Residu

Dimarifa Dy
Chapter #14

Chapter 13: Lelaki Beraroma Vanilla

Kelahiran seseorang sekaligus bersamaan dengan kejadian besar. Kau bermimpi teman lamamu, besoknya dia tegak di depan rumahmu. Kebetulan-kebetulan yang terlihat acak padahal tidak. Ia telah diatur sebelumnya.

“Mungkin ini disebut konspirasi kosmik!” katanya sambil tersenyum.

Aku ingat dia mengatakan hal itu sambil tertawa, ketika kami bertemu sekian kali di rak buku dan menatap satu-satunya buku lusuh dan kurasa sekarang ia telah menjadi tempat paling mewah untukku, bahkan dari mall yang aku kunjungi beberapa hari kemarinnya.

“Aku tidak tahu, di kota ini ada juga yang menyukai buku Haruki Murakami.” Dia berkata. “Kau ambillah. Aku bisa membelinya di tempat lain.” Aku hanya memandang punggungnya yang sedikit lebih tegap dengan nanar.

Dia tidak tahu, aku tak punya cukup uang untuk membelinya. Aku hanya heran, bisa menemukan nama penulis tersebut di sini. Aku sama terkejutnya dengannya.

Kami sedikit berbincang. Aku hanya merasa ingin menarik perhatiannya, dan berkata tidak menyukai buku karangan NH. Dini.

“Kenapa?” tanyanya.

“Aku hanya tidak suka bagaimana dia menggambarkan karakter perempuan dalam buku-bukunya.” Aku memandangnya ragu, mengingat-ingat diskusiku dengan guru bahasa Indonesia kami dulu.

“Aku mungkin produk perbudakan dari sistem warisan itu. Aku juga menentang patriarki, tak suka ibuku hanya seperti babu, tapi bukan berarti setuju dengan pemikiran perempuan boleh melakukan hal demikian.” Aku ingin menambahkan kalau kau merasa tak adil terhadap sesuatu, lakukan hal yang sama pada orang lain, tapi tak jadi, Nenek melarangku terlalu sok pintar, aku takut dia jadi tak menyukaiku.

Menyukai? Wajahku mestinya memerah saat itu.

“Hm. Menarik.” Menarik. Dia bilang menarik.

“Apa kau juga?” Aku bertanya. Berharap.

“Aku tidak pernah membagi bacaanku dalam kategori suka dan tidak suka,” katanya. Memilih bersikap netral, rupanya.

Lelaki itu lalu tersenyum samar. Demi Tuhan, aku sungguh menyukai senyumnya yang seperti itu. Seperti sesuatu yang datang dalam semua khayalan dari dunia lain.

“Kurasa beliau hanya ingin mengatakan pemikirannya.”

Aku masih memandangnya dengan berbinar.

“Kalau kau tak menyukainya pemikirannya, kenapa tidak kau saja yang menulisnya. Pemikiran-pemikiranmu.”

Hah. Apa dia sedang menggodaku?

Lihat selengkapnya