Residu

Dimarifa Dy
Chapter #20

Chapter 19: Mereka Hewan yang Sama

Tepat Nin menamatkan sekolah SMA-nya, ibunya senang hati mengajaknya bicara.

“Nin, kau tahu, Nenek terus menyuruh Ibu pergi ke orang pintar agar kau ada yang suka. Sepertinya tirakat Ibu berhasil. Kau ada yang menyukai. Dengarlah, Nin, bahkan Ibu merasa terlalu malu mengatakan, kau tak terlalu pantas untuknya, tetapi …”

Ia ingat sekali bagaimana mata ibunya begitu berbinar. Seperti dirinya sendiri yang sedang disukai. Nin memandangnya tak tertarik. Jengkel, ibunya terus memperlakukan dirinya seolah dia adalah lajang terakhir di muka bumi ini.

“Aku tak akan menikah, Ibu,” tolaknya. Ia bosan bertengkar, jadi bulan-bulanan tetangganya. Bulan-bulanan neneknya. Terutama dia. Nin juga merasa seluruh tubuhnya selalu merinding setiap ada lelaki yang menyukainya. Perasaan jijik dan marah. Tanpa setahu ibunya, Nin melakukan hal-hal sangat kasar demi mengesankan kalau dia bukan penghamba pernikahan.

Rupa tak elok sepertinya pun tak sudi menghinakan dirinya sebagai objek penilaian menjijikkan dan semacamnya. Tubuh, seksualitas, pola pikir ataupun semua yang tidak feminin dalam dirinya. Dia telah menahan diri begitu lama untuk kemarahan-kemarahan itu. Sekarang tidak lagi. Nin bertekad.

“Nilai gadis makin habis setiap ia bertambah umur. Perempuan menanggung kehamilan dan melahirkan. Hal demikian tidak bisa ditanggung wanita berumur! Lewat dua puluh tahun kau akan segera menjadi perawan tua yang tidak akan dilihat lagi sebagai pilihan!”

Jadi dalam seluruh hidup penuh penderitaan dan cemoohan … bahkan setelah semuanya, bagi ibunya juga tak ada artinya. Dia sungguh ingin membelah otak ibunya dan melihat bagaimana cara wanita hidup dan berpikir.

“Kau tahu, Dani anak Bibi Anjam itu kan? Dia suka padamu ...”

Ia menatap Ibunya. Diketahui dari adiknya, Maya, yang sambil lalu berkata, ibu mereka suka memamerkan hal tersebut setiap ada hajatan. Ibu pendiamnya jadi mahir bicara hanya demi membicarakannya. Membuatnya sangat malu pada para tetangga. Ibunya tentu membual. Nin tak pernah mendengar langsung pernyataan sang lelaki.

“Tidak. Bahkan jika aku harus mati berkali-kali. Dalam semua kehidupan, aku tidak akan menikah!” Ia berteriak. Ia mesti menegaskan, sebelum semua orang membuatnya mati untuk ketiga kali di kampung jahanam ini.

“Tidak guna perempuan jika tak meninggalkan keturunan di muka bumi ini. Kau hanya akan jadi perempuan sialan, yang mesti dibakar habis di neraka!” Orang-orang memang suka menggunakan semua ayat dan dalil hanya untuk membenarkan pendapatnya.

Ok, ia tahu memang Ibu seperti itu.

Nin ingin meninggalkan ibunya, tak guna berdebat. Ibunya akan memakai kartu korban yang seolah dia adalah ibu terbaik di dunia. Dan Nin, gadis sialnya adalah anak paling durhaka. Penderitaannya adalah karma durhaka.

Neneknya masuk dengan tergesa, penuh cemoohan yang Nin hafal.

“Dani. Puih jangan membual kau, Menantu. Apa kau tak malu. Lihat dia, apa yang elok dari anak gadismu ini. Lihat, kau hanya akan mempermalukan marwahmu sebagai ibu kalau menjodohkannya dengan si Dani. Nin tak pantas dengan lelaki cakap itu. Dia hanya pantas dengan Husein!!” Neneknya cekakakan.

Nin membelalak. Wajahnya memerah seketika.

Gadis itu mengenal Dani adalah pemuda yang cakap, alim dan berpendidikan. Tanpa dikasih tahu sejelas itu juga Nin tahu diri, tak mungkin Dani menyukainya. Semua hal yang ada pada dirinya tak ada yang pantas untuk disandingkan dengan pemuda itu.

Tetapi, Husein …

Demi langit dan bumi, apakah Nenek memang dari lahir, tidak, apa sebelum kelahirannya, penyihir itu memang telah merencanakan penderitaannya. Husein adalah lelaki terakhir yang akan dipilih para gadis di kampung ini, jika ada kesempatan seperti itu. Nin tahu, begitulah Nenek menghabisi semua nilai dalam dirinya. Nilai yang telah dibangunnya.

“Pemuda seperti Huseinlah yang pantas untuk anak gadis sulungmu itu, Menantu.” Masih terkekeh, seolah-olah perkataan ibunya sebelumnya adalah lelucon paling lucu.

Dengan keyakinan sebelumnya, harusnya ia tidak lagi terluka ketika keningnya terus disematkan kata-kata busuk seperti itu. Tidak lagi marah oleh hinaan-hinaan yang terus dijejalkan dalam pikirannya. Bukannya ia dengan tegak telah memutuskan, dia akan menghentikan aturan biadab itu yang dibuat hanyauntuk memforsir tubuh perempuan dan mengejek mereka habis-habisan. Dia telah memutuskan, dia tak akan menikah. Nin ingin membalas dendam kepada semua orang. Dia akan menjadi pionir wanita kampung guna memilih kemerdekaannya. Benar-benar kemerdekaan mereka.

*

“Rumani tak pernah lepas dari rangking satu, demikian baru bisa dikatakan pintar.”

Lihat selengkapnya