BRAK
Buru-buru Sunoo menutup dan mengunci pintu, Jantungnya berdebar cepat, ia kelelahan karena berlari. Setelah mengunci pintu dan menutup semua tirai jendela, Sunoo pergi ke ruang tengah lalu mengambil ponsel untuk memanggil seseorang.
"Hyung..." Suaranya bergetar. "Hyung, kurasa aku benar-benar diikuti orang."
'Kau lihat orangnya bagaimana?' Sunoo terdiam, saking takutnya ia tidak berani menoleh ke belakang saat orang itu mengikutinya. "Tidak, tapi aku dengar langkah kakinya." Di panggilan seberang, Sunghoon berusaha menenangkannya. 'Sunoo-ya, untuk beberapa hari, jangan keluar rumah dulu sampai aku kembali dinas, okay?'
"Baik, hyung. Cepatlah pulang. Aku takut." Sunghoon sama resahnya, jika bisa ia membawa Sunoo kemanapun ia pergi. 'Jangan bukakan pintu untuk siapapun.' Kata Sunghoon lagi.
***
Dua hari kemudian, Sunghoon kembali.
Segera Sunoo memeluk Sunghoon. "Aku takut sekali." Sunghoon mengusap-usap kepala Sunoo. "Kita pindah rumah besok." Sunoo mengangguk. Sunghoon sungguh menyayanginya dan bersedia melakukan apapun untuk melindunginya.
Sebenarnya Sunoo tidak yakin ada penguntit, tapi selama Sunghoon pergi beberapa hari belakangan, ia selalu merasa diawasi dan seseorang berusaha mendekati dirinya membuatnya takut. Meski ia tidak pernah melihat wujud orang itu. Tapi Sunoo yakin, seseorang benar-benar berusaha berbuat jahat padanya.
Sunghoon mengajak Sunoo ke kamar. "Apa orang itu pernah berusaha mencelakaimu?" Sunoo menggeleng. "Atau menelponmu?" Sunoo menggeleng lagi. "Kurasa dia hanya mengikutiku, hyung." Sunghoon mengambil ponsel Sunoo untuk memeriksa semua isinya, di kontak hanya ada nomornya, tidak ada hal lain.
Sunghoon mengambil ponsel itu dan menukarnya dengan yang baru. "Pakai ini saja. Aku takut nomormu sudah dilacak penguntit itu." Sunoo menerima ponsel. "Aku takut sekali, hyung. Tidak bisa kah kita keluar rumah hari ini saja?" Sunoo menatapnya.
"Aku juga takut kau kenapa-kenapa saat aku tidak di dekatmu." Sunghoon mengusap pipi Sunoo. "Baiklah, akan kukabari pihak property. Kita akan pindah hari ini." Kemudian Sunghoon mencium bibir Sunoo.
"Terima kasih, hyung." Mereka berbaring dan berpelukan.
Pernikahan mereka sudah jalan 3 tahun, Sunoo sangat menyayangi Sunghoon pun sebaliknya. Tapi akhir-akhir ini kehadiran penguntit yang sepertinya terobsesi pada Sunoo mebuat Sunghoon resah. Begitu juga Sunoo yang dilanda ketakutan setiap Sunghoon tidak berada di dekatnya.
Hari itu juga, mereka benar-benar pindah. Bukan lagi di perumahan melainkan apartemen karena Sunghoon merasa lebih akan aman di sana sekaligus lebih dekat dengan tempat kerjanya.
Sunoo sangat takut bahkan untuk sekadar membukakan pintu apartemen saat bel berbunyi.
"Hallo, ini tetangga depan rumahmu." Sunoo dapat mendengar itu dari intercom. "Kulihat kau baru pindah kemarin." Lanjutnya lagi, Sunoo menatap layar intercom yang menampilkan wajah seorang lelaki sambil memegang sesuatu. "Apa kau di dalam?" Tanya orang itu lagi. Sunoo sama sekali tidak berniat menjawab sampai orang itu pergi.
Malamnya, Sunghoon pulang.
"Apa ada yang berkunjung hari ini?" Tanya Sunghoon sambil memeluk Sunoo yang sedang memasak makan malam. "Seorang pria, sepertinya tetangga unit depan." Sunoo sibuk menghaluskan kentang rebus. "Kau bicara dengannya?" Sunoo menggeleng. "Tidak."
"Jangan bicara pada orang asing saat aku tidak ada, okay?" Sunoo mengangguk saja. "Jangan keluar tanpa izinku. Jangan membukakan pintu jika aku tidak di rumah. Jika kau butuh sesuatu, bilang saja biar aku yang carikan." Sunoo tertawa kecil mendengar betapa cerewetnya Sunghoon, ia berbalik lalu mengalungkan tangan ke leher Sunghoon.
"Baik, Sunghoon hyung." Sunoo, istrinya ini begitu cantik membuat Sunghoon ketakutan seseorang mengambil atau berniat jahat padanya. "Jika kau keluar rumah, nanti orang itu mengikutimu lagi." Mendengar itu membuat Sunoo kembali resah. "Aku akan menjagamu." Sunghoon memeluk Sunoo begitu erat.
Besoknya, bel rumah kembali berbunyi tidak lama setelah Sunghoon pergi bekerja.