Residu

Dimarifa Dy
Chapter #4

Chapter 3: Ibu

“Umur tujuh tahun Ibu sudah bisa membersihkan tahi bayi. Delapan tahun Ibu sudah bisa membersihkan ladang seperempat hektar.”

Usia yang juga terus menerus diulang oleh Ibu. Ibu yang sial menikahi Bapak yang bernasib sial. Orangtua sial dan melahirkan anak yang juga sial! Tak usah berlagak, tidak ada orang kaya menyukai orang miskin. Tidak ada yang mau dekat dengan orang yang sial. Ibu merasa gagal dalam semua jalan yang baik dan benar!

Cerita-cerita menyedihkannya mengendap bagai penyakit kudis yang kronis. Tak bisa disembuhkan.

Ibu belum genap enam tahun saat keluarganya nyaris punah. Terlahir saat negeri ini juga sedang bergejolak. Saudara-saudara kandung Ibu entah bagaimana terseret oleh orang-orang organisasi. Sebagian tak kembali, sebagian menjadi mayat. Kedua orangtuanya mengalami sakit lumpuh kemudian meninggal muda. Ibu terlunta-lunta sejak masih umur enam tahun. Zaman miskin dan penuh kesialan itu, di mana semua pertanda dan mitos disembah sebagai dewa dewi agung. Simpai keramat[1] seperti Ibu dianggap sebagai mitos orang yang sial.

“Ibu hanya diupah makan sekali.”

“Ibu tidur di bawah pondok dengan selembar kain kumal.”

“Masih untung kalian tidur di rumah milik sendiri. Ibu dulu numpang! Numpang dan tidur di pondok kayu yang kalau kalian ingin tahu. Pondoknya kambing Pakcik Adammu itu bahkan jauh lebih baik.”

Samar-samar aku mengingatnya, barisan mengular sampai pembatas jalan. Demi menonton serial klasik gadis miskin yang bermata sipit di televisi rumah Makcik Nur.

Setiap Ibu berteriak memberitahu semua cerita sengsaranya, aku mengingat cerita gadis miskin itu. Membayangkan kehidupan masa kecil Ibu yang konon katanya jauh lebih sengsara. Anak umur tujuh tahun terbirit-birit sepanjang sungai sambil menggendong bayi delapan bulan. Mengempit keranjang cucian, menyapu halaman yang penuh daun pohon mangga, berjalan berkilometer sambil menjajakan kue.

Saat ibu menunjukkan foto mereka bersama dalam gambar hitam putih sambil terus berceloteh bagaimana pahitnya kehidupannya pada masa perbudakkan oleh bibi jauhnya itu. Aku membayangkan dia adalah orang yang getir dan cerewet. Orang-orang yang tidak berdaya juang melawan nasib buruk. Orang yang hanya berhenti di situ, menjadi tokoh-tokoh tua menyedihkan. Orang-orang yang terus menanti atau berhenti di jalan yang sama. Mereka yang datang ke dunia ini hanya untuk mati. Generasi yang tak punya kontribusi apa pun dalam cerita. Selain contoh bagian dari orang yang merana. Seolah tidak ada kebahagiaan di dunia ini. Seolah dunia isinya hanya orang seperti itu. Orang-orang yang akan mati sendirian.

Ketika mengetahui dengan benar, baik lewat cerita teman-teman sekolah, guru-guru ataupun lebih banyak membaca kisah dari masa itu pada sudut pandang orang lain, dunia tidak melulu isinya orang miskin dan kisah-kisah penderitaan seperti itu, aku merasa seperti dimuslihati demikian rupa.

Waktu-waktu Magrib misalnya di rumah orang lain, orangtuanya berjamaah melakukan salat, menyiapkan makan malam. Si kakak pertama mengasuh adik yang lebih kecil. Tetapi, ibu kami tidak sabaran mengenalkan luka itu lebih dini dalam telingaku.

Ibu seperti sangat suka merayakan kemiskinannya dan menganggap tidak ada penderitaan orang lain yang melebihi itu. Sebagian orang-orang dewasa sepertinya lazim berbuat begitu, berbohong dan melebih-lebihkan. Aku bertanya-tanya, apakah sebab Ibu suka sekali menceritakan penderitaannya? Semakin memekakkan telinga, semakin semangat menceritakan. Seratus kali, seribu kali atau mungkin telah sepuluh ribu kali.

Apakah Ibu tidak sedang mengalami ekstase ketika melakukannya?

Lihat selengkapnya