Bab 1
Bapak telah meninggal
Apakah kau masih tak mau pulang
Kak Nin!
Mendorong adonan margarin itu ke pinggir. Pikiranku masih tak tenang. Rencana bikin muffin sekali ini pun akan gagal.
Aku menatap keluar. Hujan yang tadi perlahan menjadi gerimis. Membuka pintu samping dan melangkah keluar. Seraya memejamkan dan merentangkan tangan, aku biarkan angin sore menerpa tubuhku. Jika melihat ke bawah. Akan terlihat segala sesuatu yang bergerak sistematis dan tidak teratur. Ia terpatri dengan benar di sana.
Ah, angin musim gugur. Aroma ini, ingatan ini, penuh aroma ladang kopi. Aroma yang menggetarkan. Seperti menyaksikan padi yang menguning menjelang musim panen. Sebuah ingatan lain, jalan kerikil dan sungai, alunan merdu suara lembut gendang melayu, biola yang ritmis, tiba-tiba menyentuh telingaku. Musik pengiring tari tanggai setiap acara seremonial resmi, pernikahan atau hanya dari saluran radio lokal.
Kemudian aku di sana. Muncul kabut yang tebal dan jarang dilalui manusia. Merasakan keberadaan bukit-bukit dan sungai yang familiar dalam masa kecil kami. Sedikit keatas, disebut lereng bukit ada sebuah pondokan. Beberapa pondokan kecil sekitaran sana, aku ke sana saat mencoba kabur sebentar dari Bapak. Aku tahu, karena aku sering melihatnya dengan jelas dari jendela kamar. Aku suka memandangnya berlama-lama, mengira-ngira berapa lama kabut itu bertahan dan meninggalkan sejumput warna kapas. Mengingat seberapa sering elang berputar-putar di tempat tertentu mengintai musuh! Kami suka menontonnya dengan berdebar. Seolah elang itu sudah mahfum bagaimana ia begitu menakjubkan, mengibas angkuh dari atas atap-atap rumah. Bagaimana ia begitu perkasa.