Residu

Dimarifa Dy
Chapter #22

Chapter 21: Suara Hati Maya

Hewan liar tak pernah membunuh untuk bersenang-senang, manusialah satu-satunya makhluk yang terhibur melihat siksaan dan kematian sesamanya.

 

Orang-orang kampung kami, memandang nyawa hanya sekadar pemutusan karma dari sebelum kelahiran. Tidak ada pertanggung-jawaban manusia atas kematian orang lain. Mereka hanya akan bertanggung jawab kepada karma mereka sendiri. Tetapi aku tahu, dari pelajaran agama di sekolah, hanya Tuhan yang berkuasa atas hidup manusia.

Kita akan mengingat banyak hal antara usia dua belas sampai dua puluh lima tahun. Aku tahu orang suka merayakan ulang tahun pada usia ke sebelas. Bagi kami tidak penting untuk ingat hari kelahiran. Orang-orang lebih suka menghitung usia kami untuk memenuhi semua garis hidup sebagai masyarakat.

Beberapa orang terus menaruh perasaan penasaran dengan sebuah rasa. Misalnya rempah dari rendang atau steak dalam salah satu restoran. Dia akan sangat puas dengan rasanya yang pembelian pertama. Saus, selada dan sirloin yang dibuat sempurna. Rasanya sungguh memuaskan. Setidaknya untuk orang yang sangat cerewet tentang rasa, dia akan sangat puas. Seperti mengisap nikotin, ia pun kecanduan. Perasaan ingin lagi itu menganggunya merencanakan merasainya lagi, sekali lagi, setiap kali. Menganggap itulah tujuan kelahirannya. Bahkan jika mesti mati berkali-kali, ia bersumpah, ia akan akan terus meletaknya sebagai hal yang utama dan pertama-tama.

Tanpa mesti mengkhawatirkan angin yang berebut dan berbisik: hidup tak sebaik itu, tidak sepemurah itu. Suara yang datang dalam kegelapan, berharap bisa tercerahkan dari kemungkinan-kemungkinan. Baik yang mencoba tersirat atau pun tidak. Bagaimana hidup menjadi begitu keparat dengan segala sesuatu yang tak bisa kita bayangkan dan pikirkan? Pada akhirnya kita mesti menerimanya sebagai nasib buruk!

*

Entah kenapa aku terus mendengar suara tangisan itu. Pertama ialah suara tangisannya. Ibuku. Kedua adalah tangisan dia, kakak perempuanku. Panutanku, pujaanku. Sebelum tahu betapa berbedanya kami. Bagaimana aku terus melihat Ibu terus menerus bertengkar dengannya.

“Aku pakai baju yang mana, Ibu?”

Melihatnya menghapuskan semua warna di wajahnya. Kakak menangis sambil menggelengkan kepalanya. Aku mengingat pastel tadi yang diberi oleh Makcik Nur, “Untuk Kakak,” kataku. Kak Nin melihatnya. Matanya berbinar senang. Aku juga senang, Kak Nin menghentikan tangisnya

“Berdagang saja di sana, rumah orang kaya!” Kak Nin memelukku erat. Tangannya gemetar. “Di sini semua orang miskin.” Aku menyembunyikan tangisku kuat-kuat. Aku sungguh tidak tahu kalau Bapak bisa berteriak semenggelegar itu.

Aku tidak tahu, kenapa aku merasakan dia adalah canduku.

Ketika masuk sekolah pertama kali, ketika kami pindah ke pemukiman baru, tetapi Kak Nin menjauhkan dirinya. Setiap subuh kami mesti ke sungai, Ibu menggendongku. Kak Nin terus berlari, seolah tak ingin didahului oleh kami. Kak Nin juga tak pernah mau bersama-sama Kakak kedua dan Kakak ketiga saat berangkat sekolah.

