Residu

Dimarifa Dy
Chapter #1

Prolog


Waktu baru menunjukkan pukul enam pagi ketika jeritan itu memecah keheningan. Burung-burung yang baru saja mampir di dekat pohon meranti berterbangan. Tak jadi mampir. Beberapa sosok keluar dengan tergesa. Mereka memandang ternganga pada pemandangan di depan sana. Terlihat sedikit mengenaskan.

Sosok itu terlentang dengan begitu saja. Kepalanya membentur batu, terlihat darah segar perlahan merembes.

Dua sosok anak perempuan yang tadi ikut terpaku, salah satunya bergerak cepat.

“Kakak, bantu aku!”

           *

“Kalau dipikir-pikir, perjalanan menuju kematian ini adalah satu-satunya hal yang paling adil.”

“Sejarah mencatat nama-nama besar …”

Lihat selengkapnya