Resep Hati Sang Dokter Logika

Brigitta Diara
Chapter #27

BAB 27: Kabar Buruk dari Kampung Halaman

Anindita bangkit, matanya berkaca-kaca. Dia melihat Piter yang hancur, dan dia tahu, ini adalah awal dari badai yang sesungguhnya.

Udara dingin vila terasa menusuk tulang, sama dinginnya dengan kehampaan di dada Piter. Dia berdiri mematung, tubuhnya kaku, seperti patung marmer yang baru saja dipahat dari batu karang. Mata kosongnya menatap ke suatu titik tak terlihat, seolah jiwanya telah direnggut paksa dari tubuhnya.

Anindita, dari ranjang, merasakan getaran putus asa yang memancar dari pria itu. Dia belum pernah melihat Piter Wijaya sehancur ini. Bukan Piter yang lelah setelah operasi. Bukan Piter yang tegang karena intrik dewan. Ini adalah Piter yang telah mencapai batasnya, Piter yang telah kehilangan pijakan.

Dia melangkah perlahan dari ranjang, kaki telanjangnya menyentuh lantai dingin. Setiap langkahnya adalah kehati-hatian, takut memecah kehampaan yang begitu pekat. Piter tidak bergerak. Dia tidak menoleh. Dia hanya berdiri di sana, sebuah bayangan di tengah remangnya cahaya bulan yang masuk dari jendela.

"Piter?" Anindita memanggil, suaranya nyaris berbisik. "Ada apa?"

Piter tidak menjawab. Bahunya yang bidang sedikit bergetar. Anindita mendekat, jantungnya berdebar kencang. Dia melihat punggung pria itu, yang biasanya tegak dan penuh otoritas, kini melengkung, memikul beban yang tak terlihat.

Anindita melirik ponsel Piter yang tergeletak di meja. Layar masih menyala, menampilkan nama Rendy dan beberapa baris teks yang mengerikan: "Dewan direksi... penyelidikan internal... sementara menggantungkan posisi Anda sebagai CEO!" Kata-kata itu menari-nari di mata Anindita, menusuknya dengan rasa ngeri yang sama.

Jadi, ini bukan hanya masalah reputasi atau intrik politik belaka. Ini adalah pemecatan. Sebuah pengkhianatan total.

"Piter..." Anindita mengulang, suaranya lebih tegas. Dia mengulurkan tangannya, ragu-ragu. "Haruskah aku menyentuhnya? Apakah dia akan menolak?" Namun, nalurinya untuk menenangkan lebih kuat dari keraguannya. Tangannya menyentuh punggung Piter, perlahan, lembut, memancarkan kehangatan yang kontras dengan dinginnya situasi.

Piter tersentak. Seluruh tubuhnya menegang, seolah sentuhan itu adalah sengatan listrik yang menyadarkannya dari lamunan kosong. Dia menoleh, matanya merah, berkaca-kaca, menatap Anindita dengan pandangan yang bercampur antara keterkejutan, kehancuran, dan, entah bagaimana, sedikit rasa terima kasih.

"Mereka... mereka menggantungkan posisiku, Anindita," Piter berujar, suaranya parau, nyaris tidak terdengar. Ini bukan suara CEO yang berwibawa, melainkan suara seorang pria yang baru saja dirobohkan. "Semua. Semua yang sudah kubangun... mereka merampasnya."

Air mata mulai mengalir di pipi Piter, tanpa suara, tanpa isakan. Hanya aliran hangat yang membasahi wajahnya yang tegang. Anindita belum pernah melihat Piter menangis. Pemandangan itu menghancurkan hatinya. Pria yang selalu kuat, selalu logis, selalu mengendalikan, kini runtuh di hadapannya.

Anindita merasakan air matanya sendiri menggenang. Rasa sakit yang ia rasakan semalam, karena Piter kembali ke dunianya yang dingin, kini lenyap, digantikan oleh gelombang simpati yang mendalam. Piter yang malang. Dia memeluk Piter, erat, menenggelamkan wajahnya di punggung pria itu.

"Aku... aku minta maaf, Piter," Anindita berbisik, suaranya teredam. "Aku minta maaf."

Piter tidak bergerak. Dia hanya membiarkan Anindita memeluknya, membiarkan kehangatan tubuh wanita itu sedikit demi sedikit meresap ke dalam jiwanya yang beku. Air matanya terus mengalir, membasahi rambut Anindita. Ini adalah pertama kalinya dia menangis begitu lepas, tanpa kendali, tanpa analisis.

"Ini bukan salahmu, Anindita," Piter berujar, suaranya pecah-pecah. "Ini... ini adalah permainan kotor mereka. Hartawan. Sandra. Mereka sudah merencanakannya. Mereka memanfaatkan setiap celah. Bahkan... bahkan bulan madu kita."

Anindita mengangguk, masih memeluk Piter. Dia tahu. Dia mendengar percakapan Piter dengan Rendy semalam. Mereka memanfaatkan dirinya, memanfaatkan pernikahan mereka, untuk menjatuhkan Piter. Rasa marah, rasa tidak berdaya, kini menyelimuti dirinya.

"Aku tidak bisa membiarkan ini," Piter melanjutkan, suaranya kini mengandung sedikit kemarahan yang membara. "Aku tidak bisa membiarkan mereka menghancurkan WMC. Menghancurkan stafku. Mereka... mereka tidak punya siapa-siapa lagi."

Anindita mengangkat kepalanya dari punggung Piter, menatap mata pria itu. "Lalu, apa yang akan kau lakukan?"

Piter menatapnya. Matanya yang merah masih memancarkan kehancuran, namun kini ada sebuah api kecil yang menyala di dalamnya. Api tekad. "Aku akan melawan, Anindita. Aku akan melawan mereka. Dengan caraku."

"Tapi... Rendy bilang dewan direksi..."

"Aku tidak peduli dewan direksi," Piter memotongnya. "Aku tidak peduli citra. Aku hanya peduli kebenaran. Aku hanya peduli nyawa pasien. Aku hanya peduli stafku. WMC adalah warisan. Bukan hanya warisan keluarga Wijaya, tapi warisan untuk masyarakat. Warisan yang harus aku lindungi."

Anindita melihat Piter yang baru. Piter yang tidak lagi memikirkan efisiensi atau logika semata. Piter yang kini dipandu oleh hati, oleh keadilan, oleh empati. Ini adalah pria yang ia cintai. Pria yang berani menjadi rapuh, berani melawan, berani membela.

"Aku akan ada di sisimu, Piter," Anindita berujar, suaranya mantap, penuh keyakinan. "Kita akan melawan mereka bersama."

Lihat selengkapnya