Resonansi

Suci Asdhan
Chapter #1

Sertifikat di Atas Meja

Rumah itu tidak benar-benar mati; ia hanya sedang menahan napas.

Laras berdiri di ambang pintu jati yang warnanya telah memudar menjadi abu-abu pucat, seperti kulit orang tua yang kekurangan asupan matahari. Bau udara di dalamnya adalah campuran antara debu yang menghuni sudut plafon, rayap yang berpesta di balik rangka kayu, dan sesuatu yang lebih tajam—bau sisa-sisa kehidupan yang dipaksa berhenti. Di tangannya, selembar sertifikat tanah yang tepinya sudah menguning terasa seberat bongkahan marmer.

Sudah dua puluh tahun ia bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki di lantai tegel kunci bermotif bunga ini lagi. Baginya, Bandung adalah fragmen memori yang seharusnya terkubur di bawah aspal jalanan yang sibuk, bukan sebuah tujuan untuk pulang. Namun, hidup selalu punya cara yang sinis untuk menarik seseorang kembali ke titik nol, tepat saat mereka merasa sudah cukup jauh melangkah.

"Strukturnya masih cukup kokoh untuk bangunan seusianya," suara Bram memecah keheningan yang padat.

Pria itu berdiri beberapa langkah di belakang Laras, memegang tablet digital yang memetakan denah rumah tersebut. Bram adalah kontraktor muda yang direkomendasikan teman kantor Laras—pria dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, terlihat praktis dan tidak banyak bicara. Tipe orang yang melihat sebuah bangunan hanya sebagai susunan beton, kayu, dan potensi keuntungan.

"Tapi betonnya mulai mengalami spalling (1) di beberapa titik," lanjut Bram sambil mengetuk-ngetuk dinding ruang tamu dengan pangkal telapak tangannya. Suara ketukan itu menggema, kosong dan hampa. "Kelembapan di Bandung cukup tinggi, apalagi rumah ini dibiarkan tertutup selama dua dekade tanpa sirkulasi. Kalau Anda setuju, penghancuran bisa kita mulai bulan depan setelah pengosongan selesai."

Laras tidak segera menjawab. Matanya tertuju pada sebuah retakan halus di dinding ruang tamu, memanjang dari langit-langit hingga ke lantai seperti bekas luka operasi yang gagal disembunyikan. Dinding itu berwarna krem kusam, penuh noda rembesan air yang membentuk pola abstrak menyerupai wajah-wajah yang sedang menangis.

"Penghancuran," bisik Laras pelan. Kata itu terasa ganjil di lidahnya. "Kedengarannya sangat ..., final."

"Ini pilihan yang paling rasional, Mbak Laras," Bram melangkah maju, berdiri di sampingnya. "Biaya renovasi rumah kolonial seperti ini akan jauh lebih mahal daripada membangun rumah minimalis baru yang lebih efisien. Lagipula, kawasan ini sudah menjadi area komersial. Nilai tanahnya jauh lebih berharga tanpa bangunan tua yang 'sakit' ini di atasnya."

Laras mengangguk kecil, meski hatinya terasa seperti diremas. Ia adalah seorang kurator museum. Pekerjaannya sehari-hari adalah mengawetkan masa lalu, memastikan setiap artefak tetap abadi dalam etalase kaca yang steril. Namun di sini, di depan artefak hidup miliknya sendiri, ia justru bertindak sebagai algojo.

Ia melangkah masuk lebih dalam ke ruang tamu. Setiap langkahnya menimbulkan derit kayu yang ganjil, seolah lantai itu sedang mencoba memprotes kehadirannya. Cahaya matahari sore yang masuk lewat jendela kaca patri menciptakan siluet oranye yang panjang di atas lantai yang berdebu.

Laras berhenti di depan sebuah meja kayu bundar di tengah ruangan. Di sana, selembar taplak meja berbahan renda yang sudah menghitam karena jamur masih tergeletak, menempel pada permukaan kayu seolah ia tak pernah dilepaskan selama dua puluh tahun. Laras bisa membayangkan ibunya dulu sering meletakkan vas bunga sedap malam di sana—bunga yang baunya selalu mengingatkan Laras pada kesunyian yang mencekam.

"Anda ingin melihat kamar-kamarnya?" tanya Bram.

"Nanti saja," jawab Laras cepat. Ia belum siap melihat kamar ayahnya. Ia belum siap menghadapi sisa-sisa aroma obat-obatan dan kegilaan yang memenuhi ruangan itu di tahun-tahun terakhir hidup Dokter Surya.

Lihat selengkapnya