Residu

Dimarifa Dy
Chapter #12

Chapter 11: Kedatangan Penghuni Baru

Ada banyak orang di dunia ini. Aku terus sendirian. Begitu ramainya, begitu meriahnya, aku tidak pernah merasa menjadi bagian dari mereka. Aku tidak tahu keberuntungan seperti mereka. Sebelum tersesat dalam semua perdebatan eksistensial, berjarak dengannya seratus tahun bumi berjalan, kami telah melakukan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, kami juga terus terluka.

Agak naik sedikit ke atas dari semua sawah-sawah dan padang rumput utara kampung kami, terdapat tanah perkuburan yang luas. Pada barisan paling lama perkuburan itu adalah nama-nama orang dari kampung kami, kampung sebelah-sebelah kami. Barisan pertama pekarangan tersebut yang dahulunya adalah penghuni-penghuni pertama adalah kuburan Makcik Salma.

Barisan kelimanya, salah satunya adalah nama nenek kami. Kenangan tentangnya juga bukan kenangan yang baik yang kalau mendengar sesiapa mengguman namanya, seperti ada perasaan tercubiti yang sakitnya menjalar ke semua pembuluh darah, yang aku tak tahu di mana pusat rasa sakitnya. Perasaan yang membuatku menjadi sangat keras kepala dan penuh aturan. Letupan yang tidak aman. Sesuatu yang memunculkan rasa sakit. Semacam melihat genangan darah. Sesuatu yang menjijikkan.

*

Nenek adalah salah satu orang yang paling berkontribusi menanamkan kebencianku terhadap semua standar sosial dan semua hal normal untuk kelangsungan peradaban di dunia, setidaknya untuk duniaku. Perempuan tua itu yang terus mendengungkan dongeng seramnya, atau sabda keramatnya: beban yang mesti ditanggung oleh perempuan.

Ditandai tebal-tebal dengan crayon berwarna merah, hari itu keluarga kami kedatangan penghuni baru. Tamu yang sebenarnya juga tidak disukai Bapak, yang tidak aku sukai berkali lipat lagi dari itu.

Bapak memperlihatkan rumah kami yang kecil untuk menolak kehadirannya. Menerangkan bagaimana kami tidur di ruang depan dengan kasur seadanya bergantian dengan ruang makan, ruang belajar, ruang istirahat. Tak lupa juga menambahkan rumah kami masih terlalu kecil untuk menampung satu orang lagi.

Aku dan Maya sebenarnya telah dibuatkan kamar sendiri. Jadi rumah kami yang semula 4 x 7 meter itu ketambahan ruangan tiga meter lagi. Bapak membuatnya saat aku masuk SMP. Masih berdinding bata merah dan berlantai kasar.

Di depan kamar kami Bapak akan membuat dapur dan ruang makan, jadi untuk rumah bagian depan hanya akan digunakan sebagai tempat tidur Bapak dan Ibu, masih dalam rencana. Aku senang bukan kepalang, kami akhirnya punya kamar sendiri. Aku bisa menaruh buku-buku bekas yang telah aku kumpulkan dengan leluasa. Aku bisa membaca sampai larut malam tanpa mengganggu siapa-siapa.

Terlebih, aku juga terbebas oleh perasaan menjijikkan jika satu saat memergoki mereka lagi. Bahkan mungkin menyelamatkan jiwa Maya yang suci. Aku kaget sekali saat Maya berkata, katanya dia melihat sesuatu yang aneh. Kalau kalian lupa, Bapak dan Ibu selalu bersikap seperti orang asing dalam rumah. Bapak tak pernah menyapa Ibu lebih sepuluh patah kata, itu pun hanya memerintah untuk menyiapkan makannya. Jadi kejadian begitu ya cukup aneh bagi otak kecil Maya.

Aku tanpa sadar mencubit Maya keras-keras. Aku bilang kalau melihatnya lagi, tutup mata rapat-rapat dan pura-pura tidak tahu. Kalau tidak Bapak atau Ibu akan mati. Entah dia mengerti atau tidak, sejak itu adik kecilku itu tak pernah lagi berkata aneh-aneh.

Kesenangan kami lenyap. Nenek dengan sewenang-wenang merampas satu-satunya hal yang baik yang pernah Bapak buatkan untuk kami, untukku. Tanpa merasa bersalah, Nenek terus meletakkan tasnya di kamar kami. Ibu seperti babu jaman kolonial, menyiapkan semua keperluannya dengan takzim dan penuh hormat. Beruntung Bapak sudah membuatkan sumur di halaman belakang dan meletakkan beberapa batu ukuran sedang sedikit lempeng sebagai pengganti lantai pada sekitarnya. Bayangkan kalau kami masih mandi di sungai, akan sangat merepotkan.

Lebih menyebalkan, Ibu terus membela Nenek, alasannya, Nenek adalah satu-satunya kerabat bapak yang menyukainya. Sungguh bodoh. Meski terus dikatakan perempuan pembawa sial. Meski kami kerap melihat Nenek memarahinya, Ibu tetap menganggap apa yang dilakukan Nenek adalah hal yang wajar sebagai mertua dan orang tua yang telah sepuh.

Aku sungguh tidak menyukai semua sikap penurut ibunya. Lebih-lebih tidak menyukai semua alasan Ibu untuk mematuhi Nenek. “Itulah alasan hidup perempuan. Melayani suami dan mertua seumur hidup!”

Sungguh absurd. Aku makin kesulitan memahaminya. Aku merasa semua contoh sikap Ibu lebih dari sekadar racun ketakutan dan kekhawatiranku terhadap sesuatu yang bernama pernikahan.

Perasaan cemas terus bergelayut dalam pikiranku. Satu-satunya yang menenangkanku adalah kenyataan aku belum menstruasi hingga saat itu. Mereka meski tidak begitu paham agama, Ibu dan orang-orang tua itu mengerti gadis yang telah balig yang boleh dinikahkan.

“Perempuan itu mesti di rumah. Perempuan tidak baik terlalu banyak berpikir. Perempuan mestinya hanya mengasuh dan mengurus rumah tangga. Tidak mesti bernilai untuk memilih apa yang sebaiknya dilakukan. Ikuti saja alurnya, dengan begitu kau akan tenang.”

Lihat selengkapnya