Residu

Dimarifa Dy
Chapter #6

Chapter 5: Pemukiman Baru

Kami pindah ke pemukiman baru. Bapak telah menjadi enemy kampung sejak peristiwa ditumpahkan tampah kue, menyebarnya lebih cepat seperti wabah saat pandemi.

Bapak yang tidak bermasyarakat. Bapak yang memang tidak disukai semakin tidak disukai. Bapak orang yang tempramen dan gampang tersinggung. Ada rumor yang kurang enak disematkan dalam keluarga kami. Keluarga yang sial. Rumor yang dihembuskan perlahan semenjak kematian Kakak pertama dan semakin kencang setelah peristiwa memalukan hari itu. Mereka bilang kami keluarga yang punya anak cacat. Aku dan Maya lebih mirip anak pengemis. Kami berdua pemicu Bapak berlaku onar dan merusak dagangan orang. Tukang kue menderita kerugian materi dan mental melaporkan perbuatan Bapak pada Ketua RT lalu dengan suka rela menceritakan hal itu kemana-mana, siapa pun yang mengenal dan tak mengenal kami.

Bapak dituntut menggantikan kue-kue yang yang tidak bisa lagi dijual. Kalau tidak Bapak akan diusir dari sana.

Walikelasku juga terang-terangan menunjukkan rasa tak sukanya. Aku harusnya murid terbaik dalam pelajaran matematika. Salah satu dari tiga murid kelas tiga yang hafal perkalian satu sampai sepuluh. Setiap mendapat ponten sepuluh, guruku tak pernah memujiku. Bahkan sekedar berkomentar biasa-biasa saja pun juga tidak. Ketika nilaiku rendah, guru tersebut akan menyindir. Mengatakan dia tak percaya-percaya amat kalau aku termasuk anak yang pintar. Kebetulan saja, katanya. Mana mungkin murid buruk perangai sepertiku, punya orangtua yang sama buruknya adalah anak yang pintar. Guru itu tak lupa memuji-muji anak lainnya yang cantik dan disukainya. Teman-teman lain pun memandang jijik dan tak mau dekat-dekat denganku.

Berpikirlah, seruku. Pertama-tama, jangan menonjol dan berlebihan. Barangkali juga memang aku memang keras kepala, tidak mau menurut, jadi guruku tak menyukaiku. Beberapa kali aku sengaja menjawab salah soal-soal itu. Tidak apa-apa. Aku terus membesarkan hatiku.

Meski sejujurnya, aku sungguh tahu. Si guru memang tak mau menyukaiku. Kalau katanya karena aku dari anak keluarga itu, anaknya bapak itu, keluarga orang yang sial, bisa jadi mereka hanya mencari alasan untuk tak menyukaiku. Benar kan. Mereka hanya senang melakukan sesuatu bersama-sama mencela penderitaan orang lain untuk merasa lebih baik.

Perlakuan tak adil begitu bukan kali itu saja, misalnya kau memang belum tahu bahwa kau bisa menjadi makhluk kecil pengganggu kestabilitasan keluarga orang lain.

Suatu kali aku bermain congklak dan permainan BP (bongkar pasang) di salah satu rumah temanku. Temanku itu tengah memamerkan BP miliknya yang katanya hadiah dari bibinya. Sungguh cantik-cantik orangnya, begitu pula baju-bajunya. Dia senang aku memainkan BP miliknya. Aku memang pandai bercerita. Ibunya temanku datang dan langsung mengusirku. Alasannya mereka mau makan siang bersama dan aku adalah parasit kecil yang sangat amat wajib diusir dari rumahnya untuk itu.

Temanku diam saja melihat aku diusir oleh ibunya. Kami masih bermain seperti sebelumnya, aku mesti berbesar hati. Oh, bisa juga tidak ada lebihan lauk untuk orang lain. Mungkin jatah nasi mereka hanya cukup untuk keluarga mereka saja. Ibuku juga begitu. Selalu membagi rata semua lauk kami untuk enam orang, begitu aku menghibur diri.

Perasaan positif tersebut sedikit terdistorsi ketika lain kali aku menumpang nonton film kartun di rumah teman kami yang lain, yang baru-baru membeli televisi. Ibunya juga terlihat tidak senang. Mula-mula, ia menatapku dengan penilaian. Kedua kali ia berkata: kenapa kau berteman dengannya? Apa kau tak punya teman yang lain? Bapaknya bukan orang baik.

Bagi ibu temanku, bagi temanku, dan bagi otak mungilku yang biasanya menyimpan hal-hal baik, mencerna hinaan seperti itu sebagai perkataan biasa saja. Aku juga lebih antusias melihat betapa indahnya warna-warna dalam film tersebut atau bagaimana serunya jalan ceritanya. Tentu kami lebih peduli segala hal yang disuguhkan oleh film kartun itu daripada memedulikan omongan yang tak berfaedah seperti itu.

Lihat selengkapnya