Peristiwa kedua yang terekam jelas dalam ingatanku adalah kematian Makcik Salma. Penyebab kematian yang tidak diketahui. Banyak yang bilang dia terkena angin duduk. Kalau medisnya mungkin semacam serangan jantung. Orang kampung seperti kami menganut kepercayaan, orang yang meninggal tanpa gejala sakit apa pun, pasti disebabkan oleh angin duduk. Pada tingkatan tertentu akan dibilang tikaman angin.
Makcik Salma sudah meninggal empat hari. Tubuhnya pun telah mengeluarkan bau busuk. Orang yang pertama kali menyadari kalau Makcik Salma hilang adalah aku. Mula-mula aku bilang pada ibuku. Aku heran telah beberapa hari tidak melihatnya. Hari minggu pagi aku ke rumahnya, memperhatikan beberapa tangkai bunganya yang kering dan tidak dibuang, bukan kebiasaan Makcik Salma. Dia orang yang rapi dan telaten. Aku masih berpikir baik, dan memaklumkan, siapa tahu Makcik Salma sedang malas, tapi aku juga ingat, Makcik Salma beberapa hari ini juga tidak menjemur pakaiannya. Tidak ada orang yang tahan dengan tidak menjemur baju apalagi mendekati musim hujan, cuaca sering lembab dan berangin. Tidak mungkin dia hanya menjemur di dalam rumah.
Ibu juga terlihat khawatir setelah mendengar ceritaku. Ibu menceritakannya pada Bapak. Sayang sekali Bapak tak mengindahkan kami. Ibu kemudian mengatakan pada ibu-ibu penggosip yang sering lewat untuk membeli sayuran dan rumor itu sampailah pada ketua RT yang membuatnya mendatangi rumah itu.
Aku dengar dari Ibu, mereka juga menemukan rumahnya kotor dan ada bau menyengat berasal dari dalam rumah. Mereka mendobrak pintu.
Ditemukanlah mayat Makcik itu tergeletak di kamar mandi dengan kondisi mengenaskan. Gemparlah orang sekampung.
Tidak ada kerabat, suami ataupun keluarga. Umurnya 39 tahun. Bahkan tidak ada yang mengetahui siapa sebenarnya wanita itu. Seorang wartawan memasukkannya dalam berita dengan bumbu mengada-ada. Gadis lajang, usia 39 tahun mati sendirian dalam rumahnya. Kira-kira siapa Makcik yang malang itu? Apa rupanya nasib buruknya hingga bernasib demikian menyedihkan. Begitulah kira-kira ringkasan isinya.
Pak RT dan lainnya memilih mengurus jenazah Makcik Salma, demi meminimalisir hal buruk lainnya. Terutama mayatnya harus segera dibersihkan dan dimandikan agar baunya berhenti menyebar. Banyak orang menolak mengurusnya, alasan mereka dia hanya orang asing yang tak mereka kenal. Orang-orang kemudian saling menunjuk dan saling menyalahkan siapa-siapa yang mesti mengurus mayatnya seperti memandikan, membersihkan bahkan mengkafaninya.
Aku jadi terseret-seret karena yang menyadari hilangnya Makcik Salma adalah diriku. Orang tuaku juga ikut terseret-seret. Bapak naik pitam, dia marah sekali.
“Tidak usah sok baik. Tak usah sok peduli. Di dunia ini tidak ada manusia yang baik. Jangan peduli orang asing. Dia sendirian. Sesiapa tak ada yang tahu apa rupa dosanya sampai bisa hidup sendirian dan memalukan begitu!” Begitu omelannya. Bapak bahkan membenturkan kepalaku ke dinding, katanya untuk memberiku pelajaran agar tak terlalu suka ikut campur urusan orang. Aku tidak menangis. Sungguh. Rasanya bahkan aku terlalu muda untuk bisa membedakan apa yang perlu disedihkan dan apa yang tidak. Perlakuan Bapak yang kasar, tempramental dan seenaknya saja itu sudah terlalu biasa bagi kami.
Mau tidak mau Bapak dan Ibu juga akhirnya terlibat dalam pengurusan jenazah itu. Untung Ibu mau membantu pengurusannya dengan ikhlas. Ibu bilang dia hanya teringat oleh kematian kakak pertama. Mungkin membayangkan seandainya si Makcik adalah keluarganya atau kerabatnya. Mungkin pula Ibu merasa mereka senasib, hidup sendirian. Ibu sedikit lebih beruntung telah menikahi Bapak.
Bapak seperti yang diduga selalu mengomel. Ada saja omelannya yang menyakitkan hati. Bapak mau melakukan ikut serta mengurusnya, ya, karena dia tak mau lagi dibenci warga atau kami akan jadi bahan cacian tetangga seperti di pemukiman sebelumnya, terlebih waktu terjadi kebakaran Bapak telah mulai tak disukai. Meskipun aku tahu sejak itu pula Bapak jadi akrab dengan Pak RT. Dari Ibu aku tahu, Pak RT pula memuji-muji perbuatanku.
Tradisi pengurusan jenazah seperti meniga atau menujuh hari, langsung diputuskan hanya dilakukan sebatas tiga hari saja. Masih terdengar bisik-bisik sumbang. Seperti, apakah sudah diketahui siapa keluarganya? Apakah dia benar-benar sendirian, tidak punya kerabat dan lainnya? Sayang sekali, rupanya masih ada wanita yang tak tidak menikah, ya. Apa sebab dia PNS jadi kesulitan memilih suami. Terlalu pilih-pilih padahal buruk rupa. Tampilan hebat seperti PNS pun tidak berguna kalau hidup sendirian. Merepotkan orang-orang asing saja. Bau mayatnya sungguh busuk. Jangan-jangan dia orang yang berzina dan diusir dari kampungnya karena melakukan aib.
Dari rumor A menjadi rumor B, rumor B dan rumor C. Lain waktu mereka menyambung semua rumor-rumor itu dan menganggap itulah kebenarannya. Dari teman-teman bermain, aku juga tahu Makcik Salma menjadi contoh buruk dalam telinga semua anak perempuan. Menambah-nambah pemikiran para orang tua kami tidak menganggap penting anak perempuan bersekolah dan menjadi hebat. Perempuan hanya berharga jika ia punya suami dan berkeluarga, kalau tak mau berakhir menyedihkan seperti Makcik itu.
Umurku tiga belas tahun dan aku telah mengerti banyak hal.
“Ibu ada uang?” aku bertanya sambil mengamat-amati piring nasiku. Biasanya kami hanya dibolehkan makan dengan piring plastik. Tumben Ibu membolehkan aku dan kedua kakakku memakai piring beling.
“Makanlah saja.”
Saat mencuci perabotan yang dipakai Ibu untuk memasak aku juga terheran melihat belanga dan panci baru. Ah rupanya benar Ibu banyak uang, aku berpikir-pikir ingin memintanya sedikit, sudah lama mengidam bubur ayam baru buka dekat sekolahan. Uang sakuku sering tak cukup dan aku malu membeli hanya setengah porsi. Sejak tak ada Makcik Salma aku tak punya tambahan uang untuk jajan.