Mata Anindita mengikuti setiap gerak-gerik suaminya. Dia melihat Piter yang baru. Bukan lagi dokter kaku yang jadwalnya didikte oleh algoritme efisiensi, melainkan seorang pria yang sedang mengumpulkan kepingan harga dirinya yang baru saja dihancurkan oleh keluarganya sendiri.
"Piter," suara Anindita memecah kesunyian, lembut namun membawa bobot yang cukup untuk menghentikan gerakan tangan pria itu.
Piter berhenti. Napasnya terdengar berat, mengisi ruang di antara mereka yang selama ini dipenuhi oleh kecanggungan dan tembok-tembok tak kasat mata.
"Kita tidak punya banyak waktu, Dita," ujar Piter tanpa mengubah posisinya. "Penerbangan kita dijadwalkan tiga jam lagi. Rendy sudah menyiapkan tim di Jakarta. Aku tidak bisa membiarkan Hartawan dan Sandra berpesta di atas kehancuranku lebih lama lagi."
"Kau benar-benar akan melakukan ini? Melawan Papamu sendiri?"
Mata Piter yang biasanya sedingin es dan sefokus lensa mikroskop, kini menunjukkan kilatan yang lebih manusiawi. Ada luka di sana, tapi juga ada bara tekad. "Dia sudah bukan lagi mendukungku sebagai anak, Dita. Dia melihatku sebagai aset yang gagal. Jika aku tidak melawan sekarang, aku bukan hanya akan kehilangan WMC, tapi aku juga akan kehilangan diriku sendiri."
Dia menatap Anindita dalam-dalam, sebuah tatapan yang membuat Anindita merasa seolah seluruh jiwanya sedang dibaca. "Dan aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu. Kata-kata Papa tadi... itu tidak bisa dimaafkan."
Anindita merasakan dadanya sesak oleh haru yang tiba-tiba meluap. Selama ini dia merasa seperti beban, seperti aksesori yang dipaksakan masuk ke dalam kehidupan Piter yang steril. Namun, sekarang, pria ini siap mempertaruhkan segalanya demi membelanya.
"Aku bukan variabel lemah yang perlu kau lindungi terus-menerus, Piter," ucap Anindita, suaranya kini terdengar lebih mantap. Dia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit yang selalu dia bawa saat menggambar sketsa. Di dalamnya, terselip sebuah amplop tua dengan stempel segel yang sudah pudar.
Piter mengerutkan kening, bingung. "Apa itu?"
"Papa Wijaya mungkin merasa dia memegang kendali atas sahammu, tapi dia lupa satu hal tentang keluargaku," Anindita menyodorkan amplop itu. "Keluarga Satya memang lebih memilih seni dan tradisi, tapi kakekku adalah salah satu pendiri awal konsorsium yang membawahi tanah tempat WMC berdiri. Aku memiliki sebuah 'kunci', Piter. Sebuah hak veto lama yang belum pernah digunakan selama tiga dekade."
Piter menerima amplop itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia membukanya, membaca baris-baris kalimat dalam bahasa hukum lama yang masih sangat valid. Matanya melebar saat menyadari apa yang dia pegang. Ini bukan sekadar surat; ini adalah senjata nuklir dalam dunia korporasi mereka.
"Dita... dari mana kau mendapatkan ini?"
"Ibu memberikannya padaku tepat sebelum kita menikah. Dia bilang, seorang istri Satya tidak pernah masuk ke rumah orang lain tanpa membawa kunci gerbangnya sendiri," Anindita tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memancarkan kekuatan yang selama ini tersembunyi di balik sikap diamnya. "Aku menyimpannya karena aku tidak ingin memulai pernikahan ini dengan ancaman, tapi setelah mendengar bagaimana keluargamu memperlakukanmu... aku sadar kunci ini harus dibuka."
Piter menatap surat itu, lalu menatap istrinya. Dia merasa seperti seorang pelaut yang baru saja menemukan mercusuar di tengah badai yang paling gelap. Logikanya mencoba memproses informasi ini, tetapi emosinya lebih cepat bereaksi. Dia menarik Anindita ke dalam pelukannya, sebuah pelukan yang begitu erat, seolah dia takut wanita itu akan menghilang jika dia melepaskannya.
"Terima kasih," bisik Piter di telinga Anindita. Suaranya serak. "Terima kasih telah memilih untuk berdiri di sampingku, meskipun aku memberimu begitu banyak alasan untuk pergi."