Aku sedikit terlambat mengenalnya, Nyai Ontosoroh dari buku Bumi Manusia. Buku yang iseng-iseng aku baca, guru Bahasa Indonesia kami yang menyarankannya. Ketika itu sedikit sulit mendapatkannya, guruku itu meminjamkan begitu saja saat tahu aku suka membaca.
Oh ya, sejak masuk SMP aku telah bisa membaca hal-hal yang berbau sedikit dewasa, meski masih berhati-hati tapi seiring beberapa pengetahuan merasuki otakku, menambah-nambah kesesuaian pemikiran tentang banyak hal aku juga tahu batas boleh dan tidak untuk remaja perempuan. Seperti aku juga tidak gampang dibodohi lagi oleh lelucon aneh, anak perempuan tak boleh bebas berbaring di tanah, ia bisa hamil hanya karena dilangkahi burung. Tidak tahu darimana asalnya lelucon itu, tapi kami cukup berhari-hati dalam alam terbuka. Tidak sembarangan bermain apalagi berbaring seperti orang-orang tua bilang.
Kalian boleh tertawa, aku bisa tidak percaya bualan bidadari yang mandi ketika ada pelangi. Tapi begitu mudah dikibuli oleh lelucon begitu. Hanya saja memang edukasi tentang seks dan pertumbuhan keperempuanan lebih masuk ke dalam pemikiran kami, jika disangkut-pautkan dengan mitos, alam dan seribu misterinya.
Aku suka menyebutnya, aku lebih dewasa. Meskipun beberapa kali demi mencegah mimpi buruk aku masih mandi di lubuk berlama-lama.
*
Mirna si juara satu itu, menatapku tegang.
“Setelah itu apa? Tidak ada. Tak ada yang akan mengingatmu. Kau hanya akan diingat oleh beberapa orang, entah mereka pernah menyayangimu, atau tidak. Sebagai perempuan yang kalah. Kau tak bisa apa-apa lagi.”
“Kemerdekaan tubuh?” Aku berkata, “Kompas moralku mengatakan, tidak harus berselingkuh untuk menunjukkan pemberontakan wanita terhadap patriarki.”
“Memang kompas moral yang bagaimana yang harusnya perempuan lakukan?” tanyanya lantang. Dia terkenal penentang keras sistem patriarki. Mirna dengan bangga menyebut dirinya seorang feminis.
“Aku setuju dengan perempuan mestinya bebas menentukan nilai dirinya. Tapi tidak untuk sex bebas dan berselingkuh. Kenapa Sri tidak minta cerai saja. Kenapa mesti berselingkuh?” Aku menentangnya balik. Kami sedang berdiskusi isi buku ‘Pada Sebuah Kapal’-nya NH. Dini.
Satu menit, dua menit belum ada jawaban. Aku menarik napas.
“Poinku adalah …” Aku berkata bersusah payah, “Kenapa untuk memprotes sebuah sistem yang katakanlah tidak benar dan menyakiti salah satu kaum, mesti melakukan sesuatu yang kotor!”
Mirna berdecak.
“Pembentukan pemikiran yang dilakukan mereka sejak dulu sekali, kalau perawan harus begini, harus begitu. Aku sayangkan, akan banyak ketakutan dalam dirimu, diri banyak perempuan, melanggar norma, dan was-was apakah kau tidak sedang menyakiti orang, perasaan tidak enak, batas suci, bla-bla! Dengar, Nin, begitulah mereka memanipulasimu, memanipulasi perempuan, untuk terus tunduk terhadap nafsu mereka, distorsi tentang kesucian itu sendiri!” Penuh determinasi, aku jadi tergagap.
“Kita tahu benar tentang kesucian perempuan saat malam pertama, tetapi apakah kita juga pernah dengar tentang kesucian laki-laki dalam malam pertama …” Mirna menatapku penuh kemenangan.
Aku diam. Aku telah tahu hal demikian sejak umur dua belas tahun, saat ramai-ramainya teman-teman seumur itu bergosip tentang pernikahan dan malam pertama. Aku hanya bisa memandang Mirna nanar.