Resonansi

Suci Asdhan
Chapter #2

Kotak Hitam Dokter Surya

Debu adalah penjaga rahasia yang paling setia. Ia menyelimuti segala sesuatu dengan lapisan abu-abu tipis, membungkam sudut-sudut tajam memori, dan membuat waktu seolah berhenti berputar.

Laras berdiri di depan pintu kayu jati dengan ukiran sulur yang sudah retak-retak. Di atas pintu itu, sebuah papan nama kuningan kecil masih menempel, meski warnanya sudah menghitam: dr. Surya Adiwangsa. Ayahnya. Sosok yang selama dua puluh tahun ini Laras coba hapus dari peta identitasnya, tetapi kini justru memanggilnya kembali lewat getaran dinding yang mustahil.

Kunci tua di tangan Laras terasa dingin. Saat ia memasukkannya ke dalam lubang kunci, suara gerigi logam yang beradu terdengar seperti jeritan kecil yang tercekik. Pintu itu terbuka dengan derit panjang, melepaskan aroma apak yang khas—perpaduan antara kertas tua, cairan antiseptik yang sudah menguap, dan bau tanah lembap.

Ruangan ini adalah ruang terlarang. Semasa kecil, Laras hanya boleh mengintip dari ambang pintu. Ia ingat ayahnya sering duduk di balik meja besar itu, punggungnya melengkung, wajahnya tersembunyi di balik tumpukan jurnal medis dan buku-buku tebal tentang neurologi. Namun, ingatan Laras yang paling tajam adalah saat ayahnya berhenti menulis, meletakkan pulpennya, dan menempelkan telinga ke dinding ruangan ini dengan ekspresi wajah yang haus, seperti ia sedang mencoba meneguk setiap suara yang tidak bisa didengar orang lain.

Laras melangkah masuk. Cahaya sore yang tembus lewat celah ventilasi menyinari partikel debu yang menari-nari di udara. Ruangan itu persis seperti saat ayahnya meninggalkannya. Meja kerja yang berantakan, lemari buku yang penuh sesak, dan sebuah ranjang periksa pasien di sudut ruangan yang kulit sintetisnya sudah mengelupas.

"Apa yang sebenarnya Papa cari di sini?" bisik Laras yang disambut oleh senyap dan kekosongan.

Perempuan itu mulai membongkar laci meja kerja. Lembar-lembar resep kosong, stempel dokter yang sudah kering tintanya, dan tumpukan kliping koran lama tentang kasus-kasus amnesia traumatik. Laras terus menggali hingga tangannya menyentuh sesuatu yang keras di laci paling bawah. Sebuah kotak kayu hitam dengan pengunci kuningan.

Kotak itu tidak dikunci. Saat Laras membukanya, ia berharap menemukan sesuatu yang sentimental, seperti foto ibu atau surat-surat lama. Namun, di dalamnya hanya ada sebuah stetoskop.

Laras mengerutkan dahi. Ia mengambil alat medis itu. Benda ini bukan stetoskop biasa yang sering dikalungkan ayahnya di leher saat praktik. Kabel karetnya telah diganti dengan kabel tembaga yang dibungkus serat kain tebal. Bagian chestpiece-nya—lempengan logam yang biasanya ditempelkan ke dada pasien—telah dimodifikasi secara ekstrem.

Logam bulat itu kini terbungkus oleh cangkang plastik tambahan yang dirangkai secara manual. Di sisinya, ada sakelar kecil dan sebuah lampu LED merah yang mati. Ada kabel kecil yang menghubungkannya ke sebuah kotak sirkuit mungil yang direkatkan di bagian pangkal kabel.

Laras, yang terbiasa menangani artefak sejarah di museum, tahu bahwa ini adalah hasil rakitan tangan yang obsesif. Ia mengenali beberapa komponen elektronik di sana.

"Transduser piezoelektrik (1)?" gumamnya.

Seingat Laras, ia pernah membaca tentang sensor ini. Laras juga teringat pelajaran fisika dasarnya; kristal kuarsa dalam semen itu bersifat piezoelektrik. Kristal itu bukan sekadar batu, melainkan sakelar alami yang bisa menyimpan detak suara jika ditekan oleh emosi yang cukup hebat

Piezoelektrik adalah kristal yang bisa mengubah tekanan mekanis—seperti getaran atau suara—menjadi sinyal listrik. Ayahnya telah mengubah stetoskop medis ini menjadi sebuah mikrofon kontak yang sangat sensitif. Sebuah alat untuk menangkap getaran frekuensi rendah dari benda padat.

Logikanya sebagai kurator mulai bekerja. Jika semen rumah ini mengandung kuarsa—seperti yang ia curigai—maka mineral tersebut secara alami bersifat piezoelektrik. Ayahnya tidak sedang mencoba mendengar hantu. Ayahnya sedang berusaha membedah rekaman suara yang terjebak di dalam molekul dinding ini.

"Papa benar-benar gila," desis Laras, tetapi tangannya bergetar.

Ia menemukan sebuah baterai kotak 9 volt di dalam kotak kayu itu dan memasangnya ke sirkuit kecil tersebut. Lampu LED merah itu berkedip sekali, lalu menyala redup. Sebuah dengungan statis halus terdengar dari bagian earpiece.

Lihat selengkapnya