Residu

Dimarifa Dy
Chapter #17

Chapter 16: Nyonya dan Si Rubah

“Aku pikir, kau bukan orang yang sering diabaikan, kau yang menolak mereka.”

“Aku juga merasa begitu.”

“Bagus. Jadi tidak ada yang menyadarimu.”

Nin menatapnya.

“Kau mau melakukannya.” Laras membalasnya. Penuh intimidasi yang samar.

“Bagaimana caranya?” Nin mengerjap.

“Tidak terlalu sulit. Kau hanya perlu meletakkan ini dalam minumannya.”

Nin hanya memandangnya. Nin mengenalinya. Mereka pernah kerja di apotik sebelumnya.

“Tentu, dengan penyamaran.”

Begitu. Pikirnya.

“Laki-laki seperti mereka hanya perlu diberi sedikit pelajaran, bukan?”

“Kenapa aku?” tanyanya ragu.

“Karena kau pasti menyukai sensasinya. Seperti menahan kencing.”

“Aku tak pernah merasakan perasaan seperti itu lagi.”

“Atau …” Ia menunggu.

“Seperti kau menemukan bagaimana nenekmu meninggal …”

Nin membelalak sekarang. Sebentar perasaan ketakutan tersirat di matanya.

*

Tempias hujan dan angin menyentuh kaki-kaki yang bersendal jepit atau hanya sepatu murahan. Beberapa dari mereka justru menjulurkan kakinya pada air hujan yang jatuh. Ia mendapatkan nama itu dalam panggilan terjawab. Ia tak berminat meneleponnya kembali. Tapi penasaran juga apa yang ingin adiknya katakan.

Kelontang. Kaleng minuman entah ditendang siapa. Hampir mengenai kaki seorang gadis remaja yang terlihat sangat murung. Sepertinya dia sangat kesal dengan cuaca sore ini. Nin memperhatikan sebentar, entah kenapa dia jadi memikirkan Maya. Gadis itu memegang erat tas sandang rajutnya, ia benar-benar membayangkan Maya.

Nin membuka ponsel dan membaca media sosialnya, menggulir sebuah utas pada tempat pertama di timeline, bercerita tentang kehidupan rumah tangganya yang goyah sebab disinyalir adanya orang ketiga. Ratusan ribu views, ribuan orang menyukai dan dibagikan.

Ia mengklik timelinenya sendiri yang sering menulis hal random. Misalnya tentang cuaca hari ini, perilaku manusia yang suka datang ke kafe tempatnya bekerja beberapa tahun terakhir. Ataupun mengomentari hal yang ia baca dan tak senang akan itu hingga membuat utas lain di lamannya sendiri.

Nin menendang-nendang hujan yang mengenai sepatunya. Bibirnya sedikit mengulas senyum. Dia hanya merasa senang melakukan hal-hal seperti ini. Merasa hidupnya sedikit normal.

Bapak sering kali benar, pikirnya. Semua kalimat pahit yang sering bapaknya umpatkan adalah manifestasi dari pengalamannya sebagai orang yang sering direndahkan dan dikhianati. Bahkan Nenek si pahit lidah itu pun, juga suka benar. Kalau bukan wejangan dan keras kepalanya menerapkan aturan patriarki dan posisi perempuan yang harus menurut standarnya, mungkin Nin tidak menjadikan semua wejangan dan umpatannya menjadi kebencian tak terhingga.

Andai begitu, pikirnya, andai mereka tidak menerapkan pengetahuan dan pengalaman mereka dengan begitu keras, apakah dia bisa bahagia dan benar-benar orang yang normal seperti setiap anak perempuan yang lahir ke dunia ini.

Lihat selengkapnya