Piter masih di tempatnya, terdiam, terpatung. Tangannya masih di udara, seolah sisa sensasi mencubit hidung Anindita masih tertinggal di jemarinya. Dia menatap punggung Anindita yang menjauh, lalu menatap perahu kecil yang terombang-ambing lembut di kejauhan. Sebuah kehangatan aneh menyebar di dadanya. Perasaan yang tidak bisa dianalisis, tidak bisa diukur, tapi terasa begitu nyata. Apa yang baru saja kulakukan? Pikir Piter, matanya menatap tangannya, seolah ada jawaban di sana. Jawaban yang takkan pernah bisa ia temukan di buku anatomi atau laporan keuangan.
Anindita, ia lari, terburu-buru, menjauh dari Piter dan sensasi aneh itu. Dia merasa pipinya masih panas, jantungnya berdebar kencang bukan karena lari, tapi karena sentuhan itu. Cubitan di hidung. Gestur konyol yang sama sekali tidak dia duga. Dan itu... entah kenapa, berhasil membuat separuh hatinya yang tadi mati suri, kembali berdenyut. "Piter? Kenapa dia melakukan itu? Kenapa rasanya aneh, tapi juga... menyenangkan?" Dia sampai di tepi pantai, napasnya memburu, membiarkan angin laut mendinginkan wajahnya. Kebahagiaan kecil yang rapuh ini, dia tahu, takkan bertahan lama. Hidupnya dan Piter terlalu rumit untuk sekadar cubitan hidung.
Tiba-tiba, suara keras dari vila memecah keheningan malam. Ponsel Piter di saku celananya bergetar hebat, dan kali ini, suaranya terdengar jauh lebih mendesak. Serta lebih parau. Seketika, kehangatan yang baru saja Piter rasakan menguap, digantikan oleh firasat buruk yang dingin. Anomali. Interupsi. Panggilan darurat. Piter menarik ponselnya, menatap layar. Nama "Rendy" menyala, diiringi ikon telepon merah yang berkedip. Panggilan darurat. Lagi.
Anindita, yang tadi masih menikmati momen kebahagiaan singkatnya, menoleh cepat. Suara ponsel itu, meski dari jauh, terasa seperti alarm kebakaran yang membangunkannya dari mimpi indah. Dia melihat Piter, yang tadinya masih berdiri mematung di tepi perahu, kini kembali ke mode siaga. Bahunya menegang, matanya kembali ke tatapan tajam yang penuh konsentrasi. Aura ketegangan yang sudah Anindita kenali dengan baik, kembali menyelimuti Piter. Serta dirinya sendiri, karena melihat Piter seperti itu. Anindita tahu, bulan madu mereka sudah berakhir. Atau setidaknya, kedamaian semu ini.
Piter mengangkat teleponnya. "Ya, Rendy?" suaranya terdengar kaku, sebuah perisai otomatis yang kembali terpasang.
"Dokter Piter! Syukurlah Anda bisa dihubungi!" Suara Rendy di ujung sana terdengar panik, melolong memecah keheningan malam. "Ini... ini lebih buruk dari yang kita kira, Dok! Saya baru saja mendapat informasi dari departemen legal. Ada dugaan keterlibatan dari salah satu petinggi dewan direksi dalam kasus malpraktik dan salah diagnosis itu!"
Piter merasakan denyut jantungnya melonjak. Tangannya mencengkeram ponsel. Otaknya memproses kata-kata Rendy dengan kecepatan kilat. Petinggi dewan? Ini bukan lagi sekadar masalah administrasi atau reputasi. Ini adalah intrik. Sebuah serangan langsung.
Anindita, yang berdiri beberapa puluh meter di belakang Piter, bisa mendengar sebagian percakapan itu. Suara Rendy terlalu keras, terlalu panik, terlalu banyak membawa istilah yang membuat perut Anindita mencelos. Petinggi? Malpraktik? Dewan direksi? Ini jelas bukan masalah sepele. Ini pasti masalah besar yang bisa menggulingkan Piter dari posisinya sebagai CEO.
"Siapa?" suara Piter terdengar dingin, menuntut, bahkan lebih dingin dari malam badai sebelumnya. Dia tidak lagi peduli pada romansa yang baru saja buyar. Fokusnya kini hanya pada ancaman yang nyata. "Sebutkan nama, Rendy!"
"Pak Hartawan, Dok! Dan Bu Sandra! Mereka berdua! Diduga kuat mereka yang mendalangi semua ini!" Rendy berteriak. "Mereka telah menyuap beberapa staf kunci di departemen bedah saraf dan manajemen untuk memalsukan dokumen, bahkan... bahkan memanipulasi jadwal operasi dan alat yang digunakan!"
Piter memejamkan mata sesaat, sebuah gestur lelah yang menunjukkan betapa besar tekanan yang menimpanya. Hartawan. Sandra. Nama-nama itu berputar di benaknya, diiringi rasa jijik yang luar biasa. Dia tahu mereka selalu ambisius, selalu mencari celah, tapi tidak menyangka sampai sejauh ini.
"Mereka ingin menyingkirkan Anda, Dokter Piter!" Rendy melanjutkan, suaranya kini terdengar seperti orang yang tercekik amarah. "Mereka ingin merebut posisi Anda. Mereka memanfaatkan audit yang mereka paksakan itu untuk menjebak Anda. Agar Anda terlihat tidak kompeten. Mereka ingin mengambil alih WMC dan menjadikannya... mesin uang mereka!"