Residu

Dimarifa Dy
Chapter #16

Chapter 15: Reset

Berdiri di sana sedikit lebih lama di sana. Melihat keramaian dan situasi kacau dari jembatan penyeberangan. Mengamati hiruk pikuk itu lamat-lamat, menghitung-hitungkan, mengira-ngira. Mereka yang setia menunggu lampu merah. Mereka yang melanggarnya.

Ia terus mengamati, seolah bisa mengikuti semua detail pergerakan sekecil apa pun yang terjadi di bawahnya, pikirannya membayangkan permainan tetris, menyusun kotak-kotak yang terus muncul dan membangun balok panjang yang rapi dan tersusun sempurna. Balok panjang ia ibaratkan sebagai lampu hijau, mengosongkan sebagian sisi perempatan itu. Sesaat senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Senyum itu pupus. Matanya berganti dengan kabut amarah yang tebal ketika melihat seorang pengendara motor nakal yang melabrak lampu merah. Matanya terus melihat situasi dengan tak berkesip. Membayangkan dari arah lain kendaraan-kendaraan berhamburan deras dan tak ayal tabrakan itu terjadi.

Tempo tabrakan yang begitu cepat, intensitas benturan. Yang dia dan orang-orang itu tangkap kemudian darah berhamburan. Orang-orang segera berkerumun membentuk lingkaran raksasa. Seperti semut menemukan gula dalam suakanya.

Ia terus memperhatikan. Kerumunan semakin lebar dan besar. Mereka yang panik. Mereka yang gemetar. Antrian lebih panjang. Suara sirine terdengar dari kejauhan.

Seseorang berdiri di sampingnya, mengikuti arah pandangnya.

“Sesuatu yang simetris dan rapi memang enak untuk dilihat.” Perempuan itu tersenyum.

Nin menoleh pada perempuan asing itu, heran. Seharusnya tak terlalu mengherankan, sih. Kejadian seperti itu bagaimana pun memang menarik perhatian. Mereka saling menatap sebentar. Senyum perempuan itu tetap terkembang. Seperti sihir.

“Ketika mereka melanggarnya, itulah yang patut terjadi.”

“Benar kan?”

Entah kenapa, Nin merasa sesuatu yang berbeda dalam nada suaranya. Semacam kepedulian yang mendebarkan. Ia tidak menyukainya. Perasaan yang tidak aman. Perasaan yang kerap menelanjanginya, seolah telah berkhianat kepada dirinya yang mulia.

“Namaku Laras.” Perempuan itu tersenyum. Senyum yang cantik dan menyilaukan.

“Apa kau alien?” tanyanya.

“Alien?” Laras mengernyitkan keningnya.

“Teman SMP-ku, ia juga tergila-gila pada kerapian,” katanya.

Nin melangkah meninggalkan kerumunan berdarah di bawah sana seolah ia telah seribu kali melihat pemandangan seperti itu.

*

“Vanilla Latte, dua.” Perempuan itu menatap dua remaja perempuan itu kemudian mengangguk perlahan.

Nin menoleh, rekannya sedang tidak ada. Perempuan itu menimbang biji kopi yang baru digiling hingga mengeluarkan aroma harum. Dengan cekatan ia menuangkan susu bertekstur microfoam halus ke dalam cangkir dengan gerakan melingkar. Dalam hitungan detik, sebuah pola ukiran daun tulip yang sempurna tercipta di atas permukaan kopi latte yang hangat.

Gadis itu terus sibuk melayani beberapa tamu lagi di belakang remaja itu, ia bernapas lega saat salah satu rekannya telah siap membantu.

Matanya sedikit membesar saat melihat sosok familiar, antri di barisan terakhir. Nin

melirik jam tangan murahannya. Memberi kode, shift kerjanya sebentar lagi.

           *

Nin menaruh sebutir gula dalam kopinya. “Dalam beberapa hal di tempat umum misalnya, tanpa sadar kau sering tertarik melihat orang-orang yang berlalu pergi. Tanpa tendensi apapun. Tanpa minat apa pun. Kemudian kau bertanya-tanya, apa mereka tidak sedang bersedih? Apa mereka benar bahagia seperti yang terlihat …”

“Oh, apa aku pernah cerita tentang sebuah kisah yang menyebalkan?” tanyanya.

“Semua ceritamu juga menyebalkan.”

“Tidak-tidak, dengarlah, aku ingin tahu apa kau akan setuju denganku.”

Laras memandangnya, mengisyaratkan dia siap mendengarkan.

“Dulu kami pernah menemukan bulu-bulu hewan di rerumputan dan pakis dalam hutan karet yang agak jauh dari pemukiman. Pemandangan itu menjadi agak luar biasa, karena kami sering dijejalkan cerita bagaimana epiknya cerita dari penguasa hutan tersebut …”

Lihat selengkapnya