vila. Suara ketukan keyboard Piter terdengar lagi, monoton, dari balik pintu tertutup kamar kerjanya. Anindita menghela napas. Piter sudah berada di sana sejak fajar menyingsing, sibuk dengan dunianya, dunia yang tidak mengizinkan Anindita masuk.
Anindita bangkit, kakinya terasa kaku. Dia melangkah perlahan ke arah pintu kamar kerja Piter. Tidak terbuka. Dia mendengar Piter berbicara di telepon, suaranya pelan tapi penuh ketegangan. Ada kata-kata seperti "prognosis", "intervensi", dan "risiko". Kata-kata yang Piter gunakan untuk menyelamatkan nyawa, bukan untuk berinteraksi dengan istrinya.
Dia memperhatikan Piter dari celah tipis di gorden. Piter duduk di meja kerjanya, hanya mengenakan kaus polos berwarna abu-abu, jauh dari citra CEO kaku yang biasanya. Rambutnya sedikit berantakan, dan matanya menatap tajam ke layar laptop. Ada cangkir kopi dingin di sampingnya, dengan sisa ampas yang mengering di dasarnya. Piter terlihat... manusia. Terlihat begitu rentan, meskipun dia adalah seorang ahli bedah saraf yang brilian. Dia terlihat seperti pria yang sedang berperang melawan sesuatu yang tak terlihat.
Anindita menggigit bibir. Dia pasti belum makan. Dia pasti belum istirahat. Otaknya bekerja terlalu keras, hatinya terasa sakit melihat pria itu begitu gelisah dan terbebani. Ada desakan aneh di dalam dirinya. Desakan untuk membantu, untuk menghibur, tapi bagaimana? Anindita adalah seniman, bukan dokter. Kata-katanya selalu ditolak mentah-mentah oleh Piter. Sentuhannya mungkin akan dianggap sebagai "gangguan". Dia merasa tak berdaya.
Anindita teringat percakapan Piter dengan Rendy semalam. Piter berteriak, "Aku tidak peduli biaya! Ini tentang nyawa seseorang! Aku tidak mau ada darah di tanganku hanya karena alasan efisiensi sialan itu!" Suara itu, kemarahan yang begitu murni, begitu manusiawi, masih terngiang jelas. Itu bukan Piter yang Anindita kenal. Itu adalah Piter yang peduli. Piter yang memperjuangkan kebenaran. Piter yang, mungkin, punya hati.
Dia lelah. Dia butuh sesuatu untuk menghangatkan jiwanya yang dingin. Anindita berpikir. Otaknya mulai merangkai ide, sebuah cara yang bukan lewat kata-kata, bukan lewat data, tapi lewat bahasa yang universal: perhatian.
Dia berjalan ke dapur kecil di vila. Membuka lemari, mencari-cari. Ada teh. Teh herbal, teh hijau, teh melati. Lalu matanya jatuh pada sekotak teh jahe, hadiah dari staf resor saat kedatangan mereka. Aroma jahe yang pedas dan hangat. "Ini dia."
Anindita mengambil ketel air, mengisinya, lalu menyalakannya. Sambil menunggu air mendidih, ia mengeluarkan jahe segar dari kulkas. Jemarinya yang biasanya cekatan memegang kuas, kini memegang pisau, mengiris jahe tipis-tipis. Aroma pedas jahe mulai memenuhi dapur, bercampur dengan aroma kopi dingin dan laut yang asin. Dia mencoba fokus pada setiap gerakan, pada setiap detail kecil. Menghirup aroma jahe yang menenangkan, seolah itu bisa meredakan badai di hatinya sendiri.
Air mendidih. Anindita meracik teh jahe itu ke dalam cangkir keramik, menambahkan sedikit madu dan seiris lemon, seperti yang biasa ibunya siapkan saat dia sakit. Hangat. Menenangkan. Sebuah jembatan kecil dari kehangatan untuk pria yang dikelilingi es.
Dia mengangkat cangkir teh itu. Uap tipis mengepul, membelai wajahnya. Jantungnya berdebar kencang. Apakah Piter akan menerimanya? Ataukah dia akan mengabaikannya, menganggapnya sebagai "variabel tidak efisien" lagi? Dia merasa gugup, seperti seorang seniman yang akan memamerkan karyanya kepada kritikus paling kejam. Namun, dia harus mencoba. Dia harus melakukan sesuatu.
Anindita melangkah keluar dari dapur, cangkir teh hangat di tangannya. Kakinya terasa berat, setiap langkah menuju kamar kerja Piter terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Dia berhenti di ambang pintu kamar kerja Piter. Pintu itu sedikit terbuka, memancarkan cahaya laptop.
Piter masih di sana, duduk di kursinya, dengan punggung menghadapnya. Dia masih berbicara di telepon, nadanya lebih rendah sekarang, tapi ketegangannya masih terasa. Piter mengusap wajahnya lagi dengan tangan, sebuah gestur lelah yang membuat hati Anindita mencelos.