Resep Hati Sang Dokter Logika

Brigitta Diara
Chapter #20

BAB 20: Kesempatan Kedua (yang Canggung)

Pagi itu, Piter bangun lebih awal dari Anindita. Namun, tidak ada panggilan telepon mendesak dari Rendy, tidak ada jadwal rapat yang harus diatur. Hanya suara ombak yang lembut dan kicauan burung. Untuk pertama kalinya, pagi di bulan madu ini terasa damai. Dia melihat Anindita masih tertidur pulas di sofa, buku sketsa masih di dadanya. Piter tersenyum tipis, kehangatan itu masih tersisa di hatinya, bahkan setelah tidur semalaman.

Dia bangkit perlahan, mengambil selimut tipis dan menyelimuti Anindita. Gerakannya canggung, kaku, tapi penuh perhatian. Dia melihat wajah Anindita yang damai dalam tidur, bulu matanya yang lentik, bibirnya yang sedikit terbuka. Dia terlihat... rapuh. Sebuah pemikiran yang belum pernah Piter asosiasikan dengan istrinya, atau dengan siapa pun.

Piter melangkah ke teras, menghirup udara segar. Matanya menatap lautan yang tenang, memantulkan warna-warni fajar. Itinerary bulan madu yang kaku itu kini terasa menggelikan. Eksplorasi biologis? Aktivitas efisien? Dia menggeleng pelan. Semalam, Anindita telah menunjukkan kepadanya bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diukur, tapi justru itulah yang paling berharga.

Dia mengambil ponselnya, bukan untuk memeriksa email atau laporan WMC, tapi untuk mencari. Mencari sebuah tempat. Sebuah tempat yang mungkin, hanya mungkin, bisa membuat Anindita tersenyum. Sebuah tempat yang tidak ada dalam jadwal awalnya. Sebuah kesalahan yang ingin ia lakukan, demi meninjau kembali hal yang penting dalam hidupnya.

Piter menghabiskan waktu sekitar satu jam, menelusuri internet. Galeri seni lokal di pulau itu. Pantai tersembunyi yang direkomendasikan untuk sunrise. Pasar seni tradisional. Dia membaca setiap ulasan, mencari tahu mana yang paling "berwarna", mana yang paling "penuh makna". Logikanya masih bekerja, tapi tujuannya telah berubah. Bukan untuk efisiensi, tapi untuk emosi.

Pukul delapan. Anindita menggeliat, terbangun. Matanya mengerjap, terkejut melihat selimut menutupi tubuhnya. Dia mendongak. Piter sedang duduk di kursi rotan, memegang ponselnya, menatap ke arahnya. Senyum tipis masih terukir di bibir Piter. Senyum yang membuat hati Anindita berdesir.

"Pagi," sapa Piter, suaranya lebih lembut dari biasanya.

"Pagi," Anindita membalas, suaranya serak karena tidur. Dia merasakan kehangatan di dadanya. Piter yang menyelimutinya? Itu bukan Piter yang Anindita kenal.

"Aku... sudah membuatkan sarapan," ucap Piter, menunjuk meja makan. Telur orak-arik, roti panggang, dan jus jeruk segar. "Aku mencoba belajar dari internet."

Anindita terkejut. Piter, yang selalu makan dengan efisien, kini membuat sarapan. Untuknya. Sebuah gestur kecil yang terasa begitu besar.

Mereka sarapan dalam keheningan yang nyaman. Bukan canggung, bukan lagi kosong. Mata Piter sesekali melirik Anindita, memastikan wanita itu menikmati sarapannya. Anindita membalas dengan senyum tipis, merasakan percikan harapan yang baru.

Setelah sarapan, Piter mendekati Anindita yang sedang duduk membaca buku di teras. Pria itu terlihat sedikit gelisah, seperti sedang mempersiapkan presentasi penting.

"Anindita," panggil Piter, suaranya sedikit canggung. "Aku... aku menemukan beberapa tempat menarik di pulau ini."

Anindita menatapnya, mengangkat alisnya. "Oh ya? Bagian dari itinerary baru?"

Piter menggeleng. "Tidak. Ini... di luar jadwal. Aku hanya... ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Ada sebuah galeri seni lokal, dengan koleksi ilustrasi seniman setempat. Dan ada juga pantai terpencil yang katanya punya pemandangan matahari terbenam yang unik. Tidak terlalu ramai."

Anindita menatap Piter, matanya dipenuhi kejutan. "Piter? Mengajakku ke galeri seni? Atau pantai terpencil? Itu seperti Piter yang berbeda. Piter yang mencoba keluar dari kotaknya."

"Kau... yakin?" tanya Anindita, sedikit curiga. "Ini bukan bagian dari data atau eksplorasi biologis lagi, kan?"

Piter mengerutkan dahi, sebuah ekspresi lucu yang membuat Anindita nyaris tertawa. "Tidak. Ini... ini tentang... apresiasi visual. Dan... relaksasi."

Anindita tersenyum. Sebuah senyum tulus yang membuat pipinya merona. "Baiklah. Aku mau."

Piter mengangguk, terlihat sedikit lega. "Bagus. Aku... aku sudah menyiapkan buggy."

Mereka berangkat. Piter mengemudikan buggy golf dengan kecepatan sedang, tidak terburu-buru seperti biasanya. Anindita duduk di sampingnya, membiarkan angin laut membelai rambutnya. Pemandangan pulau terasa lebih indah hari ini, seolah ada warna baru yang terbit.

Tujuan pertama adalah galeri seni. Sebuah bangunan sederhana dengan arsitektur tradisional, dikelilingi taman yang rimbun. Di dalamnya, ada berbagai ilustrasi dan lukisan karya seniman lokal. Warna-warni cerah, garis-garis berani, dan tema-tema yang dekat dengan alam dan budaya lokal.

Piter berjalan di samping Anindita, langkahnya lebih lambat dari biasanya. Dia tidak lagi memindai ruangan dengan mata analitis. Dia melihat. Dia mengamati.

"Ini... menarik," ucap Piter, berhenti di depan sebuah ilustrasi besar yang menggambarkan kehidupan nelayan. "Komposisinya tidak... simetris, tapi entah mengapa, terasa... seimbang."

Anindita tersenyum. "Itu karena emosinya yang kuat, Piter. Seni tidak selalu tentang simetri atau logika. Kadang, kekacauan justru menciptakan keindahan yang lebih jujur."

Lihat selengkapnya