Residu

Dimarifa Dy
Chapter #10

Chapter 9: Perempuan Lahir Tiga Kali

Cerita tentangnya mungkin selamanya akan jadi urban legend memalukan. Contoh sikap hidup dari seorang perempuan yang tak patut untuk ditiru. Terutama kampung kami, dan kampung-kampung sebelah kami.

‘Oh, Tuhan, masihkah dunia berjalan dengan wajar. Kenapa di dunia yang serba teratur dan menyenangkan ini masih ada orang yang tak memilih menikah dan hidup dengan aib seperti itu.’ Mereka semua sudah seperti orang mabuk kecubung. Demi Tuhan.

“Cerita-cerita absurd yang menanamkan banyak mimpi absurd dalam otak kecil kita,  Khayalan yang semakin lama terasa semakin absurd,” katanya. “Karena manusia memang lebih suka hidup dalam imajinasi seperti itu. Sayangnya, banyak anak-anak perempuan yang juga terus bermimpi seperti itu.”

“Bagaimana lagi, memang begitulah situasinya.” Makcik Salma tersenyum.

“Apa Makcik waktu kecil juga begitu?” Aku hanya penasaran.

Makcik Salma tertawa. Tak lama ia mengangguk. Aku menatapnya, rasanya aneh melihat sisi lain dari perempuan yang kukagumi. Dibalik kemandiriannya, ia juga suka mengkhayal seperti kami, dia tidak berasal dari dunia lain.

“Percayalah, Makcik lebih pengkhayal daripada yang kau ketahui.” Makcik tertawa. Menakjubkan, aku merasa plong. Merasa banyak beban yang selama ini aku pikul itu hilang begitu saja.

Ah, begitu.

Makcik Salma menambahkan. “Orang-orang bermimpi itu, mereka bukan tak masuk akal. Mereka hanya ingin bertahan hidup di dunia serba tak instan ini.”

Aku menatap Makcik Salma sejenak.

“Makcik.” Aku memanggilnya ragu. “Apa anak perempuan seperti kami bisa bermimpi?” tanyaku.

“Bapak bilang kesudahan perempuan hanya menjadi istri seseorang. Teman-teman perempuan di sini jarang yang melanjutkan sekolah SMP. Aku bahkan ragu apa Bapak mau menyekolahkanku sampai SMA.” Makcik Salma tak menjawab.

Aku menilai-nilai, jadi apakah Makcik pernah menyukai dongeng Cinderella, hum, tidak. Apa pernah memimpikan seorang pangeran seperti itu?

“Oh, ya …” Makcik Salma beranjak, berdiri di depan rak-rak komik. “Kamu cukup pintar. Ngomong-ngomong, misalnya nanti Makcik tak mau lagi merawatnya, Nin mau?”

“Mau, Makcik.” Aku langsung mengiyakan.

Lihat selengkapnya