Piter merasakan sebuah firasat tidak enak. Mereka tidak akan berhenti. Mereka akan mencari cara lain. Tatapan sinis dari Hartawan dan Sandra. Mereka menargetkan Anindita. Pikir Piter, hatinya mencelos. Dia meraih tangan Anindita, menggenggamnya erat. Pertarungan ini belum berakhir. Ini baru permulaan.
Pukul sebelas malam. Jalanan Jakarta yang biasanya riuh kini lengang, tapi ketegangan di dalam mobil yang membawa Piter dan Anindita kembali ke rumah terasa begitu pekat. Rendy yang mengemudi, sesekali melirik Piter dari kaca spion, wajahnya memancarkan kekhawatiran yang tak terucapkan.
"Piter, apa yang akan terjadi sekarang?" Anindita berbisik, suaranya pelan, kepalanya bersandar di bahu Piter. Kehangatan tubuh Piter adalah satu-satunya pelindung dari dinginnya firasat buruk yang merayapi dirinya.
Piter meremas tangan Anindita. "Kita akan menghadapi mereka. Seperti yang sudah direncanakan." Suaranya terdengar tegas, tetapi Anindita bisa merasakan getaran samar di baliknya. Piter tidak menyembunyikan kerapuhannya lagi dari Anindita, dan itu, anehnya, justru memberi Anindita kekuatan.
"Aku sudah menghubungi asisten rumah tangga di rumah Pak Wijaya," Rendy tiba-tiba berujar, memecah keheningan. "Mereka bilang Papa dan Mamamu sudah menunggu kalian. Sepertinya... mereka sangat marah."
Piter mendengus. "Aku sudah menduganya. Kemenangan kita di dewan pasti tidak membuat mereka senang. Mereka lebih peduli pada citra daripada keadilan." Matanya menatap bayangan gedung WMC yang menjulang tinggi di kejauhan, kini terlihat samar diterpa kabut malam. WMC. Warisan yang harus dilindungi.
Anindita merasakan hatinya mencelos. Dia tahu, menghadapi Hartawan dan Sandra di ruang dewan adalah satu hal. Menghadapi Papa dan Mama Wijaya di rumah, di sarang mereka sendiri, adalah pertarungan yang berbeda. Pertarungan yang lebih personal, lebih menghancurkan.
Mobil berhenti di depan gerbang mewah kediaman keluarga Wijaya. Lampu-lampu taman yang terang benderang tidak bisa menyembunyikan aura tegang yang menyelimuti rumah itu. Rendy menoleh. "Piter, apa kamu yakin akan membawa Anindita masuk?"
Piter menatap Rendy, lalu beralih ke Anindita. Wanita itu balas menatapnya, matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. "Dia ada di sisiku, Rendy. Aku tidak akan membiarkan mereka menyalahkannya lagi. Kami akan menghadapi ini bersama."
Rendy mengangguk, membuka pintu. Piter dan Anindita melangkah keluar, bergandengan tangan. Setiap langkah di jalan setapak yang dihiasi marmer terasa berat, seolah mereka berjalan menuju medan eksekusi.
Pintu utama terbuka. Papa Wijaya berdiri di ambang pintu, tangannya bersedekap, wajahnya masam dan penuh kemarahan. Di belakangnya, Mama Wijaya berdiri dengan ekspresi yang sama, matanya melotot. Mereka terlihat seperti dua patung penjaga yang siap menelan siapa pun yang berani melanggar aturan mereka.
"Piter!" Suara Papa Wijaya menggelegar, menggema di foyer yang luas. "Berani sekali kau muncul di hadapanku setelah semua yang kau lakukan?!"
Piter menarik napas dalam-dalam, mengencangkan genggaman tangannya pada Anindita. "Selamat malam, Papa. Mama. Aku datang untuk menjelaskan semuanya."
"Menjelaskan apa?!" Mama Wijaya menyela, suaranya melengking. "Seluruh Jakarta sudah tahu! Media massa terus membombardir kita dengan berita buruk tentang WMC! Saham kita anjlok! Dan kau... kau malah sibuk menyelamatkan nyawa orang yang tidak penting di pulau terpencil! Apa kau sudah gila?!"
"Aku menyelamatkan nyawa, Mama," Piter membalas, suaranya dingin. "Itu adalah tugasku sebagai dokter. Bukan untuk mengejar citra yang kalian banggakan."
"Citra itu segalanya, Piter! Citra adalah uang! Kekuasaan!" Papa Wijaya membentak, melangkah maju, mendekat ke arah Piter. Matanya menatap tajam Anindita, seolah wanita itu adalah sumber segala masalah. "Dan kau! Wanita ini! Pembawa sial! Aku sudah bilang, dia hanya akan membawa masalah dalam hidupmu!"
Anindita tersentak. Rasa sakit menusuk hatinya lagi, lebih dalam dari sebelumnya. Dia berusaha tegar, tetapi air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Piter merasakan tubuh Anindita menegang, dan kemarahan dalam dirinya kembali memuncak.