Piter masih menggenggam tangan Anindita. Dia merasakan kehangatan yang merambat, sedikit demi sedikit mengusir dinginnya kecemasan. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak tahu bagaimana melawan para petinggi dewan yang licik, tidak tahu apakah bisa melindungi WMC dan anak buahnya. Tapi, untuk pertama kalinya, dia tahu satu hal: dia tidak harus menghadapi ini sendirian. Anindita ada di sana. Di sisinya. Memegang tangannya yang dingin, berharap bisa menenangkan suaminya yang rapuh. Perasaan aneh itu, perasaan yang tidak bisa ia analisis, kini terasa seperti sebuah kekuatan.
Malam merayap lambat. Angin laut mendesau di luar, seolah membisikkan kegelapan dan ketidakpastian. Anindita tertidur pulas di pelukan Piter, kelelahan setelah hari yang panjang dan penuh emosi, tapi Piter tidak bisa. Pikirannya terus berputar, diserbu bayangan-bayangan.
Dia memejamkan mata, dan mimpi buruk itu datang. Ruang operasi. Lampu sorot menyilaukan. Darah. Instrumen bedah yang licin di tangannya. Pasien terbaring tak berdaya. Rendy berteriak dari kejauhan, "Dokter Piter! Tekanan darahnya turun! Kita kehilangan dia!" Piter berusaha fokus, berusaha menganalisis, tetapi tangannya gemetar. Otaknya terasa kosong. Tidak ada data. Tidak ada solusi. Wajah Papa Wijaya muncul di sudut ruang operasi, menatapnya dingin. "Kau gagal, Piter. Kau tidak becus. Keluarga Wijaya tidak butuh kegagalan." Lalu, wajah-wajah staf WMC yang dulu menatapnya dengan kekaguman, kini menatapnya dengan kekecewaan. Mereka dipecat. Mereka kehilangan segalanya. Semua karena Piter.
Piter tersentak bangun, napasnya tersengal. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seperti akan pecah. Dia menoleh, Anindita masih tertidur pulas di sampingnya, damai. Piter menghela napas lega, tapi bayangan mimpi buruk itu masih melekat, nyata dan menusuk.
Dia bangkit perlahan, tidak ingin membangunkan Anindita. Kakinya melangkah ke meja kerjanya. Matanya tertuju pada laptop yang menyala. Dia butuh data. Butuh angka. Butuh sesuatu yang logis untuk mengusir kekacauan di benaknya. Dia butuh kontrol.
Piter menyalakan lampu meja. Cahayanya yang redup menyinari wajahnya yang tegang. Dia bergegas ke ponselnya. Membuka folder-folder terenkripsi yang Rendy kirimkan semalam. Dokumen, laporan keuangan, rekam medis. Semuanya. Otaknya mulai bekerja, mencari celah, mencari anomali, mencari jawaban. Tidak ada kegagalan. Aku tidak boleh gagal.
Dia membuka email dari Rendy. Subjeknya: "URGENT - Dewan Direksi". Jantung Piter kembali berdenyut keras. Dia membaca cepat.
Rendy melaporkan bahwa rapat dewan darurat sudah dijadwalkan. "Pak Hartawan dan Bu Sandra memanfaatkan momentum bulan madu Anda, Dok. Mereka mengklaim Anda 'tidak serius', 'kabur dari tanggung jawab' saat rumah sakit krisis. Mereka sedang menyusun mosi tidak percaya, Dokter. Ini upaya terakhir mereka untuk menggulingkan Anda."
Piter membaca lagi. Tidak serius? Kabur? Darah Piter mendidih. Dia pergi bulan madu ini justru karena tekanan orang tuanya untuk "menjaga citra". Sekarang, ironisnya, citra itu yang justru menjadi senjata musuhnya. Bukan hanya itu, mereka juga berani menganggap enteng pernikahannya. Pernikahan yang ia sendiri akui sebagai perjodohan bisnis, tapi kini, perlahan, mulai menemukan maknanya.
"Mereka juga menyebarkan rumor bahwa pernikahan Anda dengan Nona Anindita adalah faktor pengalih perhatian," lanjut email Rendy. "Seolah-olah ini semua adalah kesalahan Nona Anindita. Mereka mencoba mengaitkan insiden malpraktik dengan ketidakfokusan Anda karena 'masalah pribadi'."
Piter mengepalkan tangannya. Ponselnya berderit dalam genggaman. Rahangnya mengeras. Menyalahkan Anindita? Wanita yang baru saja mengulurkan tangan kepadanya, yang baru saja menunjukkan kepadanya arti simpati? Ini sudah keterlaluan. Ini bukan lagi soal WMC. Ini serangan pribadi yang keji. Mereka tak hanya ingin menghancurkan kariernya, tapi juga merusak hubungan yang baru saja ia perjuangkan.
Piter merasakan amarah yang membakar. Amarah yang tidak lagi dingin dan terukur, tapi panas dan membara. Amarah atas ketidakadilan, atas manipulasi, dan atas upaya menjatuhkan orang-orang yang tidak bersalah. Termasuk Anindita.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Fokus, Piter. Fokus. Emosi hanya akan mengganggu data. Namun, kali ini, emosi itu justru memberinya kejelasan. Dia tidak bisa membiarkan ini.
Piter meraih ponselnya, menelepon Rendy. Panggilan itu langsung terhubung.
"Rendy, aku sudah membaca emailmu," suara Piter terdengar tenang, tapi ada ketajaman yang menakutkan di dalamnya. "Aku ingin kau siapkan tim terbaik. Audit lagi semua dokumen yang Hartawan dan Sandra gunakan. Aku yakin ada celah. Pasti ada."
"Dokter Piter, saya sudah melakukannya semalaman," Rendy menjawab, suaranya lelah. "Semuanya sangat rapi. Mereka pintar sekali. Dokumen-dokumen palsu itu hampir sempurna."
"Tidak ada yang sempurna, Rendy," Piter memotongnya. "Pasti ada anomali. Kesalahan kecil. Logika mereka cacat. Aku ingin kau cari semua data transaksi keuangan mereka yang mencurigakan, semua koneksi tersembunyi. Mereka pasti tidak bekerja sendiri. Cari tahu siapa saja di balik mereka."
"Tapi Dok, rapat dewan sudah dijadwalkan besok pagi," Rendy berkata, panik. "Ini terlalu mendadak. Kita tidak punya cukup waktu untuk mengumpulkan bukti yang bisa menggulingkan mereka. Kita hanya punya waktu untuk membela diri."
Piter menghela napas. Membela diri? Itu artinya bermain di lapangan mereka. Itu artinya menerima permainan kotor mereka. Tidak.