Anindita menerima ponsel itu, matanya menyapu baris-baris kalimat pendek yang tertera di layar. "Kami tahu apa yang kau bawa di koper itu, Dokter. Jangan pikir kunci lama bisa membuka pintu yang sudah kami ganti kuncinya." Tangannya gemetar. Kunci lama? Pintu yang sudah diganti? Itu jelas merujuk pada hak veto milik keluarga Satya yang kini berada di genggaman Piter. Sebuah firasat buruk merayapi punggungnya, lebih dingin dari udara di dalam kabin. Mereka tahu. Mereka tahu semua.
"Mereka tahu, Piter," bisik Anindita, suaranya tercekat.
Piter mengangguk, rahangnya mengeras. Matanya menatap tajam ke luar jendela, ke arah petir yang menyambar. "Mereka lebih canggih dari yang kukira. Mereka sudah menyusup ke mana-mana."
Kecemasan mencekik Anindita. "Lalu... apa yang akan kita lakukan? Jika mereka tahu tentang hak veto itu, mereka pasti sudah menyiapkan langkah balasan."
Piter menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berkejaran. "Kita tidak punya pilihan selain terus maju, Anindita. Jika kita mundur sekarang, mereka akan berpikir kita takut. Itu justru yang mereka inginkan." Ia kembali menggenggam tangan Anindita, kali ini dengan kekuatan yang menenangkan. "Kita akan bermain sesuai rencana. Kita akan menghadapi mereka di rapat dewan. Dan kita akan menunjukkan kepada mereka bahwa kunci lama pun bisa membuka pintu yang baru mereka pasang, jika kita tahu cara memutarnya."
Anindita menatap Piter, melihat tekad membara di mata pria itu. Rasa takutnya sedikit mereda, digantikan oleh gelombang keberanian yang ia pinjam dari Piter. Dia tidak akan goyah. Dia tidak akan menyerah. Dan Anindita tahu, ia juga tidak akan.
Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat mulus di Bandara Halim Perdanakusuma. Udara Jakarta terasa pengap dan berat, berbeda jauh dengan kesegaran pulau tropis yang baru saja mereka tinggalkan. Mobil hitam mewah sudah menunggu di landasan pacu, dengan Rendy berdiri di sampingnya, wajahnya tegang dan penuh kekhawatiran.
Piter dan Anindita melangkah turun dari pesawat. Piter dengan setelan jas gelapnya yang rapi, Anindita dengan gaun kasual yang masih terlihat elegan, keduanya memancarkan aura yang serius. Mereka berjalan bergandengan tangan, sebuah pernyataan diam yang kuat.
"Dokter Piter! Anindita!" Rendy menyambut, terburu-buru menghampiri mereka. Matanya memancarkan rasa lega, tapi juga kecemasan yang mendalam. "Syukurlah kalian selamat. Ada hal lain yang harus kalian ketahui..."
"Nanti, Rendy," Piter memotongnya, suaranya tenang, penuh otoritas. "Kita bahas di mobil. Sekarang, kita langsung ke WMC."
Rendy mengangguk, memimpin mereka masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, Rendy melaporkan perkembangan terbaru. Media terus menyerang Piter, bahkan ada demonstrasi kecil di depan WMC yang menuntut Piter mundur. Pak Hartawan dan Bu Sandra memanfaatkan setiap celah, menggalang suara dewan untuk mempercepat pemecatan Piter.
"Mereka bahkan sudah mengajukan usulan nama pengganti Anda, Dok," Rendy melaporkan dengan suara tertahan. "Pak Hartawan ingin menjadikan dirinya Pejabat CEO sementara."
Piter mendengus. "Aku sudah menduganya. Ambisi mereka memang tak terbatas."
"Tapi kita tidak punya cukup bukti, Dokter," Rendy melanjutkan, suaranya putus asa. "Data yang Anda temukan memang kuat, tapi mereka punya pengacara-pengacara terbaik. Mereka bisa memutarbalikkan semuanya."
Piter melirik Anindita. Wanita itu diam saja, tapi tangannya meremas tangan Piter. Piter mengangguk pada Anindita, sebuah isyarat diam. Jangan khawatir. Aku punya kunci.
"Kita punya lebih dari itu, Rendy," Piter berujar, suaranya penuh keyakinan. "Kita punya kebenaran. Dan kebenaran itu, kadang lebih kuat dari ratusan pengacara."
Piter memejamkan mata sesaat. Dia merasakan kelelahan yang luar biasa. Namun, tekadnya tidak goyah. Pertarungan ini adalah pertarungan hidup-mati, bukan hanya untuk kariernya, tapi untuk visinya, untuk stafnya, dan untuk WMC yang ia cintai. Dan kini, lebih dari segalanya, ini juga untuk Anindita.
Sesampainya di WMC, suasana rumah sakit terasa tegang. Beberapa staf menatap Piter dan Anindita dengan pandangan campur aduk: ada rasa simpati, tapi juga ketakutan. Piter mengangguk singkat pada mereka, sebuah isyarat bahwa ia kembali.
Mereka langsung menuju ruang rapat dewan. Sebuah ruangan yang dulunya terasa seperti benteng kekuasaan Piter, kini terasa seperti arena gladiator. Pintu kayu mahoni yang berat itu terbuka, dan Piter melangkah masuk, diikuti Anindita yang berjalan tegap di sisinya.
Aura ketegangan menyelimuti ruangan. Seluruh anggota dewan direksi sudah duduk di meja panjang, wajah mereka formal. Namun, mata mereka memancarkan intrik. Di ujung meja, Pak Hartawan dan Bu Sandra duduk berdampingan, senyum sinis tersungging di bibir mereka. Papa Wijaya dan Mama Wijaya juga hadir, duduk terpisah dari Hartawan dan Sandra, wajah mereka tampak masam dan penuh kekhawatiran akan citra.