Resep Hati Sang Dokter Logika

Brigitta Diara
Chapter #21

BAB 21: Sentuhan Pertama yang Tulus

Pagi itu, Piter benar-benar kembali ke mode robotnya. Ponselnya terus berdering, layar laptopnya menyala sepanjang waktu. Suara ketukan keyboard jadi melodi pagi yang monoton, mengalahkan suara ombak dan kicauan burung. Anindita menghela napas, menatap cangkir kopinya yang mengepul. "Baru kemarin aku melihat sedikit Piter yang berbeda. Harapan itu... apakah sudah mati lagi?"

Ia melihat Piter keluar dari kamar kerjanya, memakai kaus kasual, tapi raut wajahnya tetap kaku. Tidak ada senyum, hanya fokus yang dingin. Piter mengambil secangkir kopi, menyesapnya cepat, dan kembali menghilang di balik pintu. Anindita merasakan kekecewaan menusuk. Dia sudah mencoba. Dia sudah membuka diri, tapi dunia Piter terlalu padat, terlalu penting.

Anindita bangkit, kakinya terasa berat. Dia berjalan ke teras, menatap laut. Warna-warni pagi terasa hambar. Bulan madu ini... kapan akan berakhir? Dia ingin pulang. Ingin kembali ke studionya, melukis semua kekecewaan ini menjadi sebuah mahakarya kesedihan.

Tiba-tiba, Piter keluar lagi dari kamar kerjanya. Anindita menoleh, terkejut. Piter berjalan mendekatinya, langkahnya kaku, matanya sedikit ragu. Ini bukan Piter yang dingin barusan. Ini Piter yang... mencoba.

"Anindita," panggil Piter, suaranya pelan. "Aku... aku sudah menghubungi Rendy lagi. Situasi di WMC masih tegang, tapi sudah bisa dikendalikan. Tidak ada masalah urgensi dalam beberapa jam ke depan."

Anindita menatapnya, menunggu. Lalu?

Piter menghela napas, gestur yang jarang dia tunjukkan. "Aku... aku ingat kau ingin mencoba snorkeling lagi. Aku sudah mengatur perahu. Cuaca hari ini sangat baik. Airnya jernih. Menurut data, ini waktu terbaik untuk melihat biota laut."

Anindita mengerjap. "Snorkeling lagi? Dia mengingatnya? Dan ini bukan dari itinerary-nya, kan? Ini dari percakapanku dengannya kemarin." Ada percikan kecil harapan muncul lagi di hatinya. Piter berusaha.

"Kau... yakin?" Anindita bertanya, mencoba menyembunyikan keterkejutannya. "Bukan untuk menganalisis data biologis lagi?"

Piter sedikit mengerutkan dahi, ekspresi lucu yang lagi-lagi membuat Anindita tersenyum tipis. "Tidak. Kali ini... untuk apresiasi. Dan... untuk menikmati."

Menikmati. Kata itu terdengar begitu asing dari bibir Piter, tapi juga begitu tulus. Anindita mengangguk. "Baiklah. Aku mau."

Perahu kecil itu melaju membelah ombak, membawa Piter dan Anindita ke spot snorkeling lain yang direkomendasikan. Angin laut membelai wajah mereka, matahari bersinar cerah. Anindita duduk di buritan, Piter di sampingnya, tidak ada lagi ponsel di tangannya. Hanya fokus pada laut di depan.

"Airnya sangat jernih," Anindita berujar, memecah keheningan.

Piter menoleh. "Ya. Visibility 15 meter. Suhu air 28 derajat Celsius. Kondisi ideal untuk snorkeling."

Anindita tersenyum tipis. Astaga, Piter. Masih saja data, tapi kali ini, tidak ada nada dingin atau arogan. Hanya fakta. Anindita tahu, Piter mencoba.

Mereka tiba di spot. Piter membantu Anindita memakai fin dan masker. Gerakannya canggung, tapi perlahan. Ketika Anindita siap melompat, Piter mengulurkan tangannya. "Hati-hati," katanya, suaranya lembut.

Anindita meraih tangan Piter, melompat ke air. Dinginnya air langsung memeluk tubuhnya. Piter melompat menyusul. Mereka berdua mengapung di permukaan, menatap keindahan bawah laut. Terumbu karang berwarna-warni, ikan-ikan kecil berenang lincah, penyu yang melintas dengan anggun.

"Indah sekali," Anindita berbisik melalui snorkel-nya, matanya berbinar.

Lihat selengkapnya