Beberapa jam sebelumnya, saat memilih penerbangan, menelepon kafe dan mengurus beberapa hal lainnya, Nin merasa sedikit terhipnotis. Ia seolah melompati waktu yang demikian cepat sampai tak bisa menerangkan dengan detail bagaimana bisa di sini bersama orang-orang lain. Melakukan antrian, mengecek jadwal penerbangan, melakukan hal normal manusia lain biasa melakukan. Seolah entah dari mana, ada saja manusia acak yang mau menanyakan kenapa dia repot sekali melakukannya.
Bapakku telah meninggal. Bagaimana lagi, aku harus pulang ‘kan? Ia tertawa saat memikirkan jawaban itu.
Hujan baru saja turun ketika ia memasuki ruang tunggu keberangkatan. Sepertinya langit tidak pernah kehabisan stok air yang ingin ia tumpahkan. Nin merogoh tas untuk mengambil ponsel. Beberapa pemberitahuan terlihat di pop up. Pertanyaan basa basi dan template dari rekan satu kerjanya.
“Cuaca memburuk, penerbangan mungkin akan ditunda beberapa jam. Sepertinya kesialanmu sedang dimulai.” Hal-hal kecil yang mengganggu, bertahan. Laras memandangnya. “Kau tetap akan pulang.”
Nin tersenyum, ia juga memberitahukan, ia tak terlalu begitu berduka. Ia hanya tidak mau merasa berdosa membiarkan Maya terus menantinya dan menebak-nebak perasaannya secara salah.
“Maya sangat berusaha bisa menyampaikannya.” Nin menimbang-nimbang.
Nin masih tak lupa bagaimana adiknya dulu secara halus mengusirnya. Semakin memikirkan dan mengingat-ingat, Maya lebih sering melafalkan ‘lebih baik ia pergi’ daripada dirinya sendiri.
Kak Nin, apa tak sebaiknya pergi saja!
Kak Nin memutuskan tak mau menikah, ‘kan?
Tidak ada perempuan di kampung ini yang tak mau menikah. Hanya Kak Nin!
Kak Nin tidak ingin kan, semua orang tahu apa sebenarnya yang terjadi pada Nenek.
Rubah. Nin hanya tak tahu bagaimana sejak peristiwa pernikahannya yang gagal, Maya seperti menjaga jarak darinya.
Nin memejamkan matanya. Beberapa hari lalu dia menemukan pesan dalam yang difilternya. Maya mengirimkan lebih dari dua bulan lalu, dan baru dibukanya minggu kemarin. Setelah berpikir banyak, Nin memutuskan untuk pulang. Lagipula sekarang siapa yang akan mengkonfrontasi cara hidupnya sesuai keinginannya. Ia bebas. Tidak ada Bapak, tidak ada Nenek.
“Ini. Ambillah?” Laras tersenyum tulus, “Turut berduka cita, ya,” katanya lagi.
“Berapa hari kau akan pulang?”
“Entahlah. Aku belum memikirkannya …”
“Sekalian untuk upacara kematian. Tradisi empat puluh hari?”
“Bapak meninggal lebih dua bulan yang lalu.” Nin menelengkan kepalanya sebentar, sedikit merasa pusing, “Kami tidak memakai acara-acara begitu.” Waktu kematian Nenek pun mereka tidak mau memakainya sebenarnya. Keluarga Indira beserta keluarga besar mereka lainnya yang mendesak mengadakan upacara kematian. Maya. Nin tahu, gadis yang terus diingatnya sebagai gadis kecil itu, dia adalah orang yang licik.
Sebenarnya Nin juga sedikit ngeri padanya.
“Kau benar, tradisi yang menyusahkan.” Perayaan yang satu-satunya yang ia tahu terus dilakukan orang-orang atas nama tradisi. Oleh orang miskin sekalipun.
“Lagipula ini peristiwa duka, ngapain diraya-rayain gitu, kan, ya!”
“Oh apa itu?” Laras tertawa, “Kenapa ekspresimu menunjukkan kalau dia adalah orang yang berharga.” Laras sedang mengejeknya. Tentu saja.
“Aku membencinya seumur hidupku.” Nin berkata, “Tetapi mengetahui dia meninggal, aku merasa sesuatu juga tercerabut dalam diriku.” Nin tahu dengan pasti, dia tak akan menemui pria itu dalam keadaan hidup setelah pelariannya. Hanya saja, dia tetap aneh dengan perasaan kehilangan.