Resep Hati Sang Dokter Logika

Brigitta Diara
Chapter #25

BAB 25: Menari di Bawah Bulan (Momen Keintiman)

Sepanjang hari Piter kembali berkutat dengan laptop dan ponselnya. Keputusannya sudah bulat, ia akan melawan, tapi tidak saat ini. Ia harus menyiapkan amunisinya sebelum berperang. Saat malam tiba, Piter melihat Anindita datang menghampiri.

Senyum tipis terukir di bibir Anindita, air mata haru menggenang di matanya. Piter tidak lagi menolaknya. Piter tidak lagi mengabaikannya. Piter menerimanya. Dia telah memilih, dan pilihan itu adalah Anindita. Rasa lega membanjiri hati Anindita, sebuah kelegaan yang begitu dalam hingga membuatnya merasa ingin menangis dan tertawa secara bersamaan. "Akhirnya. Dia melihatku. Dia memilihku."

Piter menghela napas panjang, lalu memejamkan mata sesaat. Bayangan ruang rapat, wajah-wajah murka Hartawan dan Sandra, serta kekecewaan orang tuanya masih menari-nari di benaknya. Tekanan itu tidak hilang, tetapi kini terasa sedikit lebih ringan. Seolah ada sebuah jangkar baru yang menahannya agar tidak terseret badai. Dia tidak bisa melarikan diri dari masalah, tapi dia bisa memilih bagaimana menghadapinya. Dan dia memilih untuk menghadapinya dengan Anindita di sisinya, setidaknya untuk malam ini. Dia memilih untuk menguatkan benteng batinnya terlebih dahulu.

Piter melepaskan genggaman Anindita, gerakan yang membuat Anindita sedikit menahan napas, takut Piter berubah pikiran. Namun, Piter hanya mengulurkan tangan lain, menyentuh pipi Anindita dengan ibu jarinya, membelainya lembut. Kehangatan ini. Sebuah isyarat yang tidak terprogram, tidak efisien, tapi terasa begitu benar.

"Aku... aku tidak akan pulang hari ini," Piter berkata, suaranya pelan, mencoba menahan getaran. "Krisis di Jakarta... masih ada, tapi aku... butuh ini. Butuh waktu. Butuh... dirimu."

Anindita menatapnya, hatinya berdesir. Piter, sang dokter logika, mengakui kebutuhannya akan emosi. Mengakui kebutuhannya akan dirinya. Sebuah pengakuan yang terasa begitu ajaib.

"Aku akan menyiapkan makan malam," ucap Anindita, suaranya lembut, mencoba memecah keheningan yang sarat emosi. Dia tidak ingin merusak momen ini dengan terlalu banyak kata.

Piter menggeleng. "Tidak. Aku... aku sudah memesan meja. Di restoran lokal itu. Yang ada pertunjukan tari tradisional." Wajah Piter masih tegang, tapi ada sebuah kegugupan yang baru. Kegugupan yang bukan karena operasi, melainkan karena sebuah janji yang ingin ia penuhi.

Anindita mengerjap. Restoran itu? Yang jauh dari keramaian? Yang tidak ada di itinerary mana pun? Sebuah kejutan yang menyenangkan. Piter masih berusaha. Piter masih mencoba keluar dari tempurungnya.

"Kau... yakin?" Anindita bertanya, mencoba menyembunyikan senyumnya yang merekah.

Piter mengangguk. "Ya. Aku... aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang... tidak efisien."

Anindita tertawa kecil, tawa yang lepas dan hangat. Tidak efisien. Piter menggunakan istilahnya sendiri untuk mencoba mendeskripsikan kebahagiaan.

"Baiklah," Anindita berujar, matanya berbinar. "Aku akan bersiap."

Piter mengangguk, lalu melepaskan tangannya dari pipi Anindita. Dia berbalik, menuju kamarnya, langkahnya masih kaku, tapi ada sebuah tujuan baru. Bukan lagi tujuan yang hanya berorientasi pada data, melainkan pada kebahagiaan.

Beberapa jam kemudian, Anindita keluar dari kamar, mengenakan gaun panjang kasual berwarna biru laut yang lembut, senada dengan warna laut malam. Rambutnya digerai, dibiarkan tergerai oleh angin. Dia tidak memakai riasan tebal, hanya sentuhan tipis yang menonjolkan kecantikan alaminya.

Piter sudah menunggunya di ruang tengah. Ia mengenakan kemeja linen putih dan celana panjang berwarna krem, jauh dari setelan jas formalnya. Wajahnya masih terlihat sedikit tegang oleh beban masalah WMC, tapi ada sentuhan kelembutan yang baru. Sebuah kelembutan yang Anindita tahu, kini hanya untuknya.

Mata Piter menatap Anindita. Sebuah kilatan penghargaan muncul di matanya. Bibirnya melengkung tipis, membentuk sebuah senyum yang tulus. "Kau... terlihat cantik."

Pipi Anindita memerah. Puji-pujian dari Piter masih terasa asing, tapi menyenangkan. "Kau juga... terlihat berbeda. Tidak seperti dokter yang mau operasi."

Piter mendengus, sebuah tawa kecil yang jarang Anindita dengar. Tawa yang terasa begitu hangat, begitu manusiawi. "Aku... mencoba."

Lihat selengkapnya