Residu

Dimarifa Dy
Chapter #9

Chapter 8: Orang yang Setengah

Setengah hati. Setengah-setengah. Setengah.

Sesuatu di dunia ini yang membuatku membencinya. Memikirkan kenapa tak bisa menuntaskannya menjadi sebuah cerita utuh.

Aku hanyalah orang yang setengah.

“Kau tak secantik itu. Dasar perawan buruk tingkah!”

“Sudahlah tak elok, buruk pula perangai!”

Meski haqqul yakin, wajahku tak sejelek hinaan Nenek tak urung rasa percaya diriku juga terjun bebas. Aku pernah bertekad membuatnya lebih berharga, agar nanti aku juga akan diingat sebagai perempuan yang berkesan dan disukai. Menekankan tidak sama dengan orang yang lain. Membangun nilaiku sendiri dan semua kebanggaan yang bisa kuciptakan. Tetapi sejauh yang kuingat, aku hanyalah orang yang setengah.

Aku ingat saat kami memasuki masa-masa remaja, aku remaja perempuan ke sekian yang akan diajak kenalan oleh remaja laki-laki pada saat masa penjajakan. Aku hanya bisa rangking sepuluh dan tak pernah melebihi itu waktu SMP.  Hal demikian bukanlah sesuatu yang istimewa di tengah kampung yang menganut sistem patriarki garis keras dan peradaban yang sangat-sangat konservatif. Tempat perempuan yang dipercaya hanya boleh mengenal tiga tempat menjijikkan, dapur, sumur kasur. Dan aku lebih membenci, aku tidak bisa lagi berpikir sederhana seperti mereka.

Menyebalkan sekali, tidak bisa hidup biasa-biasa saja, bermimpi yang biasa-biasa saja. Terus memikirkan semua hal kecil dan terlalu berlebihan, perasaan sentimetil yang bodoh. Orang-orang begitu mudah menemukan orang yang tepat dan memutuskan menikah. Aku mengarang demikian banyak alasan untuk semua rasa yang tidak aman.

Aku tidak bisa membayangkan seorang pria asing naik ke ranjangku yang suci. Tidak sanggup membayangkan kehidupan perempuan dengan menambah orang tua perempuan lain mendikte hidupku dengan semua label melelahkan yang telah dijejalkan ke telinga kecil kami secara tidak hormat. Bagaimana kalau si ibu mertua lebih menyeramkan dan menjengkelkan daripada nenek kami. Bagaimana kalau aku nanti disiksa lebih daripada Ibu. Apakah mereka tidak mencemooh saat aku tak berhasil memasak opor ayam yang sempurna. Bagaimana jika mereka tahu aku begitu bodoh dalam menyajikan makanan. Aku bahkan tidak pernah berhasil membuat bolu pandan tanpa bantuan Ibu.

Lihat selengkapnya