Piter masih menggenggam tangan Anindita. Dingin yang menusuk dari panggilan telepon tadi perlahan mencair, digantikan oleh kehangatan dari sentuhan Anindita. Dia belum pernah merasakan kehangatan seperti ini. Sebuah kehangatan yang tidak bisa diukur, tidak bisa dianalisis, tapi terasa jauh lebih nyata daripada semua data di layar laptopnya.
Anindita balas meremas tangannya. Matanya menatap Piter, seolah membaca setiap gejolak di balik tatapan pria itu. Tidak ada lagi kemarahan atau kekecewaan, hanya empati yang mengalir. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi kehadirannya terasa begitu menenangkan. Sebuah benteng baru yang tidak dibangun dari logika, melainkan dari pengertian.
"Aku... aku harus menenangkan diriku sebentar," ucap Piter, suaranya parau. Dia melepaskan genggaman Anindita, bukan karena menolak, tapi karena perlu waktu untuk memproses badai emosi yang baru saja ia alami. Dia bangkit dari kursi, melangkah gontai ke jendela, menatap lautan yang gelap.
Anindita mengangguk. Dia tahu Piter butuh ruang. Dia melihat punggung pria itu, yang kini terlihat sedikit melengkung, tak lagi seangkuh sebelumnya. Dia tahu Piter sedang berjuang, tidak hanya melawan dewan direksi, tapi juga melawan bayangan masa lalu dan ekspektasi keluarganya.
Dia melihat Piter menyisir rambutnya dengan kasar, sebuah gestur frustrasi yang begitu manusiawi. Anindita mengalihkan pandangannya. Dia mengambil buku sketsanya yang tadi dia pegang. Bukan untuk menggambar, tapi untuk menemukan pelarian. Dia mulai membolak-balik halaman-halaman yang berisi sketsa-sketsa lama. Sketsa yang menggambarkan impiannya, ketakutannya, dan kesendiriannya.
Piter berbalik. Matanya menyapu ruangan. Dia melihat Anindita di sofa, membolak-balik buku sketsa. Wajah wanita itu masih terlihat lelah, tapi ada kedamaian yang aneh di sana. Kedamaian seorang seniman yang menemukan pelipur lara dalam dunianya sendiri. Piter mendekat, pelan. Dia tidak lagi membawa aura CEO, hanya seorang pria yang mencoba memahami.
Piter berhenti di belakang sofa Anindita. Dia melihat beberapa sketsa. Sebuah rumah kecil di pedesaan, seorang wanita dengan rambut panjang yang melambai di taman bunga, dan seekor kucing yang meringkuk di ambang jendela. Semua penuh warna, penuh kehangatan, jauh berbeda dari dunia Piter yang steril.
"Kau sedang menggambar?" tanya Piter, suaranya pelan, mencoba terdengar netral. Namun, ada nada ingin tahu di sana, sebuah nada yang belum pernah Anindita dengar dari pria itu.
Anindita tersentak, sedikit terkejut dengan kehadiran Piter yang begitu dekat. Dia menutup bukunya, lalu menoleh. "Tidak. Hanya melihat-lihat sketsa lama."
Piter mengangguk, lalu melihat sekeliling. "Kau belum makan malam, kan?"
Anindita menggeleng. "Tidak nafsu."
Piter terdiam sejenak. Dia merasa canggung. "Apa yang harus dia lakukan? Apakah dia harus memesankan makanan lagi? Itu efisien, tapi apakah itu yang Anindita butuhkan?" Pikirannya bekerja, mencoba menemukan jawaban yang bukan berdasarkan data.
"Aku... aku akan mengambil sesuatu di dapur," ucap Piter, suaranya sedikit ragu. Ini bukan bagian dari "protokol" Piter. Ini adalah sebuah spontanitas. "Mungkin ada cemilan. Kau butuh sesuatu yang hangat?"
Anindita menatapnya. Mata Piter tidak lagi dingin. Ada kebingungan, ada kelelahan, tapi juga ada sebuah kelembutan yang baru. Dia tidak lagi profesional. Itu adalah sebuah pencerahan kecil bagi Anindita. Piter tidak lagi memakai topengnya.
"Tidak perlu repot-repot, Piter," jawab Anindita, tapi ada senyum tipis di bibirnya. Sebuah senyum yang bukan lagi pahit.
"Tidak repot," Piter membalas, lalu berbalik menuju dapur. Gerakannya masih kaku, tapi ada upaya di sana. Upaya untuk mencoba. Upaya untuk ada.
Anindita mengamati Piter yang menghilang ke dapur. Dia mendengar suara lemari dibuka, lalu suara air mengalir. Piter, sang CEO WMC, kini sedang mencari cemilan di dapur. Sebuah pemandangan yang tidak pernah dia bayangkan.
Piter kembali dengan dua cangkir teh hangat dan sepiring biskuit. Dia meletakkannya di meja kopi, lalu duduk di kursi rotan di seberang Anindita.