Belakang rumah kami adalah hutan. Kiri kanannya adalah tanah yang luas dan ditumbuhi ilalang. Konon kata Ibu, Bapak memang sengaja memilih tempat sepi seperti itu. Batas aman kami. Bapak tidak mau bertetangga dengan siapa-siapa. Sejak dari pemukiman lama, Bapak jadi alergi dekat dengan orang-orang. Semua manusia dalam pandangannya mirip iblis dari neraka.
Lima ratus meter dari rumah kami terdapat sungai yang selalu kami datangi setiap pagi dan sore. Kalau sedang tidak hujan, warnanya begitu hijau seperti permata yang sengaja dilempar Tuhan dari surga untuk menempati dekat hunian kami. Aroma ilalang transisi dari musim kemarau ke musim hujan menjadikannya aroma yang merindukan.
Pada waktu tertentu, aku ikut-ikutan kelompok Ira berlari menyongsong pelangi untuk memburu bidadari atau pun tenggelam sebentar dalam lubuk-lubuknya.
Tidak ada yang tahu, aku pernah mandi hampir mati kedinginan di sana. Sengaja berlama-lama, menggosok semua kulitku mengecut dan menggigil. Seolah-olah aku mesti membersihkan diriku dari semua mimpi buruk dan menjijikkan. Ide pembersihan begitu muncul begitu saja dalam benakku yang gelisah dan ketakutan. Aku tidak lagi pernah bermimpi busuk memualkan seperti malam itu.
Aku juga tidak lagi membaca buku haram Makcik Salma. Untunglah hal itu hanya terjadi sekali dan aku melupakannya. Hanya saja alarm bahaya masih mengintai kalau aku membaca sesuatu yang agak berbahaya, perasaan jijik akan muncul secara tak tertahankan, dan aku mesti mandi di sungai sampai kedinginan. Rasanya begitu aneh dan tidak menyenangkan.
“Kak Nin.” Maya berlari-lari kecil mengikutiku. “Kak Nin mandi di lubuk lagi?” Aku membelalak. Bagaimana kurcaci kecil ini tahu.
“Tidak,” sahutku cepat. “Itu pusaran. Banyak orang mati di sana. Awas, jangan ikutin Kak Nin. Bermainlah dengan Ita.” Aku menyahutnya cepat dan berbelok, sebagai isyarat aku benar-benar tak ke sungai bagian lubuknya.
Bagian sungai yang agak dalam lainnya, memunculkan gerakan berputar dan berpusar. Tidak ada yang berani berlama-lama menempatkan dirinya pada bagian itu. Ada cerita urband legend Antu Banyu bersarang di sana. Makluk kesepian yang hidup di dasar sungai, konon, makhluk itu suka mengambil anak kecil untuk menjadi temannya. Beberapa teman laki-laki kami menjuluki bagian tersebut sebagai segitiga bermuda. (Sejak bermimpi ganjil itu aku menjauhkan diri dari bermain dengan teman laki-laki, juga memakai baju lengkap. Tidak lagi hanya memakai dalaman seperti selama ini.)
Bagian yang digemari banyak orang adalah bagian yang surut dengan arus yang deras, atau bagian surut dan arus yang tenang. Banyak ibu-ibu dan remaja main di bagian ini untuk sekedar mandi dan mencuci baju. Aku juga suka mandi di sana, merasakan batu-batu megenai kakiku. Saat pertama kali aku begitu tabjuk mandi di sungai seperti itu. Rasanya aneh mandi bersama orang-orang yang lain, bersenandung dan mencuci baju. Airnya pun jernih. Bahkan kami meminum air itu, yang kami angkut setiap subuh, sebelum terdisktraksi dengan segala kotoran. Kadang-kadang Ibu mengambil dari mata air yang agak jauh jika sungai mengeruh pada musim hujan.
Dari tempatku biasa bediri dan mengamati, aku sering melihat Ira dan lain-lainya berlari memburu pelangi yang katanya bidadari akan turun sewaktu-waktu. Meskipun tahu tidak akan menemukan bidadari yang mandi di ujung-ujungnya. Meski haqqul yakin cerita-cerita bombastis yang diceritakan dengan keyakinan penuh dan mata melotot itu hanya bualan saja. Yang katanya, ibunya pernah melihat bidadari terbang ke langit melewati lengkungan pelangi. Katanya pula, bidadari itu membawa seseorang sebagai gadis yang telah terpilih untuk hidup bahagia happily ever after seperi kisah Cinderella dan putri-putri yang lain. Aku tidak akan tertawa. Aku justru membayangkan benar-benar ada sosok seperti itu, seorang bidadari yang terbang menuju langit dengan seorang gadis terpilih.