Anindita membiarkan tangannya tetap di punggung Piter. Dingin tubuh pria itu terasa di telapak tangannya, tapi ada panas yang memancar dari hatinya. Piter masih tak bergerak, matanya menatap tangannya. "Dia tidak menolakku. Dia membiarkanku ada di sini." Sebuah kemenangan kecil, sebuah celah di dinding es yang selama ini Piter bangun.
Hening. Suara ombak yang lembut di luar kini terasa seperti simfoni, bukan lagi lolongan badai. Piter perlahan menghela napas, napas yang terasa lebih ringan. Dia tidak mengangkat kepalanya, tidak menatap Anindita, tapi sentuhannya tak lagi terasa seperti beban.
"Anindita..." Suara Piter kembali, lebih pelan dari sebelumnya. "Aku... aku tidak tahu harus bagaimana."
Sebuah pengakuan. Kata-kata itu, bagi Piter yang selalu memiliki jawaban dan solusi, adalah sebuah revolusi. Anindita merasakan kerentanan itu, merasakan kepercayaan yang samar-samar Piter berikan. Dia tersenyum tipis, senyum tulus yang tidak pahit, senyum yang mencapai matanya.
"Tidak apa-apa, Piter," Anindita berbisik, suaranya lembut, menenangkan. "Kau tidak harus tahu segalanya. Terkadang, tidak tahu adalah bagian dari menjadi manusia."
Piter tetap diam, mencerna kata-kata itu. "Tidak tahu adalah bagian dari menjadi manusia." Selama ini, "tidak tahu" adalah musuh terbesarnya, sebuah kegagalan yang tidak bisa diterima, tapi mendengar Anindita mengatakannya, entah mengapa, itu terasa melegakan.
Perlahan, Piter mengangkat tangannya. Anindita menahan napas, takut Piter akan menepisnya, tapi tidak. Piter hanya meraih botol air mineral yang tadi Anindita letakkan di meja, meminumnya perlahan. Gerakannya masih kaku, tapi kali ini, tidak ada lagi dinding yang memisahkan mereka.
Anindita menarik tangannya dari punggung Piter, membiarkan pria itu bernapas. Dia tahu, untuk Piter, menerima sentuhan dan kata-kata empati adalah sebuah langkah besar. Dia tidak bisa mendesak lebih jauh.
"Aku... aku harus menelepon mereka," ucap Piter, suaranya kembali ke nada yang lebih profesional, tapi ada jejak kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Matanya menatap ponselnya, yang tergeletak di meja kerja. "Orang tuaku. Mereka pasti sudah mendengar rumor dari Jakarta."
Anindita mengangguk. Dia tahu, Piter harus menghadapi iblis-iblisnya sendiri. "Aku akan menunggumu di sini."
Piter menatap Anindita. Ada sesuatu di matanya. Sebuah permohonan yang tak terucapkan, sebuah pengakuan bahwa dia tidak ingin sendirian lagi. Anindita membalas tatapannya dengan senyum lembut, meyakinkan. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana."
Piter mengangguk, lalu meraih ponselnya. Jemarinya yang biasanya cekatan, kini sedikit gemetar saat menekan nomor orang tuanya. Dia mengambil napas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk pertempuran lain. Pertempuran yang jauh lebih berat daripada perang kata-kata dengan dewan direksi. Ini adalah pertempuran melawan keluarga.
Anindita bergerak ke sofa rotan yang tidak jauh dari Piter, duduk dengan tenang. Dia mengeluarkan buku sketsanya, tapi tidak menggambar. Hanya membiarkan jari-jarinya mengelus halaman kosong, mendengarkan. Dia ingin ada di sana untuk Piter, sebagai saksi bisu dari beban yang dipikul suaminya.
Panggilan tersambung. Video call muncul di layar ponsel Piter, menampilkan wajah Papa Wijaya dan Mama Wijaya. Kedua wajah itu tampak tegang, tidak ada senyum hangat, hanya ketegangan.
"Piter! Akhirnya kau bisa dihubungi!" suara Papa Wijaya meledak dari ponsel, penuh amarah dan kekecewaan. "Apa yang terjadi di Jakarta?! Kenapa kau bisa lengah seperti ini?! Reputasi WMC sedang dipertaruhkan! Reputasi keluarga kita!"
Piter menelan ludah. Wajahnya mengeras, perisainya otomatis kembali terpasang. "Papa, Mama. Aku sudah tahu. Rendy sudah melaporkan. Ada skandal malpraktik dan penyalahgunaan alat, tapi ini semua adalah jebakan dari Pak Hartawan dan Bu Sandra."