Residu

Dimarifa Dy
Chapter #21

Chapter 20: Gedung Kusam dan Kebakaran

Gedung itu begitu kusam dibanding hotel yang berdiri megah sebelahnya. Dari sudut mana pun melihatnya tidak ada yang menarik. Sebagian orang pasti mengira gedung itu telah dihuni oleh hantu-hantu.

“Kenapa pemilik gedung tidak menjualnya saja, sih?”

“Apakah mereka berharap pada harga yang lebih tinggi?”

“Mungkin mereka akan merenovasinya menjadi sebuah ruko atau gedung yang lebih baik.”

Nin diam-diam turut memperhatikan gedung itu. Teringat pada temannya yang berisik, ia bercita-cita ingin tinggal di gedung seperti itu. “Membayangkan duduk di terasnya pada malam hari dan menikmati pemandangan kota yang berkedip-kedip muram dengan secangkir kopi yang dicampur banyak krim. Oh, melankolis.”

Nin sedikit mencibirnya dan mengatakan dalam hati bahwa pilihan dirinya lebih baik. Nin menyukai rumah kecil yang punya halaman luas, lengkap juga dengan kursi tamannya.

“Kalian tahu, pemilik ruko itu sudah meninggal lama. Si pemilik ini hanya punya anak tunggal. Dia adalah orang yang serakah. Mungkin dia sedang menunggu harga tanah lebih naik lagi baru mau menjualnya.” Salah seorang duduk kembali setelah menyelesaikan orderan.

“Dia anak yang cerdas. Bukan serakah.” Salah satu dari mereka mengoreksi ucapan temannya itu. “Aku pun kalau punya aset yang menjanjikan, yang pada masa akan laku dengan harga puluhan kali lipat, aku juga akan mempertahankan aset tersebut.”

Dibanding dua puluh tahun lalu, harga tanah daerah tersebut memang melonjak tajam, mungkin sudah jadi kesepakatan antara pemerintah dan pedagang, daerah sana dicanangkan sebagai kompleks industri. Maka berdirilah hotel-hotel berbintang, mall, kafe dan semua kebutuhan manusia modern.

Saat masih sekolah menengah, salah satu teman sekolah Nin juga tinggal di sana. Ia pernah sekali mengunjunginya. Dulu, sepanjang jalan yang ia lewati akan sama segarnya dengan daerah perbukitan dekat rumahnya. Masih banyak pohon dan rumah-rumah berhalaman luas.

Sekarang daerah itu sungguh mentereng. Kalau diminta untuk menunjukkan di mana rumah temannya itu, Nin tak akan tahu lagi. Atau rumah-rumah yang pernah ia kenal sebelumnya. Mereka lenyap dan berganti dengan mall dan kafe. Ruko-ruko yang semarak, lampu dan dekorasi berwarna. Semua berubah kecuali gedung itu.

Pesanan mereka datang bersamaan. Anak-anak belakangnya juga tidak seberisik tadi, ocehan mereka berganti dengan topik ‘rasa’ menu yang mereka order. Nin menyesap makanannya penuh perasaan, memandang gedung kusam tersebut dengan gelisah. Ia tak suka perasaan itu. Permainan tetris dalam pikirannya terlihat mengerikan.

Pemandangan yang sungguh mengganggu, noda coklat antara semua kerlip warna-warni.

Kenapa sih gedung itu tidak pernah direnovasi. Meskipun si pemilik masih mempertahankan harga, misalnya, tidak ada salahnya ruko tersebut diperbaiki. Nin mengumpat, ia benar-benar merasa terganggu. Rasa burger yang tengah ia makan jadi memualkan dan perutnya langsung penuh, ia ingin muntah sekarang.

Memandang burger yang masih setengah itu dengan benci. Kemarahannya tak tertahan lagi. Tangannya bergerak mengambil garpu dan menusuk burgernya sepenuh energi. Suasana kafe hening. Orang-orang melihatnya. Salah satu pegawai itu datang dan menghampiri.

“Kalian menjual sampah!” pekiknya.

*

“Tunggulah, kalau proyek ini berhasil. Aku akan membelikanmu gelang yang kau incar itu, Dek.” Dalam telinga Nin, suara itu begitu mesra. Kepalan tangannya mengerat.

“Alisa akan masuk SMP tahun ini, Bang. Kurasa kita mesti alokasikan ke sana dulu. Dia juga akan ikut les piano. Lisa bilang …”

Begitu, pikirnya. Pantas saja mereka bisa begitu kaya. Bagaimana rumah kumuh itu menjelma menjadi paling megah di kompleks ini. Bagaimana Maya begitu dihormati dan dikagumi, seolah Maya telah memenangkan sebuah dunia.

Nin melangkah naik ke lantai atas. Ketika berada di tengah-tengah tangga, ia berhenti. Melihat tudung saji tepat di bawah. Mengingat menu makan malam mereka habis Magrib tadi. Piring porselen, sendok garpu dan dapur yang sungguh megah seperti kepunyaan influencer yang suka bikin konten memasak. Nin merasa kepalanya pening.

Kotor. Sungguh kotor, pikirnya.

Tiba-tiba perempuan itu merasa jijik kepada seluruh tubuhnya. Dia butuh mandi sekarang. Dia ingin mandi. Nin berlari ke kamar mandinya yang mungil. Matanya nyalang.

Perempuan itu berlari, membuka pintu belakang. Waktu pukul delapan malam. Nin tak peduli. Dia butuh lubuknya sekarang. Dia butuh lubuk yang dalam untuk menenggelamkan dirinya.

*

Maya terkejut saat mendengar dari tetangga sebelah rumahnya.

“Benar, Maya, sepertinya dia kakakmu.”

Lihat selengkapnya