Aku selalu diantar Ibu dan dijemput oleh Kakak kedua. Saat sampai di rumah Kak Nin juga telah menghilang. Kak Nin terus menghindar dan mencegahku untuk mengikutinya. Aku terus mengikutinya. Aku tahu dia suka mandi di lubuk. Kak Nin telah mahir berenang.

Kak Nin juga selalu main di rumah Makcik Salma. Ketika memergokinya, dia memberiku uang dan permen. Kak Nin tetap tak mau mengajakku

*

Hari itu, aku merasa mendapatkan sosoknya kembali. Bapak membuatkan kami kamar baru. Bapak beralasan Kak Nin telah menjadi gadis SMP. Aku melihat senyum lebarnya lagi. Aku juga senang Bapak menyuruhku tidur bersama Kak Nin. Kak Nin terus tersenyum lebar.

“Kenapa nekad ke sumur itu, Kak?” Kak Nin menangis, tubuhnya panas. Tetapi Ibu dengan tega memukulnya. Aku memberinya permen. Aku tahu dia terpukul karena meninggalnya Makcik Salma. Katanya, rasanya lebih menyakitkan daripada ketika Makcik Nur pindah.

Malam itu aku mulai mendengar Kak Nin mengigau. Ia terus mengigau. Aku sering terbangun melihatnya menggigil seperti orang demam.

“Kak Nin mimpi apa?” Kak Nin jarang mau menjawab pertanyaanku. Mungkin dianggapnya aku masih terlalu kecil untuk tahu perkara igauannya. Atau mimpi-mimpinya.

Tahun kedua setelah Makcik meninggal. Kak Nin berkata padaku.

“Adik, kemarin Bapak dan Ibu bertengkar, Adik tahu sebabnya?” Aku mengangguk. “Kakak kedua ingin meminta uang untuk biaya kelulusan. Bapak nggak mau ngasih, Ibu marah, bilang Bapak berbohong saat bilang tak punya uang.”

“Terus kenapa Ibu beresin baju Adik?” Aku menatapnya dengan mata yang polos.

“Ibu bilang kita akan pergi hari ini.” Aku melihat Kak Nin membuka lemari plastik kami.

Ia meneliti lipatan baju kami dan terbengong lama, “Ibu tak mau ngajak Kak Nin.” Ia bangun dari duduknya, kemudian melangkah keluar dari kamar.

“Kak Nin mau kemana?”

“Kakak mau ke sungai. Jangan ikutin Kak Nin.” Aku hanya melihatnya. Tak lama Kak Nin kembali. Aku cukup senang kukira Kak Nin mau mengajakku juga.

“Maya, kalau Ibu mengajakmu pergi. Pergi saja sama Ibu.”

Hari itu hampir seharian Kak Nin tak pulang ke rumah. Untunglah di rumah juga ada Pak RT yang memang kerap berkunjung. Ibu tak jadi mengajakku pergi. Aku ingin ke sungai dan memberitahu Kak Nin, tapi tak menemukannya.

Kak Nin pulang Maghrib. Bapak tak memarahinya, aku lega.

Kak Nin bilang dia punya tempat yang nyaman untuk kabur. Pondok di lereng bukit.

*

Hidup kami agak tenang setelah kejadian itu. Bapak dan Ibu jarang bertengkar lagi. Kakak kedua ikut perpisahan kelasnya dengan uang tabungan Ibu.

Ketika aku kelas lima SD dan Kak Nin kelas tiga SMP, Kak Nin sedikit berubah. Wajahnya sedikit lebih ceria. Dia berhasil membeli sepeda bekas dari hasil menabungnya. Mungkin itu sebabnya dia juga menjadi lebih ceria. Aku iri melihatnya. Diam-diam Kak Nin suka ke perpustakaan kota dan meminjam buku. Atau ke tempat sewa buku dan komik lainnya. Kadang-kadang aku juga ikut membaca buku yang dipinjam Kak Nin.

Lihat selengkapnya