Anindita meraih ponselnya, jari-jarinya sedikit gemetar. Dia menatap layar, lalu menatap Piter. Kekhawatiran terpancar jelas di matanya. Piter menghela napas, napas yang berat, penuh kekesalan. Ini tidak pernah berakhir. Pikirannya berpacu, mencoba menganalisis situasi. Panggilan darurat dari ibunda Anindita, di tengah malam, setelah serangkaian krisis. Itu bukan pertanda baik.
"Angkat," Piter berujar, suaranya pelan, tapi mengandung urgensi. "Mungkin ada hal penting."
Anindita mengangguk kaku. Dia menekan tombol jawab, mendekatkan ponsel ke telinganya. "Halo, Mama?"
Suara Mama Satya meledak dari ponsel, penuh kepanikan. "Anindita! Syukurlah kau mengangkat! Ini gawat, Nak! Gawat sekali! Papa... Papa masuk rumah sakit! Jantungnya tiba-tiba kambuh! Dan... dan krisis di perusahaan kita... makin parah!"
Wajah Anindita memucat. Matanya melebar. Piter, yang berdiri di depannya, melihat perubahan ekspresi itu dan langsung tahu. Krisis. Lebih banyak krisis. Piter mendekat, mencoba mendengarkan. Anindita tanpa sadar menjauhkan ponselnya sedikit, memperdengarkan suara ibunya yang histeris.
"Apa?! Papa... bagaimana keadaannya, Ma?" Suara Anindita tercekat, air matanya mulai menggenang. "Krisis apa lagi? Bukankah sudah ditangani?"
"Tidak, Nak! Ini tentang konsorsium bisnis! Pihak lawan menuntut pencabutan saham kita karena Papa dianggap lalai! Dan Papa, dia sangat stres, dia sangat khawatir tentang perjodohanmu dengan Piter! Dia berpikir bahwa kau tidak bahagia dengan Piter dan itu semua membuat Papa merasa tertekan dan sangat kecewa!" Mama Satya terisak. "Kau harus pulang, Nak! Cepat! Papa membutuhkanmu!"
Anindita menjatuhkan ponselnya ke meja. Getaran ponsel itu kini melambangkan kekacauan di hatinya. Papa masuk rumah sakit. Perusahaan di ambang kehancuran. Dan dirinya, pernikahan dengan Piter, disalahkan. Semua kehangatan dan kebahagiaan yang baru saja ia rasakan, kini lenyap, digantikan oleh gelombang dingin kepanikan dan rasa bersalah.
Piter menatap Anindita. Wajah wanita itu pucat pasi, matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar. Dia tahu betapa besar beban yang baru saja ditimpakan pada istrinya. Konsorsium bisnis. Pencabutan saham. Lalai. Stres. Perjodohan ini. Piter merasakan amarahnya kembali memuncak, bukan pada Anindita, tapi pada lingkaran setan ini. Lingkaran yang selalu menuntut, selalu menyalahkan, selalu mengorbankan perasaan demi citra dan kekayaan.
Anindita menatap Piter, matanya dipenuhi keputusasaan. "Papa... Papa masuk rumah sakit, Piter. Dan Mama... Mama bilang aku... aku penyebabnya. Karena pernikahan kita."
Piter mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Dia tidak bisa menoleransi ini. Cukup. Cukup sudah.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya. Dia melihat Anindita yang hancur, dan dia tahu, dia harus menjadi kekuatannya. Bukan dokter logika, bukan CEO WMC. Tapi suami.
Piter melangkah mendekat, mengulurkan tangannya. Anindita menatapnya, matanya penuh pertanyaan. Piter memegang tangan Anindita, menggenggamnya erat. Jemarinya yang besar dan hangat menenangkan jemari Anindita yang dingin dan gemetar.
"Dengarkan aku, Anindita," Piter berujar, suaranya pelan, namun tegas. "Kau bukan penyebabnya. Kau tidak pernah. Ini adalah masalah orang tua kita. Masalah yang mereka ciptakan sendiri dengan obsesi mereka pada kekuasaan dan citra."
Anindita terisak pelan. "Tapi Papa... dia sakit."
"Aku tahu," Piter membalas, matanya menatap Anindita dengan pandangan yang dalam. "Dan kita akan pulang. Kita akan menghadapinya. Bersama."
Anindita menatap Piter, air matanya masih mengalir. Kata-kata "bersama" itu, di tengah badai ini, terasa seperti sebuah janji suci yang tak tergantikan.
Piter menarik Anindita ke dalam pelukannya. Anindita bersandar di dada Piter, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan itu. Dia menangis, melepaskan semua ketakutan, semua kekecewaan. Piter memeluknya erat, menepuk-nepuk punggungnya, memberinya kekuatan yang tak terucapkan.