Resep Hati Sang Dokter Logika

Brigitta Diara
Chapter #24

BAB 24: Pertimbangan untuk Kembali

Mata Piter menatap Anindita. Wanita itu balas menatap, matanya memancarkan ketulusan yang membakar sisa keraguan di hatinya. "Apakah ini yang namanya cinta?" Piter bertanya dalam benaknya, sebuah pertanyaan yang tidak memiliki data untuk mendukungnya, tapi terasa begitu nyata, begitu kuat. Dia tidak pernah mencari definisi emosi ini, tetapi kini, ia datang padanya, tak terduga, dan begitu meyakinkan. Kebersamaan yang Anindita tawarkan, bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai pilihan, adalah sesuatu yang Piter butuhkan lebih dari sekadar efisiensi atau citra.

Pagi itu, Piter bangun dengan tubuh yang terasa remuk, tapi pikirannya jernih. Matahari telah terbit, melukis langit dengan warna-warna keemasan di ufuk timur. Anindita masih tidur di sampingnya, damai dalam pelukannya. Piter memandanginya, mengingat setiap kata yang ia ucapkan semalam, setiap sentuhan yang telah menghangatkan hatinya yang beku. 'Piter yang kucintai." Kata-kata Anindita itu masih terngiang, bergema dalam kepalanya, membawa serta sebuah bobot yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Itu bukan hanya validasi, tapi juga sebuah tanggung jawab baru.

Dia tahu, mereka tidak bisa tinggal di sini selamanya. Meskipun momen-momen intim bersama Anindita telah mengisi jiwanya dengan kehangatan yang tak terduga, kenyataan di Jakarta memanggil. WMC sedang dalam kekacauan, reputasinya dipertaruhkan, dan anak buahnya membutuhkan perlindungannya. Piter menyadari, penundaan bulan madu ini, yang awalnya ia lakukan demi citra keluarga, kini justru menjadi celah bagi musuhnya untuk menyerang.

Piter perlahan melepaskan pelukan Anindita, bangkit dari tempat tidur. Gerakannya hati-hati, tidak ingin membangunkan wanita itu. Dia berjalan ke teras, menatap laut yang biru. Keindahan di sekelilingnya terasa ironis. Bagaimana bisa kebahagiaan sejati yang baru ia rasakan ini berbarengan dengan ancaman terbesar dalam hidupnya?

Dia melangkah ke meja kerjanya, tempat laptop dan ponselnya tergeletak. Di sana, itinerary bulan madu yang dulu ia buat dengan presisi militer masih terhampar. Piter mengambilnya. Jari-jarinya mengelus kertas itu, melihat daftar aktivitas yang belum terlaksana. Hari-hari yang seharusnya diisi dengan kegiatan terprogram, kini telah berubah menjadi hari-hari yang diisi dengan kebingungan, amarah, keputusasaan, dan... cinta.

Piter menghela napas panjang. Dia tidak punya pilihan. Dia harus kembali. Harus menghadapi. Dia meraih ponselnya. Jemarinya ragu sejenak, menatap ikon aplikasi pemesanan tiket pesawat. "Apakah ini yang benar? Apakah Anindita akan menganggap ini sebagai pengabaian lagi?" Pertanyaan itu berkelebat, tapi tekadnya untuk melindungi WMC dan stafnya lebih kuat. Dia tidak bisa membiarkan mereka menang. Tidak setelah Anindita telah menunjukkan kepadanya apa artinya berjuang untuk sesuatu yang benar.

Dia mulai menekan tombol-tombol, mencari penerbangan tercepat kembali ke Jakarta. Hari ini. Jika bisa, beberapa jam lagi. Dia bisa melihat Anindita menggeliat di tempat tidurnya. Piter termenung, pandangannya kosong menatap layar ponselnya. Bulan madu yang belum usai. Sebuah senyum pahit terukir di bibirnya. Mereka belum lagi menghabiskan waktu yang layak, waktu yang benar-benar romantis, tapi keadaan tidak mengizinkan.

Anindita terbangun oleh cahaya matahari yang menembus celah gorden dan suara ketukan pelan dari meja kerja Piter. Dia menggeliat, merasakan kekosongan di sampingnya. Matanya mengerjap, lalu menatap Piter yang sedang duduk di meja, memegang ponsel, dengan ekspresi yang begitu serius. Aura tegang itu kembali.

"Piter?" panggil Anindita, suaranya serak.

Piter tersentak, menoleh cepat. Ada kilatan terkejut di matanya, lalu dengan cepat digantikan oleh ekspresi datar khasnya. Dia tidak menyembunyikan ponselnya.

"Pagi," sapa Piter, suaranya pelan. "Maaf, aku membangunkanmu."

Anindita bangkit dari kasur, berjalan mendekati Piter. Dia melihat layar ponsel Piter. Aplikasi pemesanan tiket pesawat. Tujuan: Jakarta. Tanggal: Hari ini.

Hati Anindita mencelos. Dia akan pergi. Dia akan meninggalkan bulan madu ini. Rasa kecewa itu menusuk lagi, tapi kali ini, bercampur dengan pengertian. Dia tahu Piter tidak punya pilihan.

"Kau... akan kembali ke Jakarta?" tanya Anindita, suaranya bergetar.

Piter mengangguk, tanpa menoleh. Matanya masih tertuju pada layar ponsel, seolah mencari rute penerbangan yang paling efisien. "Aku harus. Rapat dewan darurat sudah dijadwalkan besok pagi. Dan ada banyak hal yang harus aku selesaikan sebelum itu."

Lihat selengkapnya