Resign

Ooza
Chapter #1

Ujung Batas

Aku sudah tahu dari awal, aku tidak akan selamanya bekerja di sini. Bukan karena gajinya terlalu kecil. Bukan juga karena aku tidak mampu.

Hanya saja, entah kenapa, setiap kali memulai sesuatu, aku selalu lebih dulu memikirkan kapan aku akan pergi. Hari ini, pikiran itu datang lagi.


Aku duduk di kursi kayu yang keras, di sudut ruangan yang terlalu bising untuk disebut tempat istirahat. Mesin-mesin masih terdengar dari luar, berdengung tanpa henti, seperti tidak pernah lelah. Seperti tidak pernah diberi pilihan untuk berhenti.

Di tanganku, ada kertas yang sudah terlipat beberapa kali. Surat resign. Aku menatapnya lama, seolah-olah dengan begitu isinya akan berubah. Seolah-olah akan muncul alasan baru yang cukup kuat untuk membuatku berdiri, berjalan ke ruangan atasan, lalu menyerahkannya tanpa ragu. Tapi tidak ada yang berubah. Tulisan itu tetap sama. Namaku tetap tertulis di bawahnya. Dan alasan yang kutulis terasa terlalu sederhana untuk semua yang sebenarnya terjadi.

Aku menghembuskan napas pelan, “Aku capek.”

Kalimat itu bahkan tidak kutulis di sana. Padahal mungkin itu satu-satunya alasan yang benar.

Di meja lain, seseorang tertawa. Keras. Ringan. Seolah hidup tidak pernah benar-benar menekan siapa pun sampai ke titik ini. Aku menunduk. Lucu juga, ya. Dari semua tempat yang pernah kudatangi, dari semua pekerjaan yang pernah kucoba, ujungnya selalu sama: aku duduk sendiri, memikirkan cara untuk pergi.


Langkah kaki terdengar mendekat. Aku cepat-cepat melipat kertas itu lagi, memasukkannya ke dalam tas, seperti menyembunyikan sesuatu yang tidak seharusnya terlihat.

“Ran, nanti kamu lanjut di bagian belakang, ya. Tadi kurang orang.”

Aku mengangguk tanpa benar-benar melihat wajah yang bicara.

“Iya.”

Selalu begitu. Aku selalu bilang iya, bahkan ketika di dalam kepala, aku sudah setengah pergi.


Di kejauhan tampak Asih datang membawa keresek berisi hasil buruannya di luar sana. Begitu pandangan kami bertemu, senyum manis langsung merekah di wajahnya. Langkahnya semakin cepat berjalan kearahku.

Asih meletakkan buruannya ke atas meja, lalu duduk di sebelahku, "Eh, Mbak Rania. Wes ket mau po?¹" dia menatapku sekilas.

Lalu tangannya mulai mengeluarkan sebungkus bakso tusuk yang masih panas. Kemudian dia menusuk permukaan gelas es teh dengan sedotan. Menyesapnya sedikit, dan beralih padaku.

"Ora, nembe hae og.²" jawabku singkat. Aku juga mulai menggigit ujung plastik batagor milikku yang mulai dingin.


Lihat selengkapnya