Resep Hati Sang Dokter Logika

Brigitta Diara
Chapter #17

BAB 17 Anindita sebagai Saksi Diam

Semalam suntuk, suara Piter yang berteriak tentang "drama emosional" masih berdengung di telinga Anindita. Rasa sakit itu belum hilang. Namun, melihat pria itu hancur seperti ini, semua amarah Anindita seolah mencair. Bukan karena dia memaafkan, tapi karena dia melihat sisi Piter yang paling manusiawi, paling rentan. Piter Wijaya, sang dokter logika, ternyata juga bisa rapuh.

Anindita menelan ludah. Kakinya melangkah, perlahan, seperti menginjak pecahan kaca. Setiap gerakannya adalah perjuangan. "Haruskah aku mendekat? Apakah dia akan menolakku lagi? Menganggapku sebagai variabel pengganggu dalam krisis hidupnya?" Namun, entah mengapa, kali ini, dorongan itu lebih kuat dari ketakutannya.

Dia mendekat, satu langkah demi satu langkah, seperti mengamati seekor hewan buas yang terluka. Piter tidak menyadari kehadirannya, sibuk dengan pikirannya sendiri yang kalut. Anindita bisa melihat helaan napas berat dari punggung Piter yang bidang, yang kini tampak begitu kecil di tengah vila yang terlalu besar ini.

Di meja kopi, ada sebotol air mineral dingin yang baru saja dikeluarkan dari kulkas mini. Anindita mengambilnya. Dingin botol itu menjalar ke tangannya, sedikit menenangkan gugupnya. Dia membuka tutup botol, suara pelan itu seperti memecah keheningan yang menyesakkan.

Anindita pelan-pelan duduk di samping Piter, menyisakan jarak yang aman. Dia tidak berkata apa-apa. Hanya meletakkan sebotol air dingin itu di meja kecil di antara mereka. Air dingin. Sebuah tawaran kecil, tanpa kata, tanpa tuntutan. Hanya sebuah isyarat: Aku di sini.

Piter tersentak. Kepalanya terangkat dari tangan, matanya langsung tertuju pada botol air dingin di mejanya. Lalu, tatapannya beralih ke Anindita. Matanya yang sembap, rambutnya yang acak-acakan, piyamanya yang kusut—semuanya Anindita, tapi dengan ekspresi yang jauh berbeda dari kemarahan semalam. Piter melihatnya, dan dia tidak lagi melihat variabel yang tidak efisien. Dia melihat... kehadiran.

"Anindita?" suara Piter serak, nyaris berbisik. Ada kebingungan yang nyata di sana. "Kenapa dia tidak marah? Kenapa dia di sini?" Otaknya langsung mencari-cari pola, mencari data untuk menjelaskan situasi ini, tapi tidak ada.

Anindita hanya mengangguk pelan. Dia tidak berani menatap mata Piter terlalu lama. Luka di hatinya masih perih, tapi rasa simpati yang aneh kini menutupi semuanya. "Kau... baik-baik saja?"

Pertanyaan Anindita terdengar begitu polos, begitu tulus, hingga Piter terdiam. Baik-baik saja? Pertanyaan itu terdengar begitu asing. Selama ini, tidak ada yang pernah bertanya kepadanya dengan nada seperti itu. Orang tuanya hanya akan bertanya, "Bagaimana hasil kerjamu, Piter?" atau "Apa kau sudah menjaga nama baik keluarga?". Rendy akan bertanya, "Apa ada instruksi, Dok?". Tapi tidak ada yang bertanya, "Kau baik-baik saja?".

Piter menatap botol air mineral itu, lalu ke Anindita. Rahangnya mengeras, lalu melonggar. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan pikirannya yang kalut. "WMC... ini buruk sekali, Anindita. Sangat buruk."

Suara Piter terdengar putus asa. Sebuah nada yang jarang sekali Anindita dengar dari pria yang selalu memancarkan kekuatan dan kontrol. Itu bukan suara CEO. Itu suara seorang pria yang sedang berada di titik terendahnya.

"Aku tahu," Anindita berbisik, matanya menatap ke depan, ke arah laut yang gelap. Dia tidak tahu detailnya, tapi dia tahu Piter tidak pernah mengungkapkan kerapuhannya jika masalahnya tidak benar-benar besar. "Aku... mendengar samar-samar. Tentang malpraktik. Dan... Pak Hartawan."

Piter menoleh cepat, menatap Anindita dengan terkejut. "Kau mendengar?"

Anindita mengangguk. "Sedikit. Maaf, aku tidak bermaksud menguping. Suaramu... agak keras tadi."

Piter menghela napas, sebuah embusan kekalahan. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memijat pelipisnya. Kepercayaan Anindita yang tidak menghakimi, justru membuat Piter merasa sedikit lebih ringan. Atau mungkin, dia hanya terlalu lelah untuk menjaga perisainya lagi.

Lihat selengkapnya