Dalam mimpi buruk hewan buas tercipta dari emosi murni. Kebencian mengejar di jalan-jalan raya. Ketakutan terbang rendah di lorong-lorong sempit dan kecemburuan memintal jaring-jaring lekat. Bermanuver seimbang, gagalkan lawan cetak skor tinggi pada area kemenangan, penonon bersorak, potong cepat ke jantung petualangan. Tetapi cinta ada dalam fase yang mana? (Sejarah Cinta)
Nin memandang sungai yang sedikit keruh itu sebentar lagi sebelum memutar tubuhnya. Dulu di sana hanya jembatan gantung yang lantainya terbuat dari papan. Sekarang telah berdiri jembatan rangka dengan besi bersilangan gagah.
Menghirup udara sepenuh dadanya. Dua puluh tahun. Tidak ada hal yang berarti. Ia masih mengenali rute dan semua jalan tikus tembusannya.
Dia sedikit terkejut saat mendapati rumahnya bukan lagi rumah 4x10 meter yang dapur dan ruang makannya tak pernah jadi. Rumah itu sekarang berlantai dua dengan granit warna obsidian mengkilap.
Maya, adiknya yang merombak rumah kumuh mereka menjadi sebuah rumah megah impiannya. Melebihi sepersepuluh dari rencananya dulu
Menurut keterangan yang dia kumpulkan secara tak sengaja dari beberapa orang, gadis itu menikah dengan seorang pegawai negeri yang mapan. Tentu terlihat dari hunian mereka. Lambang kemakmuran si penghuni.
Adiknya itu telah menjadi wanita terhormat dengan menikahi lelaki kaya raya dan sukses. Nin ingat dulu, pada zaman remajanya menikahi pegawai negeri yang kaya dianggap pencapaian puncak dalam rantai makanan.
Menikah umur belum 20 tahun dan kau tak perlu berpanas-panas mengolah huma dan ladang, kau adalah perempuan beruntung diletakkan pada piramida nomor tiga. Menikah meski melewati angka 20 tahun dan suamimu orang kaya, kau tetap akan di puncak piramida. Misalnya dalam hajatan, kau boleh menolak berkumpul di kumpulan ibu-ibu memasak. Kau boleh menjadi ratu bahkan melebihi si ahli rumah. Tidak ada yang akan komplain.
Ramalan Nenek dipatahkan oleh Maya. Sebuah senyum miring terlihat di sana.
Meskipun tetap juga ada suara sumbang misalnya berkata: orang yang sukses itu adalah mestinya membangun rumah sendiri bukan menempati rumah warisan. Tetapi semua juga tahu, Maya tidak memperolehnya sebab warisan. Adiknya itu membeli rumah tersebut dari Bapak dengan harga pasarannya. Merombaknya dan tetap membiarkan orang tuanya tinggal bersama dengan kesepakatan jelas yang telah ditandatangani oleh notaris. Kakak nomor tiga yang menjelaskannya. Uangnya dihabiskan oleh Bapak sendiri, tidak dibagi. Nin tak ambil pusing, dia juga tak perlu warisan itu.
Jadi ketika Nin pulang sekali ini, statusnya adalah menumpang. Tak mengapa, pikirnya dia juga akan pergi lagi.
Meskipun begitu Maya bilang dia telah membuatkan kamar khusus untukku. “Aku tahu bagaimana susahnya tak punya kamar sendiri. Jadi kalau Kak Nin pulang jangan takut, selalu ada tempat untuk Kakak di sini.”
Nin melihat adiknya itu meski dia empat tahun lebih muda, jauh lebih dewasa. Mungkin karena dia telah menjadi wanita dan Ibu. Sementara Nin dia masih sama dengan remaja 20 tahun lalu.
Nin ingin sekali tertawa. Waktu untuknya tidak bergerak. Ia masih sama saat meninggalkan rumah ini. Dia masih Nin yang sama.
Perubahan lainnya, lahan-lahan kosong sebelah-sebelah rumah mereka yang dulu hutan sekarang telah rapi berjejer rumah-rumah. Jalan-jalan kecil juga telah dilebarkan dan diaspal. Kakak kedua dan ketiga telah punya rumah sendiri meski tak semegah punya Maya. Nin lalu dikenalkan pada kakak iparnya yang tak begitu peduli pada kehadirannya.
Nin sedikit kaget ketika mengetahui Maya juga akrab dengan Indira. Tak terlalu mengherankan sih, Maya selevel dengannya sekarang.
Malam kepulangan Nin, Maya merencanakan mengundang beberapa kerabat mereka, Maya bilang hanya makan malam biasa, Nin tahu itu adalah untuk menghargai kepulangannya sekaligus memperkenalkan dirinya yang telah kembali setelah 20 tahun.
Nin belum bertemu suami Maya sebab lelaki itu sedang mengadakan perjalanan dinas, dan akan kembali esok. Tetapi tak bisa menghindari untuk melihatnya, foto besar keluarga Maya langsung terlihat begitu tiba di ruang tamu mereka.