Resep Hati Sang Dokter Logika

Brigitta Diara
Chapter #16

BAB 16 Badai Menerpa WMC (dari Jauh)

Tiba-tiba, ponsel di meja kerjanya bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama yang selalu identik dengan masalah, atau setidaknya, dengan hal-hal yang tidak bisa ditunda: Rendy.

Piter menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan emosinya yang baru saja teraduk. Dia meletakkan cangkir teh jahe itu, mengabaikan sisa kehangatan yang masih tertinggal di telapak tangannya. Dia meraih ponselnya. "Sistem kembali ke mode profesional," pikirnya, sebuah mantra yang selalu dia ucapkan di saat krisis.

"Ya, Rendy?" suara Piter terdengar lebih kaku dari biasanya, sebuah perisai otomatis.

"Dokter Piter!" Suara Rendy di ujung sana terdengar panik, lebih panik dari biasanya. Tidak seperti Rendy yang tenang. "Ini gawat, Dok! Gawat sekali!"

Piter merasakan denyut jantungnya melonjak. Gawat? Kata itu selalu berarti ada nyawa yang dipertaruhkan, atau reputasi WMC yang di ambang kehancuran. "Ada apa? Bicara yang jelas, Rendy!" suaranya mulai naik, mencerminkan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Matanya menyipit, mencari-cari tombol loudspeaker agar ia bisa mendengar lebih jelas.

Di kamar, Anindita yang sedang duduk bersandar di pintu, melamun menatap laut, mendengar suara Piter yang meninggi. Tadi, hanya ada keheningan, lalu kini seperti ada ledakan. Piter sudah kembali ke mode kerjanya, mode 'serius'. Anindita tahu itu dari nada bicaranya. Pria itu sudah kembali ke dunianya.

"WMC, Dok! Ada skandal! Audit internal yang kemarin Pak Hartawan paksakan, akhirnya menemukan beberapa hal janggal. Ada dugaan... malpraktik yang disengaja!" Rendy berteriak, nyaris histeris. "Dan juga... penyalahgunaan alat, Dok! Beberapa alat bedah saraf canggih yang baru kita beli, ternyata tidak dipakai sesuai prosedur! Ada laporan salah diagnosis yang berujung pada... kematian pasien!"

Piter membeku di kursinya. Cangkir teh jahe di meja bergetar sedikit karena tangannya yang mengepal erat. Malpraktik? Salah diagnosis? Kematian pasien? Kata-kata itu menghantamnya seperti palu godam. Dia tidak peduli dengan audit finansial, atau intrik politik dewan, tapi ini... ini menyangkut nyawa. Ini menyangkut kehormatan profesinya. Ini menyangkut visi yang selalu ia jaga.

"Siapa yang bertanggung jawab, Rendy?" suara Piter terdengar dingin, menakutkan, seperti es yang baru saja membeku. "Siapa yang berani main-main dengan nyawa pasien di WMC?!"

"Itu dia masalahnya, Dok! Laporan awal menyebutkan... ini terorganisir. Melibatkan beberapa oknum di manajemen dan departemen bedah saraf," Rendy menjelaskan, nadanya sedikit menurun, tapi tetap penuh ketegangan. "Dan yang paling parah, Dok... beberapa dokumen yang mengarah ke kasus-kasus ini... atas nama Anda! Mereka mencoba menyudutkan Anda, Dokter Piter!"

Piter merasakan darahnya mendidih. Wajahnya memerah, tapi matanya tetap dingin dan tajam. Menyudutkan dia? Jadi, inilah rencana busuk Pak Hartawan. Menggunakan momen bulan madu ini untuk meruntuhkan karier dan reputasinya. Bukan hanya CEO, tapi juga seorang dokter.

Lihat selengkapnya