Sebelum itu, aku juga pernah merasa Nenek terlalu aneh untuk terus bersikap sebagai Nyonya besar yang berkuasa. Sekali-kali, Nenek mengeluh ketika mesti mandi dengan sabun biasa dan air yang diirit. Menitikkan air matanya saat memakan nasi goreng yang hanya berbumbu bawang merah dan cabai.
“Andai saja kakek kalian mendengar peringatan itu, kalian mungkin tidak begitu menderita dengan Bapak kalian yang miskin ini!” Nenek juga mengumpat bapaknya yang tidak sekompeten anak-anaknya yang lain hingga mesti hidup miskin. Lain kalinya beliau pula mengumpat silsilah Ibu yang sial. Dan dari sinilah aku mengetahui hal ihwal sejarah keluarga ini.
Konon, keluarga Bapak dulunya cukup berada. Kakek juga dikenal sebagai lelaki mapan dan tempramental. Perpaduan yang cukup apik untuk seorang laki-laki pekerja keras zaman dulu yang mapan dan berjaya.
Bapakku bungsu dari tujuh bersaudara. Saudara laki-laki bapaknya yang lain banyak yang berjaya, punya kebun dan huma sendiri, berbekal warisan sepotong kebun dan ceramah Kakek yang cukup memerahkan telinga.
Bapak baru berusia sepuluh tahun saat rumah panggung mereka yang besar terbakar habis. (Di sini akhirnya aku paham kenapa Bapak sangat hilang kendali dan nyaris kesurupan saat terjadi pembakaran ladang ilalang sekitar rumah kami dahulu).
Masa itu adalah masa-masa negara ini masih dalam masa penyesuaian dan politik yang sering berkonflik. Masa-masa semua orang berebut menjadi terdepan dalam euforia kemerdekaan. Kampung Bapak rupanya pula tersentuh hal demikian, organisasi-organisasi politik. Organisasi yang diyakini Nenek dan keluarga besar sebagai penyebab kebangkrutan Kakek.
“Organisasi busuk. Mereka hanya berharap pada sumbangan. Mendingan aku mati daripada memberi uang pada organisasi busuk itu.”
“Komunis. Cuih. Apa hebatnya organisasi Lenin itu!”
“Mana ada paham yang berpihak pada rakyat jelata. Semua orang tahu semua hal politik adalah jahat dan busuk. Orang-orang ladang seperti kita, kalau mau berhasil, ya, bertani. Sekolah dan pidato-pidato ini itu tak akan membuat kenyang. Mereka yang mau berusaha dan bekerja keras yang hidupnya makmur.”
“Lihat Sukarno, sibuk kawin saja, dasar sampah komunis.”
Begitu kira-kira penolakan Kakek waktu itu.
Rumah panggung Kakek yang terbakar dalam minggu yang sama. Semua aset yang dia kumpulkan bertahun-tahun ikut lenyap dalam kobaran api. Bahkan akta jual beli kebun yang hanya ditandatangani Kades itu.
Kehilangan rumah yang dipandang sebagai lambang kemakmuran dan martabat si penghuni rumah, tak ayal membuat Kakek depresi dan lumpuh. Para warga yang bersimpati bahu membahu membangun rumah yang jauh lebih kecil dengan bahan kayu dan papan seadanya.
Kakek semakin depresi. Beberapa emas simpanan hilang dalam peristiwa itu. Beberapa surat tanah kebun juga hilang. Ditambah-tambah pikiran Kakek tiba-tiba sudah tak waras dan kehilangan ingatan batas-batas kebun kepunyaannya. Dimanfaatkan anak-anaknya yang lain, mereka yang punya kebun berbatasan dengan Kakek untuk menambah hektar mereka. Pula didukung oleh Kades yang korup dan sedikit biadab. Saudara-saudara Bapak membuat surat akta baru dengan uang suap yang cukup banyak.
Huma dan kebun yang tersisa juga habis dijual untuk biaya berobat. Keluarga Bapak morat-marit. Mereka terus berselisih letak dan batas-batas kebun. Kakek yang stroke hanya bisa memandang penuh kemarahan.
Mereka juga tak lagi menjenguk orang tuanya setelah puas dengan hasil perdebatan dan merampok sisa-sisa harta Kakek.
Bapak yang bodoh dan malang sendirian mengurus orang tua mereka yang sakit dan depresi. Sekaligus tempat pelampiasan.
Perlakuan tidak adil itu pula yang menyebabkan kepribadian beliau emosional, antisosial dan pemarah. Mengulang efek domino dari orang tuanya, melampiaskan semua kemarahannya pada dunia yang tak adil. Kepada kami.
*
“Puih, bisa apa kau. Tidak ada makan siang gratis!”
“Orang kaya itu semua adalah penipu.”
“Tak usahlah bangga kali kau, Indira! Bapakmu bisa kaya sebab menipu Abak dan Umak.”
“Kau kaya raya sekarang atau nanti, ingat. Itu adalah hasil menzalimi bagian Pakcikmu ini.”
“Berhentilah sok perhatian sama nenekmu! Kalau kalian punya hati tak akan sampai hati membiarkan nenek tua renta itu hidup di gubuk reyot ini!”