Perasaan yang sedikit ganjil. Sebuah perasaan kasihan. Bukan. Bukan perasaan yang benar-benar kasihan. Aku hanya harus melakukannya. Sebuah peristiwa ganjil. Kusebut begitu, karena hal demikian jarang kami menemukan.
Entahlah, apa kami benar-benar mengalaminya. Atau kejadian itu hanya bagian dari mimpi yang aku lupakan. Aku tidak begitu berusaha mengingatnya.
Kami menemukan bulu-bulu hewan yang berhamburan dalam banyak rumput dan pakis liar. Teman-teman bermainku yang semuanya laki-laki, sedang mencari biji buah para untuk permaian aduan biji para. Kami melihat banyak bulu-bulu berhamburan. Sedikit kasar dan berwarna kecoklatan. Mereka semua antusias dan menebak-nebak jenis hewan apa yang meninggalkan jejak seperti itu.
“Pasti macan,” tebak teman laki-laki kami yang tampan.
“Kalau macan bulunya lebih coklat dan mestinya belang-belang.”
“Srigala mungkin. Ini terlalu kasar untuk bulu anjing, kan?”
“Si-singa?” Temanku yang gagap ikut urun suara.
“Seperti kau tahu saja bagaimana singa itu.”
“Mereka pasti telah bertarung mati-matian.”
“Hebat!”
“Di mana bangkainya?”
Kami diam sejenak.
“Lihat, ada jurang. Mereka pasti jatuh ke sana?” Salah satu berteriak.
“Mereka merasa kesepian. Makanya mau bertarung sampai mati seperti itu.” Temanku yang kalem mulai berteori, “Mungkin ratusan mil hutan yang dekat pemukiman warga, ia tidak lagi menemukan kelompoknya. Jadi memilih mati.”
“Kasihan sekali.” Aku berkata sedih, tak tertahankan
Temanku yang setengah tonggos dan suka sok tahu berkata, “Itu mati yang heroik. Penuh harga diri. Apanya yang kasihan!”
Aku membantah, “Apa bagusnya hal seperti itu. Apa mereka hidup hanya untuk bertarung dan mati?”
Temanku yang kalem memandangku terheran-heran
“Mereka ‘kan hanya hewan.”