Residu

Dimarifa Dy
Chapter #23

Epilog

Ibu terus memandang pada jalan raya yang sepi. Beberapa truk besar muatan penuh lewat dengan kecepatan tinggi. Menghitung-hitung orang yang mau melempar koin permintaan. Ujung jalan itu ada muara tiga sungai yang dipercayai sebagai keramat orang-orang yang berkepentingan. Sebuah jalan berkerikil dan panjang, kau terbirit-birit menyamai langkahnya yang cepat-cepat itu!

 

Apa ya, rasanya disayangi oleh seseorang? Adik ayo kita lempar koin, Kak Nin hanya ingin meminta Ibu sebenarnya menyayangi Kak Nin.

 

Sungai itu berubah warna, debit airnya juga semakin tinggi. Batu-batu sebagai titian tadi hancur berantakan dibawa arus. Kalian terus melihat Bapak dari seberang, terus berteriak memanggil. Sungai yang biasanya ramah itu berubah begitu murka. Kau menyaksikan Kakak pertama terapung-apung menyedihkan dalam air yang meluap. Sungai itu dengan segera menelan tubuh kecilnya. Bapak menonton kalian. Saat kembali, kau melihatnya seperti seorang tua yang penuh penderitaan, yang setiap sore menjahit jala yang rusak.

 

Lihat selengkapnya