"Piter, ada apa?" Anindita bertanya, melihat mata Piter yang menyipit menatap jauh.
Piter menggeleng pelan, mencoba menepis perasaan aneh itu. "Tidak apa-apa. Mungkin hanya perasaanku." Dia meremas tangan Anindita sekali lagi, seolah mencari kepastian. Dunia di balik pulau ini, dunia yang penuh intrik dan pengkhianatan, kini terasa begitu dekat. Piter menatap Anindita, senyum tipis di bibirnya. "Ayo. Kita harus segera sampai bandara."
Mereka menaiki buggy golf, meninggalkan vila dan bayangan misterius di belakang. Perjalanan menuju bandara terasa berat, diiringi ketegangan yang menggantung di udara. Piter mengemudi dalam diam, fokusnya terpecah antara jalan di depan dan pikiran tentang apa yang menanti mereka di Jakarta. Anindita duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu Piter, mencoba mencari ketenangan dalam sentuhan suaminya. Dia tahu, momen kebahagiaan singkat mereka di pulau ini telah berakhir, dan kini saatnya menghadapi badai sesungguhnya.
Setibanya di bandara pribadi, mereka tidak banyak bicara. Proses check-in dan imigrasi berjalan cepat, tanpa hambatan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Saat menunggu di ruang tunggu, Anindita meraih ponselnya, mencoba mengalihkan pikiran dari kecemasan yang mendera. Dia membuka koran digital. Jari-jarinya membeku.
Di halaman utama, terpampang foto Piter dengan judul besar: "CEO WMC Dituding Lalai, Kabur Saat Krisis Melanda Rumah Sakit". Di bawahnya, ada artikel panjang yang menggambarkan Piter sebagai pemimpin tidak bertanggung jawab, egois, dan hanya peduli pada kesenangan pribadi, terbukti dari bulan madu mewah di pulau terpencil. Foto Piter dengan latar belakang laut biru, yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan, kini diinterpretasikan sebagai bukti ketidakpedulian. Wajah Anindita mengerut. Kata-kata di artikel itu terasa seperti tusukan tajam.
"Piter..." Anindita berbisik, suaranya parau, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Piter menoleh, melihat ekspresi Anindita dan layar ponselnya. Rahangnya mengeras. Dia sudah menduga ini. Musuhnya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Dia meraih ponsel Anindita, membaca cepat isi artikel itu. Setiap kata adalah racun, setiap kalimat adalah serangan personal yang keji. Mereka bahkan menyoroti "pernikahan kilat" Piter dengan seorang seniman yang "tidak relevan", mengklaim bahwa ini semua adalah skandal yang dibuat-buat untuk menutupi kelemahan Piter.
Anindita merasakan air matanya menggenang. Tidak relevan. Skandal. Kesalahan. Gelombang rasa sakit menyerbunya. Dia berusaha tegar, tetapi kata-kata itu begitu menusuk.
"Ini semua omong kosong," Piter berujar, suaranya dingin dan tajam, penuh amarah yang terkontrol. Dia tahu ini adalah bagian dari strategi musuh untuk menjatuhkannya. Menghancurkan reputasinya, mengisolasi dirinya.
Tiba-tiba, ponsel Piter berdering keras. Layar menampilkan nama "Papa Wijaya". Piter menatap Anindita sejenak, tatapannya penuh tekad. Ini dia. Pertempuran sesungguhnya. Dia menghela napas, mempersiapkan diri.
"Halo, Papa," Piter menjawab, suaranya datar, mencoba menyembunyikan emosinya yang bergejolak.
Suara Papa Wijaya meledak dari ponsel, menggema di telinga Piter dan Anindita yang berdiri di dekatnya. "Piter! Apa-apaan ini?! Kau sudah gila?! Bagaimana bisa kau membiarkan berita seperti ini tersebar?! Reputasi keluarga kita hancur! Saham WMC semakin anjlok! Ini semua ulahmu!"
Piter memejamkan mata sesaat. Dia merasakan kemarahan yang membakar di dadanya, bukan hanya karena tuduhan tak berdasar ini, tetapi juga karena prioritas ayahnya yang selalu salah.
"Papa, dengarkan aku," Piter memulai, mencoba menjelaskan. "Ini semua adalah ulah Hartawan dan Sandra. Mereka menyebarkan rumor ini untuk menjatuhkanku. Aku sudah punya bukti bahwa mereka terlibat dalam korupsi dan malpraktikā"
"Aku tidak peduli siapa yang terlibat! Aku peduli nama baik keluarga!" Papa Wijaya membentak, suaranya semakin keras. "Kau CEO WMC! Kau seharusnya bisa mengendalikan situasi! Bukan malah kabur bulan madu tidak jelas ini!"