Residu

Dimarifa Dy
Chapter #13

Chapter 12: Periode Tengah

Saat tumbuh dewasa lebih sedikit pandangan kami sedikit banyak telah berubah. Aku tidak harus menyukai banyak hal dengan pertimbangan ini itu. Meski tidak sepenuhnya, dan masih membawa pikiran-pikiran masa kecil dan pra remajaku, aku tahu aku juga telah menambah beberapa emosi dan pemikiran dalam diriku. Sedikit lebih menerima: beginilah dunia itu.

Masa-masa itu, kami menghabiskan waktu dengan bersepeda dan berebut mencapai finish oleh kesepakatan yang kami pertimbangkan hati-hati, agar tak ada kecurangan. Senang saat mencapai tujuan lebih cepat dari yang kami hitungkan melewati jalan-jalan yang teduh dan merindukan. Memandang damai pohon-pohon sepanjang pinggir jalan. Kemudian menunggu matahari sore yang tenggelam dengan anggun. Rasanya hidup yang berjalan akan terus seperti itu. Rasanya enggan bertemu besok, menanti harap cemas. Adakah aku berbuat kesalahan hari ini. Akankah Nenek akan kehabisan kosakatanya sekali ini untuk semua wejangannya yang menyeramkan nan mengesalkan itu. Atau Bapak tidak terus-terusan memandangku jijik perkara kesenangan-kesenangan kecil seperti itu.

Meskipun aku tahu harapan itu sungguh mustahil. Aku hanya harus pulang. Aku harus telah terbiasa dengan alur cerita yang sama. Tidak ada kejutan yang membahagiakan seperti kisah Cinderella atau Snow White. Namun begitu, aku selalu menanamkan rasa percaya bahwa jika kita berpikir baik, semua juga akan baik-baik saja. Semua rutinitas dalam ceritaku dibuat sudah seperti itu. Aku mesti melaluinya. Ini juga akan selesai. Happy ending. Aku tertawa ringan dengan mantra yang terus kusebut itu. Dulu pikiranku memang sepolos itu. Aku juga bingung kenapa bisa begitu tabah menjalani hidup mengerikan begitu.

Waktu hampir enam belas tahun. Masa-masa yang menyenangkan sudah terlewat, teman-temanku berganti. Usia yang termasuk usia krusial bagi anak perempuan kampung seperti kami. Kami dianggap cukup umur kalau mau menikah. Teman-teman perempuan seumuranku dan tidak melanjutkan sekolah, juga hanya berpikir untuk menikah. Mereka tidak mau lagi bermain seperti anak kecil. Waktu setahun itu, mereka semua berlomba mendapatkan calon suami yang pantas dan sisanya mendedikasikan waktu persiapan menjadi seorang istri.

Aku tidak bisa untuk tidak gugup, kami telah terbiasa dengan hal demikian. Tidak ada yang memasalahkannya. Aku hanya merasa sedikit kesepian. Meski begitu aku cukup senang memikirkan Ibu setuju saat mengatakan aku ingin melanjutkan ke jenjang SMA. Aku juga sudah boleh bersepeda jauh sendirian. Bisa membeli dan memilih sampul bukuku sendiri. Melengkapi alat tulisku sendiri. Membeli buku bacaan bekas dari tukang loak yang mereka jual murah. Mendengar lagu klasik sering kami dengar dari kanal radio yang berisik. Hiburan yang mewah. Aku juga senang pernah merasa iri saat melihat kawan sekelas menyanyikan lagu bahasa inggris dengan fasih. Terlihat berbeda dan keren, merasa hidup. Merasa begitulah seharusnya kanak-kanak.

Aku mengabaikan kemungkinan Nenek terus menentangku masuk ke sekolah menengah atas. Aku berusaha keras untuk masuk sekolah favorit itu yang biayanya minim. Sekolah bergengsi di kota dan dengan pembayaran SPP murah. Aku juga sudah melakukan beberapa simulasi rute yang mana yang lebih cepat untuk sampai ke tempat tujuanku nanti. Memandang penuh kagum gedungnya yang sudah tua, terlihat begitu mewah di mataku. Lapangan rumput, pohon cemara dan bangku-bangku yang kupandang sepadan. Bahkan mungkin perpustakaan yang akan segera jadi favoritku juga berdiri dengan anggun. Aku sungguh berdebar membayangkan beberapa anak laki-laki dalam masa tumbuh kami, mereka bermain basket, sepakbola dan semua kegiatan dalam masa menuju dewasa yang keren. Apakah mereka akan melihatku nanti. Mungkin aku juga akan jadi salah satu remaja centil yang suka mengintip mereka dari jendela kelas. Wajahku mungkin akan sedikit memerah membayangkan semua itu.

Teman-temanku juga akan lebih banyak. Lebih beragam. Beberapa orang yang melakukan survei yang sama dengan sekolah itu. Kami bertemu saat aku melewati kos-kosan. Ah, apa mereka akan jadi teman-temanku nanti. Mereka orang kabupaten yang ramah, takjub saat mengenal dan mengetahui mereka berasal dari tempat berbeda yang belum pernah aku ketahui. Aku jadi tahu nama banyak kampung daerah kabupaten, orang-orang kebun dan punya banyak tanah. Aku juga tahu di dekat sekolah kami ada rumah pejabat yang punya rumah dengan lahan satu hektar, yang bisa aku jumpai kalau lewat rute memutar lainnya. Rumah itu punya pagar yang tinggi dan tiangnya lebih tinggi. Aku memandangnya iri.

Lihat selengkapnya