Residu

Dimarifa Dy
Chapter #5

Chapter: Perasaan Orang yang Sial

Bab 4

Aku mendengar suara air yang jatuh dan yang lalu menjadi pertanda, dunia yang masih bergerak, seperti alarm keberuntungan. Pikirku. Ah, ya, bisa saja orang beruntung adalah mereka telah melakukan simulasi kesialan berkali-kali sebelum ia menjadi beruntung. Mungkin kemalangan seorang lain telah disetel alarm sebelumnya hingga ia tak pernah sial sama sekali.

Sesuatu itu terus bergerak dalam dunia yang semakin transparan dan mengkhawatirkan. Ia bisa saja hal yang terbatas. Ruang lingkup yang itu-itu saja. Teman yang itu-itu saja. Senang kalau bisa cepat melupakan peristiwa yang menjengkelkan. Tidur yang damai, bermimpi bahagia di masa depan. Sialnya, pikiranku lebih suka mengingat perlakuan-perlakuan buruk itu dalam masa mendatangnya.

Kami menjadi terbiasa melihat Bapak memukul Ibu pada salah sudut rumah. Mengumpat kata-kata buruk, pertama kalinya, mengenal istilah itu. “Kau yang melahirkan anak bisu tuli. Kau perempuan sial!”

Bertahun-tahun kami juga hidup dengan deheman Bapak yang penuh ancaman. Deheman itu sering kami artikan beliau tak setuju atas sesuatu atau sekedar ingin menunjukkan dia sedang tak menyukai sesuatu. Rumah yang tak telalu lebar itu (apalagi ketika kami pindah ke rumah yang lebih kecil) akan senyap seketika saat Bapak berdehem.

Cemas seperti apa yang akan kami lewati malam ini. Ketakutan seperti apa yang mesti kami hadapi hari ini. Perasaan tak nyaman merambat setiap kali mendengarnya. Setiap hari kami berpikir kapankah kami akan terbebas. Berumpama-umpama. Berandai-andai. Andai tidak begini andai tidak begitu. Sangat membosankan. Sebelum Bapak dan Ibu benar-benar tertidur dengan tenang, kami tak bisa berhenti tak merasa was-was.

Kami akan bernapas lega jika malam itu bisa tidur dengan tenang. Tanpa suara-suara keributan oleh penyebab apa pun. Aku tidak akan melihat wajah Ibu yang penuh duka dan erangannya yang merasukiku sebagai mimpi buruk.

*

Aku adalah anak keempat dari yang tadinya lima saudara. Kemudian menjadi anak ketiga dari empat saudara. Kakak nomer satu sampai nomer tiga semuanya adalah laki-laki dan yang bungsu adalah Maya. Artinya aku adalah anak perempuan pertama dari keluarga ini. Jangan berasumsi aku punya hak istimewa sebagai penyandang status tersebut. Sejak peristiwa meninggalnya kakak pertama, akulah yang harus lebih banyak mendengarkan Ibu. Umur enam tahun, aku harus pandai membantunya membereskan rumah. Aku tak terlalu pandai. Hasil menyapuku tidak terlalu bersih. Aku juga tidak pandai mengiris bawang dan aku belum bisa menentukan berapa banyak air yang mesti ditambahkan dalam periuk untuk menanak nasi. Seringkali nasi kami kelembekkan dan atau terlalu keras dan mesti dimasak ulang.

Bapak membanting periuk nasi itu di tengah-tengah, sambil mengumpat. “Nasi mentah begini yang bisa kau suguhkan, perempuan sial!”

Lihat selengkapnya